Ekonomi Lambat, NPL Naik

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal II-2014 diindikasikan masih akan mengalami perlambatan seiring dengan kondisi ekonomi global yang tak menentu dan pengaruh dinamika politik dalam negeri jelang Pilpres yang kian dekat. Meski demikian, kecenderungan penurunan tersebut tidak akan menembus di bawah 5%.

Indikator tersebut terlihat dari besaran defisit neraca perdagangan yang masih terus melebar sepanjang kuartal kedua ini, yang ditandai dengan kinerja ekspor belum optimal, dan kondisi kurs rupiah yang kembali terdepresiasi dalam beberapa waktu belakangan ini. Bahkan pada pekan lalu, kurs rupiah terhadap US$ sempat menembus level Rp12.000 per dolar AS.

Meski terjadi penurunan pertumbuhan perekonomian pemerintah kelihatan masih adem ayem, sepanjang penurunan itu masih dalam batasan wajar atau tak jauh dari target yang dipatok. Pasalnya, pertumbuhan perekonomian dalam beberapa tahun terakhir yang mencapai di atas 6% terjadi kecenderungan overheating. Jadi, kalau dalam kuartal kedua pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,1% hingga 5,2% belum terlalu dirisaukan.

Menurut prediksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi akan berkisar 5,1% hingga 5,5% sepanjang tahun ini. Itu pula yang menjadi alasan bank sentral belum mengutak-atik bunga acuan BI Rate yang tetap bertengger di level 7,5%. Selain dipengaruhi kinerja ekspor yang masih jauh dari harapan, ekonomi Indonesia tak lepas dari pengaruh lingkungan eksternal terutama dari kondisi negara-negara yang mengendalikan perekonomian dunia.

Kondisi ekonomi Tiongkok misalnya, yang melemah hanya bertumbuh sekitar 7% hingga 7,5% dipastikan berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian domestik. Pasalnya, Negeri Panda itu menyerap ekspor tak kurang dari 12% dari total ekspor Indonesia. Prediksi pelambatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada kuartal kedua tak bisa dilepaskan dari defisit neraca perdagangan.

Apalagi data BPS mengungkapkan, defisit neraca perdagangan mencapai sebesar USD1,96 miliar pada April 2014, ini dipicu oleh impor sektor minyak dan gas (migas). Sementara dalam periode yang sama, nilai ekspor cuma menggaet US$14,29 miliar, dibanding perolehan nilai ekspor Maret maka terjadi penurunan sekitar 5,20%. Dan, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terjadi penurunan 3,16%.

Defisit neraca perdagangan pada April lalu, membuat kalangan pengusaha diliputi perasaan penuh kekhawatiran. Karena itu, para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk memberi perhatian serius untuk menangani masalah defisit tersebut.

Di sisi lain, kalangan bankir domestik harus bekerja ekstra hingga akhir 2014. Pasalnya, kinerja makro ekonomi Indonesia yang belum menggembirakan itu setidaknya membawa negatif bagi perbankan nasional, yaitu potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan-NPL).

Dirut Bank Mandiri Budi G. Sadikin pun mengakui, kenaikan NPL 1% itu sudah memasukkan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, untuk mengantipasi perubahan situasi perekonomian, wajar bank BUMN itu menjaga ketat rasio NPL gross di bawah 2%. Waspadalah perbankan lokal!

Related posts