Multistrada Tunda Perluas Kebun Karet - Dampak Harga Murah

NERACA

Jakarta – Guna memuluskan bisnis ban dari hulu sampai hilir, khususnya untuk bahan baku karet. PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) terus berencana memperluas kepemilikan kebun karet dari saat ini sebanyal 120 hektar kebun karet.

President Director PT Multistrada Arah Sarana Tbk, Pieter Tanuri mengatakan, perkebunan karet milik perseroan baru sebatas uji coba. "Punya perkebunan karet sebanyak 120 ribu ha, baru nanam sedikit belajar dulu sampai yakin bisa," ujar di Jakarta, Senin (16/6).

Pieter mengatakan pihaknya tidak akan menggenjot produktifitas perkebunan karetnya. Sebab harga karet yang sedang merosot membuat kebijakan perkebunan karet hanya sebatas keperluan suplay internal."Para ahli di kita akan ngebut, sembari nunggu perkembagan cukup ahli. Sebab karena bisnis utama kita ban . Perkebunan itu suplay saja," kata Pieter.

Dia menuturkan, pihaknya menunggu hasil produksi beberapa tahun mendatang. Dimana kebun karet perseroan akan panen pada 5 sampai 7 tahun lamanya dan lantaran saat ini harga karet sedang murah, perseroan menunda agresif bisnis kebun karet.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$30-US$40 juta. Disebutkan, belanja modal tersebut akan digunakan turun bila dibandingkan dengan tahun lalu sebesar US$ 657 juta. Hal ini dikarenakan, belanja modal tahun ini hanya untuk penambahan pembelian mesin baru.

Pieter menyakini dengan adanya pembelian mesin baru tersebut, kapasitas produksi akan mencapai sesuai target. Perseroan menargetkan 8,2 juta ban pada tahun ini."Mesin akan menjadi peningkatan produksi lagi tahun ini dan mendatang. Ini jadi botton line itu sendiri," kata Pieter.

Pada tahun ini pula, penjulan bersih akan tumbuh 5% dengan kontribusi penuh dari kenaikan penjulan ban mobil atau PCR 8% dan ban motor MC 5%. Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan laba komperhensif US$1,2 juta. Perolehan ini turun dari US$1,9 juta 2013 perode yang sama.

Dijelaskan, penurunan ini akibat adanya biaya operasional yang besar. Disamping itu, perseroan juga membukukan penjualan ban mobil kuartal ini mencapai 1,8 juta ban. Secara volume turun penjualan 1,9 juta atau dari tahun lalu periode yang sama. Sedangkan laba usaha, Pieter mengatakan juga turun. "Laba usah kuartal 1 US$1,5 juta kuartal 1 2014 turun dari 2013 preriode yang sama US$2,3 juta karena biaya distribusi," katanya. (bani)

BERITA TERKAIT

Dongkrak Penjualan Ekspor - Merck Perluas Penetrasi Pasar di Asia Tenggara

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan ekspor, PT Merck Tbk (MERK) terus perluas penetrasi pasar. Teranyar, emiten farmasi ini berencana…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

Pemerintah Nilai Harga Gas Indonesia Kompetitif

NERACA Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa harga gas industri di Indonesia relatif stabil dan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…

Siapkan Dana Investasi US$ 100 Juta - Saratoga Bangun Rumah Sakit di Bekasi

NERACA Jakarta –Genjot pertumbuhan portofolio investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) terus mengembangkan investasinya. Salah satunya yang tengah dikembangkan…