Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu - Kredit Macet Meningkat

NERACA

Jakarta - Suku bunga tinggi pasti menjadi salah satu faktor pemicu kredit macet. Bank Indonesia dalam melakukan kebijakan moneter dianggap tidak sanggup dalam mengatasi peningkatan kredit macet di perbankan Indonesia.

“Bank Indonesia bukan saja tidak sanggup mengatasi meningkatnya kredir macet, tetapi Bank Indonesia menjadi salah satu factor penyebab meningkatnya kredit macet di perbankan Indonesia melalui kebijakan uang ketatnya,” kata Rektor Kwik Kian Gie of Business, Anthony Budiawan kepada Neraca, Selasa (17/6).

Menurut Anthony, suku bunga tinggi memengaruhi dua hal, yaitu beban bunga dan dan permintaan berkurang (orang lebih suka menyimpan uang di bank daripada membelanjakannya). Penurunan permintaan akan berakibat pada penurunan pendapatan yang pada gilirannya akan mengurangi laba atau bahkan dapat berakibat pada rugi, dimana akan memicu kredit macet.

“Suku bunga tinggi memperburuk kondisi perekonomian Indonesia karena kondisi perekonomian global yang masih belum baik, bahkan memburuk. Misalnya, pertumbuhan ekonomi China sedang mengalami penurunan yang terburuk dalam beberapa decade terakhir ini,” jelas dia.

Dia pun menambahkan perbankan harus dapat membantu nasabahnya yang dalam kesulitan melalui restrukturisasi pinjaman dengan memperpanjang masa pinjaman. Kemudian seharusnya BI tidak mengorbankan pertumbuhan ekonomi untuk mempertahankan rupiah. Di mana pun di dunia, stabilitas nilai tukar tidak menjadi tugas utama bank sentral.

“Di tengah kondisi perekonomian dunia yang sedang memburuk seharusnya Bank Indonesia memberi stimulus kepada perekonomian nasional dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan.untuk menggairahkan permintaan domestik,” ungkap Anthony.

Anthony juga mengutarakan bank-bank di Indonesia dinilai terlalu mengejar keuntungan melalui perbesaran margin bunga bersih (Net Interest Money/NIM) daripada melakukan efisiensi. Hal ini menyebabkan penurunan peran perbankan terhadap pembangunan ekonomi nasional."NIM bank saat ini sangat tinggi. Hal ini merugikan," imbuh dia.

Bank seringkali beralasan, lanjut dia, besarnya tingkat suku bunga terkait dengan risiko kredit. Akan tetapi, data risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) bank justru relatif rendah yakni berada di level 2%."Persoalan infrastruktur, transportasi, dan lainnya biasanya masuk dalam NPL. Dan ternyata NPL rendah," tegas Anthony.

Menurut Anthony, NIM yang tinggi berakibat pada menurunnya permintaan pinjaman. Penurunan pinjaman terjadi pada kredit investasi."Masyarakat semakin kurang berminat melakukan investasi karena tingginya suku bunga tersebut," tandas dia.

Dia pun menjelaskan suku bunga tinggi dikarenakan masih tingginya suku bunga acuan (BI Rate). Hal itu tentu saja akan membuat pertumbuhan ekonomi 2014 melambat, pertumbuhan kredit berkurang dan investasi melambat.

“Di samping itu, penaikan suku bunga juga akan menahan laju pertumbuhan konsumsi masyarakat karena suku bunga yang tinggi cenderung membuat masyarakat menunda konsumsi dan lebih memilih menabung,” tandasnya. [mohar]

Related posts