PRJ, JFK, dan JGS 2014

Untuk mengakomodasi di kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa ikut berpesta menyambut ulang tahun kota Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengembalikan perayaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dari Kemayoran ke lapangan Monumen Nasional (Monas). Lalu, bagaimana dengan PRJ yang selama ini digelar di sejumlah hall yang dikelola PT Jakarta International Expo (JIExpo)?

Keduanya beda segmen. PRJ diperuntukkan bagi masyarakar kelas menengah ke bawah. Datang ke arena PRJ, gratis. Barang dan jasa yang digelar pun dengan harga yang terjangkau. Sedangkan, pihak JIExpo tetap menggelar ’PRJ’ dengn kemasan sama, tapi baju berbeda, yaitu Jakarta Fair Kemayoran (JFK). Segmennya untuk menengah ke atas. Untuk masuk ke arena JFF, pengunjung harus membayar Rp 25 ribu pada hari biasa dan Rp 30 ribu di akhir pekan. Khusus hari Senin, harga tiket Rp 20 ribu per orang.

Selain segmen yang berbeda, waktu penyelenggaaannya juga berbeda. PRJ di Monas hanya enam hari, yaitu pada 10-15 Juni 2014. Namanya juga sepekan. “Jadi ya diadakan hanya sepekan,” kata Direktur Pemasaran JIExpo Ralph Scheunemann.

Pertama kali PRJ diadakan pada 5 Juni – 20 Juli 1968 oleh Presiden Soeharto di halaman Monas. PRJ juga disebut Djakarta Fair (DF). Setelah ejaan Bahasa Indonesia disempurnakan, menjadi Jakarta Fair (JF). Tiap tahun selalu diadakan tak pernah terputus.

Ide awalnya muncul dari Ketua Kadin Syamsudin Mangan. PRJ diusulkan sebagai ajang untuk mempromosikan produk dalam negeri. Gagasan itu disambut Gubernur DKI Ali Sadikin, ketika itu.

Belakangan, saat PRJ ditangani oleh PT JIExpo dan dipindahkan ke Kemayoran, rohnya pun berubah. PRJ di tangan JIExpo menjadi berbau tidak lagi kerakyatan, tapi lebih berwajah mewah. Menampilkan merek-merek ke sehor di dunia, industri besar, baik asing maupun lokal.

Kerak telor yang menjadi makanan khas Betawi pun terpinggir. Hanya mendapat tempat di emper atau pinggir pagar karena tak mampu bayar sewa tempat.

Sebaliknya, begitu besarnya arena, jumlah peserta, dan lamanya waktu penyelenggaraan, Jakarta Fair Kemayoran (JFK) bahkan dikategorikan berskala internasional. Selain melibatkan kalangan BUMN, industri besar nasional lainnya, pemerintah daerah, panitia juga menghadirkan peserta dari negara lain.

Tahun ini, JFK diikuti 2.650 perusahaan, 1,300 stand pameran yang berasal dari 33 provinsi, 177 stand pemerintah kota dan kabupaten, kalangan BUMN, kementerian. Kalangan kementerian itulah yang menghadirkan puluhan usaha binaan industri kecil.

Pesta yang bisa dinikmati warga Jakarta dan sekitarnya tidak hanya PRJ dan JFK saja, tapi juga Jakarta Great Sale Festival (JGSF). Diadakan sebulan penuh., bahkan lebih, yaitu sejak 7 Juni hingga 19 Juli 2014. Ellen Hidayat, ketua Panitia Penyelenggara JGSF 2014, menjelaskan, kegiatan itu merupakan pesta diskon besar-besaran, karena mencapai 70%. Pesta diikuti oleh seluruh pusat perbelanjaan atau mal yang ada di Jakarta.

“Kami targetkan omzet penjualan tahun ini mencapai Rp 11,8 triliun atau tumbuh sekitar 15% dari tahun lalu,” kata Ellen, yang juga ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta, saat pembukaan JGSF di Emperium Pluit Mall.

Ada dua yang bisa dinikmati masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Yaitu, para pengusaha termasuk yang berskala UKM, berharap produk yang diperdagangkannya diminati dan laku keras. Sebaliknya, pengunjung mal-mal dapat menikmati harga dengan diskon gila-gilaan.

Pertanyaannya adalah, apakah program promosi wisata tahunan DKI Jakarta ini mampu menyedot sebanyak-banyaknya wisatawan nusantara dan wisatawan asing? Bandingkan dengan kegiatan serupa yang diadakan di negeri jiran, yaitu Singapore Great Sale (SGS). Tolok ukurnya setidaknya dua, yatu omzet penjualan dan jumlah pengunjung. Jadi mana yang lebih sukses? (saksono)

Related posts