Aktivitas Bisnis Pemacu Andrenalin - Sarah Susanty, Direktur Marketing PT. Resolusi Mandiri Indonesia

Ketika hormon adrenalin mengalir deras dan menjalar ke seluruh tubuh, maka frekuensi detak jantung, kucuran keringat, dan keterkejutan spontan seolah melebur jadi satu. Uniknya, pemicu adrenalin kali ini bukan akibat dari kegiatan di ketinggian atau permainan ekstrem, melainkan sebuah aktivitas bisnis.

Sarah, begitu ia akrab disapa, tidak hanya punya senyum yang menawan. Perempuan berkulit putih dengan rambut panjang terurai ini juga memiliki gaya tutur yang mengesankan, bahkan terkadang membius lawan bicaranya. Penampilannya yang modis dan terawat jelas menunjukkan dimana kelasnya. Namun, jika baru pertama kali ketemu Sarah, orang bakal menyangka usianya tak lebih dari 25 tahun.

Di kantonya yang sejuk di bilangan Jakarta Selatan, Sarah Susanty—demikian nama lengkapnya, berkisah banyak tentang bisnis event organizer (EO) yang telah ia geluti sejak 2008. Bareng dua temannya semasa duduk di bangku kuliah, Sarah mendirikan PT. Resolusi Mandiri Indonesia. Lewat tangannya yang mungil, perempuan cantik lulusan S-2 dari Lansbridge University ini seperti ingin mengabarkan kepada kaum adam bahwa perempuan juga tak kalah lihai dalam urusan bisnis.

Kecuali berstatus sebagai pemilik perusahaan, Sarah merupakan Komisaris Utama perseroan sekaligus didapuk jadi Direktur Marketing. Lantaran berada di posisi strategis itulah, ibu dua anak ini kerap terlihat super sibuk, pun tak jarang harus terbang keluar kota untuk beberapa hari. Bahkan, seringkali dia terlihat tampil paling menawan di antara sesaknya para pria pada saat kunjungan lokasi di bawah siraman panas terik mentari.

Kombinasi sebagai bos profesional dan praktisi lapangan acapkali membuat adrenalin Sarah terpacu. Tidak sedikit, sebutnya, klien yang tiba-tiba komplain masalah desain, dekorasi atau aksesoris hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan event. “Ada klien yang besok pagi sudah berlangsung event, malamnya masih komplain masalah dekorasi atau cetakan. Ada karena salah tanggal, salah tahun, atau salah tema. Yang seperti itu memacu adrenalin kita,” ucap Sarah saat berbicang santai dengan Neraca di ruang kerjanya.

Untungnya, ujar Sarah, di Jakarta, banyak penyedia jasa printing yang buka 24 jam. Sehingga problem-problem mendesak bisa diselesaikan dengan cepat. Prinsipnya, perusahaan EO sebagaimana ia jalani, harus profesional dan memiliki jiwa seni untuk memuaskan klien. Seberapa pun ribet dan mendesak permintaan mereka, ia harus sedapat mungkin mewujudkannya. Betapapun Sarah mesti memeras adrenalin dalam tubuhnya. “Selalu kita bilang bisa. Buat apa mereka pakai EO, kalau kita memberikan mereka keribetan. Itulah gunanya mereka menunjuk EO,” terangnya.

Biar pun profesinya begitu menyita energi, Sarah mengaku sangat menikmatinya. Keringat dan peluh yang mengucur deras dari pori-porinya serasa impas jika event yang ia garap bisa berlangsung sukses. “Begitu selesai, event-nya lancar, terus klien puas, itu yang membuat kita seperti habis naik kora-kora, puas banget bisa melewatinya,” ungkap Sarah.

