Desain Lingkungan Pro Pejalan Kaki

Oleh: Kencana Sari

Peneliti Balitbangkes, Kemenkes

Banyak cara untuk berolahraga dengan cara mudah dan murah. Berjalan kaki umpamanya. Sayangnya lingkungan yang ada disekitar kita, apalagi di daerah perkotaan, sangat membatasi diri untuk dapat berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Patut diingat bahwa kualitas hidup manusia bergantung pada lingkungan dimana dia tumbuh dan berkembang.

Minimnya trotoar yang layak menjadi salah satu faktor di lingkungan yang menghambat hidup aktif. Belum lagi polusi dan risiko yang timbul akibat padatnya kendaraan yang lalu lalang. Seringkali para pengendara menyerobot area pejalan kaki terlebih bila macet merajalela. Pejalan kaki dirugikan karenanya. Miris melihat anak-anak sekolah yang berjalan di pinggir jalan raya yang penuh debu dan polusi serta kendaraan yang berkecepatan tinggi. Seolah nyawa tak perlu dilindungi.

Di AS yang notabene kondisi pedestriannya jauh lebih baik, tercatat ada 15 persen kematian pada pejalan kaki dari seluruh kematian akibat kecelakaan pada tahun 2012. Dalam laporan “Dangerous by Design” yang diterbitkan baru-baru ini oleh Smart Growth America dan National Complete Streets Coalition memuat informasi tersebut juga menggambarkan bahwa anak dan lansia merupakankelompok paling rawan sebagai korban kecelakaan pejalan kaki. Di Indonesia angkanya lebih dari dua puluh persen korban kecelakaan lalu lintas adalah pejalan kaki.

Hal menggembirakan di beberapa daerah sudah dibuka bike line dan pedestrian yang lebih memadai dibanding sebelumnya Untuk dapat hidup aktif harus didukung oleh lingkungan yang walkable. Pengembangan lingkungan yang walkable harusnya tetaplah tumbuh. Paling tidak bisa diutamakan terlebih dahulu pada area sekolah, rumah sakit, perkantoran, taman kota, pusat perbelanjaan, restoran sepanjang 500-750m dari tempat tersebut. Pembuatan dan penegakan peraturan tentang penyediaan trotoar dengan ketentuan tertentu perlu diwujudkan. Memberi hak kepada setiap warga negara sebagai pembayar pajak.

Desain lingkungan dan jalan yang baik merupakan salah satu penentu keselamatan pejalan kaki. Seharusnya semua jalan yang ada didesain komplit atau sepaket, yaitu jalan untuk kendaraan bermotor, jalan untuk sepeda, dan trotoar untuk pejalan kaki. Jalanan yang ada juga seharusnya didesain ramah terhadap lansia dan orang dengan disabilitas.

Contoh saja Boston, Amerika Serikat. Kota ini mempromosikan program Complete Street, yang bertujuan untuk memjamin penduduk bermobilisasi dengan aman dan nyaman serta terhubung dengan jaringan transportasi. Memang Butuh komitmen pemerintah setempat dan penegak hukum agar sinergis agar tercipta lalu lintas yang aman terutama untuk para pengguna trotoar.

Untuk anak sekolah bisa diciptakan program Rute Sehat ke Sekolah. Lewat program ini anak terjamin berjalan ke sekolah dengan aman meskipun tanpa pendampingan orang dewasa. Pemerintah selanjutnya harus memperkuat jalur transportasi umum mengurangi jumlah pengendara bermotor.

Partisipasi masyarakat pun diharuskan untuk melindungi para pengguna trotoar terutama anak dan lansia. Bagaimana carannya masyarakat bisa berkontribusi membuat lalu lintas dan trotoar terhindar dari kecelakaan? Salah satunya adalah dengan mengurangi kecepatan berkendara. Laporan Dangerous by Design menunjukkan bahwa kematian pejalan kaki lebih banyak terjadi pada kecelakaan yang melibatatkan kendaraan melaju melebihi batas 40km/jam.

Related posts