Menanti Laporan Keuangan, IHSG Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di tutup melemah 21,657 poin (0,44%) ke level 4.887,860. Sementara Indeks LQ45 ditutup turun 4,512 poin (0,54%) ke level 824,862. Minimnya sentiment positif membuat indeks BEI kembali tertekan.

Kondisi ini diperparah dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ditutup melemah di posisi Rp 11.995 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.885 per dolar AS. Namun menurut analis Trust Securities, Reza Priyambada, pelemahan indeks BEI di picu sentiment negative krisis konflik di Irak yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik, “Harga minyak mentah dunia yang cenderung naik akibat konflik di Irak akan membuat kinerja emiten di dalam negeri terpengaruh sehingga investor saham cenderung mengambil posisi jual untuk mengamankan aset agar tidak tergerus,"ujarnya di Jakarta, Rabu (18/6).

Dia menambahkan, meningkatnya harga minyak dunia itu juga berdampak pada mata uang rupiah terhadap dolar AS, kondisi itu menambah sentimen negatif di pasar saham. Harga minyak mentah dunia saat ini sekitar 106,10 dolar AS per barel,”Melemahnya nilai tukar rupiah menambah kekhawatiran investor di pasar saham bahwa kondisi ekonomi Indonesia akan melambat," kata Reza Priyambada.

Menurut dia, sepanjang konflik di Irak belum selesai maka pergerakan indeks BEI akan cenderung terus terkoreksi. Apalagi, sentimen positif dari dalam negeri juga minim. Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pergerakan IHSG masih relatif mendatar mencari arah untuk menentukan tren selanjutnya,”Melihat katalis positif yang akan datang dari pemilu presiden dan harapan laporan keuangan semester I 2014 yang baik mulai di antisipasi pasar,”ungkapnya.

Dirinya memprediksikan, indeks BEI Kamis diproyeksikan akan bergerak menguat seiring sentiment positif perolehan laba emiten dalam laporan keuangan semester pertama. Perdagangan kemarin, aksi jual tak henti-hentinya terjadi sejak pembukaan perdagangan. Baik investor lokal maupun asing sama-saham melepas saham.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 183.721 kali pada volume 4,951 miliar lembar saham senilai Rp 6,362 triliun. Sebanyak 116 saham naik, 145 turun, dan 109 saham stagnan. Bursa regional berakhir mix menutup perdagangan. Konflik di Irak dikhawatirkan mendorong tingginya harga minyak dunia, hal ini membuat investor waspada.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mandom (TCID) naik Rp 650 ke Rp 15.700, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 550 ke Rp 28.075, Minna Padi (PADI) naik Rp 170 ke Rp 850, dan Siantar Top (STTP) naik Rp 145 ke Rp 3.120. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 750 ke Rp 24.200, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 300 ke Rp 10.525, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 225 ke Rp 15.200, dan ABM Investama (ABBM) turun Rp 190 ke Rp 2.850.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 12,81 poin atau 0,3% ke 4.896. Sebanyak 117 saham menguat, 139 saham melemah, dan 96 saham bergerak stagnan. Sore ini, telah terjadi transaksi sebesar Rp3,039 triliun dari 2,331 miliar lembar saham diperdagangkan.

Indeks LQ45 turun 2,27 poin ke 826,60, indeks IDX30 naik 1,24 poin atau 0,3% ke 422,92, Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,92 poin ke 0,3% ke 659,59, dan indeks MNC36 naik 0,93 poin atau 0,4% ke 252,87.

Sektor-sektor penggerak IHSG mayoritas melemah, namun hanya sektor perkebunan yang menguat 0,8% dan sektor pertambangan menguat 0,6%. Sementara di Asia, indeks Nikkei naik 124,16 poin atau 0,83% ke 15.100,13, indeks Hang Seng merosot 10,80 poin atau 0,05% menjadi 23.192,79, dan indeks Straits Times melemah 0,18 poin menjadi 3.280,27.

Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik Rp825 ke Rp53.800, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp75 ke Rp5.375, dan saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) naik Rp125 ke RP14.075. Sedangkan saham-saham yang berada dalam jajaran top losers, antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp125 menjadi Rp10.900, saham PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp50 menjadi Rp7.200, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp50 menjadi Rp29.600.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 2,97 poin atau 0,06% menjadi 4.906,54. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,77 poin (0,09%) ke level 824,59. Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, indeks BEI kembali mengalami tekanan seiring dengan mayoritas bursa saham di Asia akibat konflik di Irak.

Menurutnya, konflik Irak yang berkepanjangan dapat mengganggu suplai minyak dunia sehingga akan menaikkan harga, situasi itu menjadi perhatian pelaku pasar saham global maupun domestic,”Irak merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar sebagai penyedia sekitar 60% pasokan minyak di dunia," katanya.

Dia menambahkan, ekspektasi meningkatnya harga minyak dunia itu juga akan menjadi ancaman perlambatan ekonomi dunia. Kondisi ini membuat kekhawatiran bagi investasi pada aset berisiko, salah satunya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengharapkan bahwa pelaku pasar dapat memanfaatkan rendahnya harga saham-saham di dalam negeri saat ini untuk kembali masuk meski untuk jangka pendek. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 20,16 poin (0,09%) ke level 23.183,43, indeks Nikkei naik 67,83 poin (0,45%) ke level 15.043,80 dan Straits Times melemah 1,96 poin (0,06%) ke posisi 3.272,58. (bani)

Related posts