Bakrie Telecom Rencanakan Perpanjang Waktu - Bayar Utang Senilai US$ 380 Juta

NERACA

Jakarta – Meskipun sepanjang kuartal pertama tahun ini, kinerja keuangan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 210,7 miliar atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang merugi Rp 97,5 miliar. Namun beban utang perseroan masih belum teratasi, lantaran masih menyisakan utyang sebesar US$ 380 juta.

Ambisi perseroan untuk melunasi utang terus dilakukan berbagai cara agar tidak menghambat pertumbuhan bisnis kedepan. Tak ayal perseroan memiliki opsi untuk melunasi utang dengan kreditur, termasuk rencana perpanjangan masa jatuh tempo dan penundaan pembayaran bunga obligasi dalam kurun waktu tertentu. "Kami masih melakukan pembahasan mengenai jangka waktunya,”kata Direktur dan Chief Operating Officer PT Bakrie Telecom Tbk, Imanuddin Kencana Putra di Jakarta, Rabu (17/6).

Perseroan menanggung utang dalam bentuk wesel senior berdenominasi dollar AS seniai US$ 380 juta. Surat utang ini memiliki bunga 11,5% per tahun dan jatuh tempo 7 Mei 2015. Tercatat, perseroan telah menunggak pembayaran cicilan bunga sejak 7 November 2013. Berarti, BTEL telah mangkir terhadap kewajiban pembayaran bunga dua kali. Pada 7 November 2013 dan 7 Mei 2014.

Oleh karena itu, Imanuddin berharap, keputusan sudah diambil sebelum pembayaran kupon selanjutnya, yakni 7 November 2014. Akibat tunggakan tersebut, lembaga pemeringkat, Fitch Ratings memangkas peringkat BTEL dari level C ke level restricted default (RD).

Menurut Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk, Jastiro Abi, penurunan peringkat itu tidak mempengaruhi proses pembicaraan dengan para kreditur obligasi,”Penurunan peringkat itu membatasi aksi korporasi, seperti merger dan akuisisi, tapi kami memang tidak ada rencana itu," kata dia.

Dalam meningkatkan kinerja keuangannya, perseroan telah menunjuk FTI consulting sebagai financial advisor untuk melakukan penelaahan bisnis dan keuangan. Kemudian, BTEL dan para pemegang obligasi membentuk steering committee untuk membahas reprofiling utang obligasi. Namun, hingga saat ini, perundingan dengan bond holder tak kunjung selesai.

Tahun ini, perseroan menargetkan pertambahan pelanggan sebanyak satu juta menjadi 13 juta pelanggan atau tumbuh dari tahun sebelumnya sebanyak 12 juta pelanggan. Kata Jastiro Abi, meskipun pasar telekomunikasi berjaringan CDMA semakin tergerus dengan pasar GSM, perseroan tetap optimistis akan tumbuh, dengan meluncurkan terobosan program baru,”Kita tetap akan mempertahankan tradisional telekomunikasi kita, namun kita juga memperjuangkan untuk tumbuh, salah satunya dengan OTT (layanan 'Over the Top')," ujarnya.

Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan berhasil membukukan laba karena ditopang bertambahnya pelanggan Esia. Tercatat pada kuartal I-2014, pelanggan Esia tercatat 12,258 juta, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 11,651 juta pelanggan. Selain itu, perseroan juga menganggarkan belanja modal (capital expenditure/Capex) sebesar US$ 25 juta hingga US$ 30 juta atau setara dengan Rp324,1 miliar. Sampai dengan semester pertama, belanja modal sudah terserap US$ 17,5 juta, salah satunya untuk layanan OTT. (bani)

Related posts