Berawal dari Event Cantik

Perjalanan bisnis Sarah memang tidak selalu semulus parasnya. Apalagi pada tahun pertama ia membangun usaha. Acapkali Sarah mesti berpikir keras dan bertindak cepat guna menjemput kepercayaan klien. Dari sisi internal korporasi, Sarah juga harus melakukan harmonisasi antar sesama pemilik perusahaan yang tidak lain adalah teman-teman dekatnya sendiri. “Tahun pertama, banyak banget gonjang-gonjangnya. Dari berteman lalu menjadi rekan bisnis, beda banget ya,” kata Sarah.

Penyesuaian demi penyesuaian akhirnya kian tertata oleh waktu. Semakin lama, harmoni itu terjalin. Pada gilirannya Sarah tidak hanya tambah enjoy dengan pekerjaan ini, namun juga lebih fokus sehingga proyek-proyek EO banyak berdatangan. Di awal-awal, perusahaan Sarah memang fokus pada apa yang ia sebut sebagai event-event cantik seperti gathering, ulang tahun perusahaan, dan launching produk. Klien-klien dari pihak swasta banyak berdatangan dari sektor perbankan.

Lantaran ambisi dan gairah yang mendidih, Sarah dan direksi lain merasa perlu melebarkan sayap untuk membidik proyek EO dari pemerintah. Pada urutannya, ia mengaku lebih fokus menggarap proyek yang berasal dari para birokrat. Karena, Sarah memberi alasan, selain pagu anggarannya sudah jelas ada di APBN atau APBD, frekuensi proyek pemerintah sangat banyak sehingga lebih menjanjikan keberlangsungan. “Baru istirahat satu event, sudah ada event yang lain,” imbuhnya.

Kendati demikian, dari sisi besaran anggaran, sejatinya perusahaan yang Sarah pimpin tidak pernah pilih-pilih. Selain megaproyek seperti perhelatan Sail Raja Ampat yang tengah dia garap, proyek-proyek bernilai di bawah Rp 200 juta yang biasanya melalui mekanisme penunjukan langsung atau swakelola pun dia ambil. Bahkan, event kecil pun, seperti show management, yang dalam satu minggu bisa 3 atau 4 kali berlangsung dia lakoni untuk menutup biaya operasional rutin seperti gaji karyawan. Saat ini perusahaan Sarah tercatat memiliki 9 karyawan tetap dan sekitar 40-an crew yang selalu siap diberdayakan pada saat ada event. Puluhan crew itu dikelola oleh anak usaha sendiri.

Di atas segalanya, Sarah dan suaminya adalah pebisnis tulen. Sektor usaha yang mereka geluti cukup beragam. Suaminya, Agus Maolana, menekuni usaha penggemukan sapi dan di bidang otomotif sebagai distributor Piagio. Selain EO di bawah bendera PT. Resolusi Mandiri Indonesia (Resolusi Event Solutions), Sarah juga menggeluti bisnis kuliner. Ia mengelola katering dan resto Waroeng Amao di Jakarta Selatan.

“Resto kan men-support EO saya. Yang namanya event itu ada konsumsinya, ada makanannya, ada nasi box atau prasmanan. Memang kadang tidak semua event pakai konsumsi. Makanya tukang masak saya keep dengan buka restoran. Seperti itulah strategi saya. Karena memang susah cari tukang masak. Kalau sudah tidak enak ya tidak laku. Sama di EO juga. Kalau kreatifnya tidak bagus, desainernya tidak bagus, ya sudah jadi nggak bagus juga,” urai Sarah yang juga jebolan S-1 dari London School Jakarta dengan mengambil spesialisasi marketing bisnis itu.

Nah, ketika ditanya event terberat dan terbesar yang ditangani, jawab Sarah adalah Sail Raja Ampat di Papua Barat. Event akbar di bidang pariwisata maritim itu diselenggarakan oleh konsorsium beberapa kementerian di tingkat pusat dan pemerintah daerah. Sail Raja Ampat sedianya dilaksanakan minggu ketiga Juni 2014, namun diundur hingga minggu ketiga Agustus 2014.

