BI Rate Diprediksi Turun Usai Pilpres

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono menilai saat ini Bank Indonesia (BI) masih menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 7,5%. Namun begitu dia memproyeksikan BI rate diperkirakan baru akan memiliki ruang untuk dapat diturunkan kembali usai Pemilihan Presiden 9 Juli mendatang.

"Jika Pilpres sukses, maka akan terjadi capital inflow, sehingga likuiditas bisa melonggar, BI rate mulai bisa diturunkan bertahap, apalagi AS nampaknya belum tentu berani menaikkan suku bunganya," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, Indonesia mampu memanfaatkan pelaksanaan Pilres untuk dapat mengembalikan kepercayaan para investor berinvestasi di Indonesia.

Di samping itu, berkaca pada kondisi ekonomi Indonesia dalam kuartal I-2014, Tony mengaku pertumbuhan ekonomi di luar ekspektasi di mana hanya tumbuh sebesar 5,21 persen.

Selain itu, permasalahan defisit neraca berjalan masih menjadi isu utama paling tidak menjelang pelaksanaan Pilpres 9 Juli."Subsidi energi masih terlalu besar, Rp 300 triliun menuju Rp 400 triliun, itu bahaya," ungkapnya.

Terbatasnya dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat juga membuat persaingan suku bunga simpanan di industri perbankan semakin kencang. Tarik-menarik dana masyarakat ini membuat nasabah mencari bank pemberi bunga deposito tinggi."Ada nasabah mau menyimpan dana di bank, jika bunga simpanan mencapai 10% -12%," papar dia.

Menurutnya, sambung dia memang saat ini BI dilematis dalam mengeluarkan kebijakan terkait dengan BI Rate. Satu sisi jika menurunkan BI Rate maka likuiditas ketat sektor riil sebagai tonggak fundamental ekonomi sedikit longgar, hanya saja rupiah kian terdepriasi. Sedangkan tugas BI disini adalah menjaga agar rupiah tetap kuat dan stabil. “Memang sangat sulit menentukan apakah BI Rate harus turun atau naik. Tapi kebijakan BI yang menahan BI Rate mengindikasikan BI lebih mempertahankan rupiah,” ujarnya.

Namun begitu, langkah BI mempertahankan suku bunga tinggi menjadikan kredit macet berpotensi terus merangkak naik. “Otomatis jika suku bunga acuan tinggi, suku bunga perbankan juga ikut tinggi,” jelasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta – Ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis…

Penjualan CPO Domestik Turun - Laba Bersih Wilmar Cahaya Anjlok 13,75%

NERACA Jakarta –Di tahun 2018, kinerja PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada 2018 kurang memuaskan karena laba bersih perseroan…

YLKI : Tekan Tiket Pesawat Turun Semurah Mungkin

YLKI : Tekan Tiket Pesawat Turun Semurah Mungkin NERACA Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ikut bersuara terkait dengan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kredit Bank DKI Tumbuh 27,9%

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, Bank DKI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 27,95 dari semula sebesar Rp27,1…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta – Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate…

Bunga The Fed Diyakini Hanya Naik Sekali

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia mengubah proyeksinya untuk kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank…