Tunggu Langkah Cepat Bikin Kota Jadi Nyaman - HUT DKI JAKARTA KE 487

Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta genap berusia 487 tahun. Banyak program sudah dilaksanakan. Tapi, kelihatannnya, lebih banyak persoalan yang harus segera diselesaikan.

Jika banyak hal tersebut dapat diurai dan dituntaskan, warga masyarakat yang beraktivitas di kota Jakarta, berharap bisa menikmati suasana yang aman, nyaman, dan kondusif. Yang beraktivitas di Jakarta ada dua, tinggal di Jakarta dan di luar Jakarta. Mereka sama-sama berhak memperoleh layanan yang prima dari penyelenggara pemerintahan di Jakarta.

Layanan yang prima itu meliputi aspek regulasi atau perizinan setiap membuka usaha. Kemudahan mengakses berbagai fasilitas umum, baik dalam bentuk penyediaan listrik, air bersih, maupun sarana transportasi yang aman, nyaman, cepat, tepat, memadai, dan terjangkau. Kebutuhan dasar itu diperlukan untuk menunjang berbagai sarana seperti perumahan, perkantoran, pusat perdagangan, baik mal atau supermarket, hingga pasar tradisional, juga tempat pendidikan, sejak taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan pertama (SMP), sekolah lanjutan atas (SMA), maupun perguruan tinggi, maupun rumah sakit.

Tanpa penataan tata kota, dan tata ruang yang terpadu, warga yang beraktivitas di Jakarta jangan berharap bisa menikmati lingkungan kota yang asri, bersih, rapi, tidak macet lalu lintasnya, dan tertib warganya. “Kami juga ingin agar Pemprov DKI maupun Pemerintah Kota di tingkat wilayah memberi ruang gerak yang cukup agar kami dapat menjalankan usaha dengan maksimal sehingga bisa ikut memajukan perekonomian Jakarta,” kata pemilik Grup Arifindo Fimma Utama (AFU) Saiful Arifin.

Menurut Saiful yang juga ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Hipmi Jakarta Selatan, untuk mewujudkan suasana usaha yang kondusif itu, sudah seharusnya pemerintah daerah mau bersinergi dengan kalangan pengusaha yang terhimpun dalam HImpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya, juga Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi pedagang pasar, asosiasi pengusaha pengelola pusat perbelanjaan (APPBI) yang ada di Jakarta. Sangat kebetulan, Jakarta menjadi pusat perkantoran berbagai perusahaan nasional dan multinasional, pusat pemerintahan negara Republik Indonesia. Semua yang besar-besar ada di Jakarta. Bahkan, dari segi jumlah, mal yang ada di Jakarta terbanyak setidaknya di Asia Tenggara.

“Kami ini ikut menjadi penggerak perekonomian di kota Jakarta,” timpal Piere Senjaya, pengelola sejumlah bisnis yang bernaung di bawah bendera PT Mitra Cerdas Favorit. Namun, Piere mengingatkan, mayoritas pengusaha di Jakarta ada di kalangan bawah, atau kelas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Itu sebabnya, Piere yang dipercaya menjadi ketua BPC Hipmi Jakarta Utara ini menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara untuk menciptakan pusat-pusat UKM (UKM Center). “Kami ingin kawan-kawan pengusaha yang di bawah mendapat tempat yang layak untuk ikut berusaha,” kata Piere yang juga perintis sekolah internasional Stella Maris.

Budi Susandi, koordinator Busway Mania, juga punya harapan yang sama dengan Saiful dan Piere, maupun jutaan warga masyarakat yang beraktivitas di Jakarta. “Kami ingin pemerintah menyediakan jasa transportasi umum massal yang aman, nyaman, cepat, murah,” kata dia.

Jika sarana transportasi massal memadai, seperti bus Transjakarta maupun kereta api listrik (KRL) Jabodetabek, Budi yakin masyarakat lebih memilih naik angkutan umum dari pada naik kendaraan pribadi. “Ya karena ada jaminan rasa aman, nyaman, dan cepat bebas macet,” ujar Budi yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dan, jika tak ada langkah cepat dari para pengambil kebijakan di tingkat Pemprov DKI Jakarta, juga Pemkot di lima wilayah, maupun campur tangan pemerintah pusat, jangan berharap berbagai persoalan yang dihadapi warga Jakarta bisa terselesaikan.

Banjir di mana-mana di kala hujan tiba, macet di mana-mana, terutama di sekitar kawasan pusat-pusat perniagaan atau bisnis, bahkan dari dai ujung ke ujung ruas jalan. Lebih macet lagi saat proyek mass rapid transit (MRT) sedang digarap hingga bberapa tahun lamanya. Kawasan kumuh ada di mana-mana, preman, pengemis, dan pengamen masih bergentayangan di berbagai sudut kota dan perempatan jalan, sungai-sungai dangkal dan keruh airnya. Taman-taman tempat anak-anak bermain sirna berganti bangunan beton tertingkat.

Itulah setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Saat ini, Basuki atau akrab disapa Ahok sedang sendirian memimpin Jakarta. Sebab, Joko Widodo sedang berusaha mewujudkan obsesinya menjadi presiden Republik Indonesia. Apapun yang terjadi, pekerjaan rumah di Jakarta belum selesai Tuan Jokowi. (saksono)

BERITA TERKAIT

Profit Taking Investor Bikin IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/7) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

HUT ke 20, Acer Tebar 2.222 Hadiah

    NERACA   Jakarta - Dalam rangka anniversary Acer di Indonesia kedua puluh tahun, Acer memberikan apresiasi penuh kepada…

Disnakertrans Kota Sukabumi Gembleng Ratusan Pencaker

Disnakertrans Kota Sukabumi Gembleng Ratusan Pencaker NERACA Sukabumi - Sebanyak 100 orang pencari kerja (Pencaker) diberikan pelatihan keterampilan oleh Dinas…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kering, Meski Cianjur Memiliki Sumber Air

Kesulitan mendapatkan air pada musim kemarau bukan hal baru bagi petani di negeri ini, termasuk di Cianjur, Jawa Barat, yang…

Ini Dia, Misi Konservasi Air di Yogyakarta

Posisi Kota Yogyakarta yang diuntungkan secara topografi karena memiliki wilayah yang tidak luas, berada di dataran rendah, dan diapit tiga…

Mengatasi Kekeringan: - Dengan Upaya Terukur dan Terstruktur

Indonesia merupakan kawasan dengan anomali cuaca yang sangat unik karena pada saat yang bersamaan ada wilayah yang kekeringan, di tempat…