“Sail Raja Ampat paling berat. Satu karena jarak. Kedua karena ada jeda (pelaksaan diundur). Sementara sebagian barang sudah siap kirim. Vendor-vendor sudah di-down payment. Sehingga yang kita takutkan, apabila ini di-reschedule lagi, di situ ada uang yang harusnya berputar, tapi diam di situ. Tapi yang lain okelah, tidak ada masalah,” jelas Sarah.

Apapun itu, Sarah meyakini dalam setiap event yang ia garap memiliki tantangan masing-masing. Toh, hingga saat ini tantangan-tantangan tersebut lebih ia nikmati ketimbang menjadi beban. Sesungguhnya Sarah adalah tipe perfeksionis dalam bekerja. Namun di saat sudah merasa sempurna, terus ada kritikan dari klien dan sudah dia debat, maka kemudian yang dia lakukan adalah mengalah, demi kepuasan klien dan kelancaran bisnisnya. “Selain memacu adrenalin, harus sabar juga,” cetus Sarah sembari tersenyum.

Lebih Pilih Keluarga Ketimbang Karir

Cemerlang dalam merengkuh karir dengan level kesibukan sangat tinggi tentu saja tidak lantas membuat seorang perempuan menafikan perannya sebagai ibu dan istri di dalam keluarga. Demikian pula dengan Sarah Susanty. Bagi dia, keluarga adalah segala-galanya. Bahkan, dengan tingkat keberhasilan seperti sekarang ini, dia mengaku lebih memilih keluarga ketimbang karirnya. “Keluarga buat saya ya segalanya. Kalau saya disuruh milih, karir sama keluarga, saya lebih memilih keluarga,” kata Sarah tanpa bermaksud membandingkan keduanya.

Sebelum meniti karir di industri jasa event organizer, Sarah memang lebih fokus membesarkan anak-anaknya. Sehingga, kata dia, ikatan batin antara dirinya dan anak-anaknya terjalin begitu kuat. Meski kerapkali ke luar kota untuk urusan kantor, kedekatannya dengan sang buah hati masih tetap terjaga. Memang, diakui Sarah, di awal-awal dia membangun bisnis EO, suami dan putra-putrinya seringkali protes, karena waktunya nyaris ludes buat bekerja. “Saat itu saya harus mantain klien sampai malam, sampai akhirnya saya dikasih warning sama suami. Kalau misalnya pekerjaan itu sudah di atas jam 10 malam, ya harus pulang, karena anak-anak butuh saya,” papar Sarah.

Tapi sekarang antara waktu buat bekerja dan keluarga sudah mencapai titik keseimbangan, seiring dengan sedikit menurunnya tingkat kesibukan dan anak-anaknya yang sudah mulai tumbuh besar. Sarah pun, saking cintanya pada keluarga, akan menolak rutinitas pekerjaan yang datang di akhir pekan. Namun saat harus survei event ke luar kota, suaminya gantian jaga anak. “Tapi kalau misalnya meeting sama klien di mall pada saat weekend, lebih baik saya reschedule. Kalau weekend sama anak, sama keluarga,” bebernya.

Jika di lingkup keluarga Sarah berperan sebagai ibu dan istri, maka di dunia profesi ia adalah pemimpin perusahaan yang tak betah duduk di belakang meja. Ia malah lebih senang mengecek langsung pekerjaan staf bahkan turun sendiri ke lapangan. Uniknya, menurut Sarah, status dia sebagai kaum hawa justru malah membawa berkah. Dibandingkan laki-laki, apalagi dalam menghadapi klien, perempuan bisa tampil lebih luwes dan mampu membuat suasana mennjadi rileks.

“Karena lebih luwes. Jadi perempuan bisa membawa suasana. Pada saat suasana itu kaku, kita lebih luweslah kalau perempuan. Kalau laki-laki, biasanya sama-sama kaku. Yang ada jadi garing kan. Kalau perempuan itu membuat yang panas terik menjadi lebih adem. Hehehe,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Related posts