Dewan Energi Minta PLN Tambah Kapasitas Listrik - Antisipasi Beban Puncak

NERACA

Jakarta – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Tumiran meminta kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk mengantisipasi beban puncak konsumsi listrik yang akan terjadi mengingat permintaan terhadap listrik terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada pekan lalu, sistem Jawa-Bali mengalami beban puncak tertinggi sebesar 23.420 megawatt sementara kapasitas listrik sistem Jawa-Bali sekitar 28.000 megawatt.

“Kondisi pekan lalu harusnya jadi peringatan buat PLN untuk terus menambah kapasitas listriknya. Karena, jika tidak maka sistem kelistrikan nasional akan berada dalam situasi yang tidak aman. Yaitu ancaman akan terjadi pemadaman,” kata Tumiran, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Selain menambah kapasitas listrik, menurut Tumiran, manajemen kelistrikan PLN harus terintegrasi dengan baik. Hal itu seperti terjadi pada Pertengahan Mei lalu yang mana daerah DKI Jakarta dan Tengerang mengalami defisit listrik karena ada masalah salah satu pembangkit.

Sejak April hingga Juni 2014, tercatat tiga kali rekor beban puncak pada sistem jaringan Jawa-Bali. Rekor beban puncak bulan April 2014 sebesar 22.974 megawatt, pada Mei 2014 mencapai 23.208 megawatt, sedangkan pada pekan lalu sebesar 23.420 megawatt.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto, menuturkan, beban puncak listrik Jawa-Bali kembali mencapai rekor tertinggi selama tiga bulan berturut-turut- April, Mei, dan Juni 2014. “Bahkan beban puncak Juni 2014 tercatat sebagai yang tertinggi dibanding rekor tertinggi pada bulan April dan Mei, yakni sebesar 23.420 Megawatt (MW) yang terjadi pada Senin 9 Juni pukul 18.00 WIB,” kata Bambang.

PLN mencatat rekor beban puncak tertinggi bulan April 2014 sebesar 22.974 MW, terjadi pada 24 April jam 18.00 WIB dan rekor beban puncak tertinggi bulan lalu sebesar 23.208 MW yang terjadi pada 6 Mei jam 18.00 WIB. Disebutkan rekor terbaru beban puncak sistem Jawa Bali sebesar 23.420 MW ini naik sebesar 853 MW atau 3,77% dari beban puncak 2013 sebesar 22.567 MW.

Diperkirakan kenaikan beban puncak ini dipicu oleh kondisi cuaca yang lebih panas seiring memasuki musim kemarau. Disamping itu juga menjelang bulan puasa dan lebaran biasanya industri menaikkan produksinya. Karena itu, PLN terus berupaya memenuhi kecukupan pasokan listrik untuk mengantisipasi pertembuhan beban di sisi pelanggan. Hal ini dilakukan dengan terus membangun pembangkit baru, jaringan transmisi dan gardu induk.

“Saat ini kondisi pasokan listrik di sistem kelistrikan Jawa Bali cukup untuk memenuhi permintaan listrik. Namun PLN tetap menghimbau para pelanggan untuk menghemat penggunaan listrik khususnya untuk pemakaian yang sifatnya konsumtif. Hal ini bisa dilakukan diantaranya dengan mematikan alat elektronik yang tidak diperlukan,” katanya.

Hemat Energi

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penghematan. Seperti yang terjadi di Solo, Jawa Tengah. Humas PLN Area Surakarta Suharmanto menyatakan beban puncak di wilayah Solo dan sekitarnya biasanya rata-rata bulanan sebesar 545 megawatt. Akan tetapi pada tahun ini mengalami penurunan sebesar 540 megawatt.

Suharmanto menuturkan, penurunan beban puncak terjadi lantaran sejumlah instansi mulai mengganti peralatan hemat energi. Ini terutama dilakukan sebagian besar kalangan hotel, restoran hingga pusat perbelanjaan. “Penggantian biasanya dilakukan untuk lampu yang dulunya neon menjadi lampu LED atau neon lampu hemat energi. Peralatan seperti blower, AC juga mulai diganti lebih hemat energi," kata dia.

Hasilnya, pemakaian daya listrik oleh kalangan tersebut memang menunjukkan penurunan yang cukup banyak. Hal ini kemudian berdampak pada beban puncak yang turun. Namun dia menyebut ada kemungkinan beban puncak bisa kembali bengkak, terutama selama bulan puasa dan mendekati Lebaran.

Sementara itu, Menteri ESDM Jero Wacik mengungkap langkah kenaikan listrik ditempuh agar masyarakat lebih hemat listrik. Jero mengemukakan alasan kenaikan listrik salah satunya untuk mendorong masyarakat kelas menengah untuk berhemat. Jika listrik murah, katanya, masyarakat akan sulit berhemat.

Menurut dia, kenaikan tarif listrik diperlukan untuk membantu PLN membangun pembangkit listrik baru. Kalau tidak naik lanjutnya, darimana PLN dapat duit untuk membangun baru, sedangkan dalam pengembangan pembangunan jaringan listrik membutuhkan uang.

Seperti diketahui, tarif listrik untuk 6 jenis pelanggan akan mengalami kenaikan mulai bulan depan. Besarannya berbeda-beda. Pertama, industri golongan I-3 non publik atau non Tbk dengan kenaikan rata rata 11,57% yang dilakukan setiap dua bulan mulai Juli 2014 mendatang.

Kedua, listrik rumah tangga golongan R-2 dengan daya 3.500 VA sd 5.500 VA kenaikan bertahap rata rata 5,70 persen. Ketiga untuk pemerintah golongan P2 di atas 200 KvA secara bertahap rata rata 5,36 persen setiap dua bulan. “Penghematan 3 opsi ini Rp 5,25 triliun. Subsidinya menjadi Rp 90,10 triliun dari awalnya Rp 95,35 triliun,” tambahnya.

Pemerintah juga menaikkan tarif listrik rumah tangga dengan golongan R-1 daya 2.200 VA dengan kenaikan rata rata 10,43% yang dilakukan tiap dua bulan. Pelanggan rumah tangga golongan R-1 dengan daya 1.300 VA juga mengalami kenaikan rata rata 11,36% yang dilakukan setiap dua bulan. Tarif listrik penerangan jalan umum juga naik bertahap sebesar 10,69%.

“Kalau semua dari 6 opsi ini maka penghematan akan mencapai Rp 8,51 triliun. Siapapun jadi presiden kedepanya dengan menaikan ini maka subsidi tidak lagi memberatkan. Ini kita lakukan agar tidak memberatkan pemerintah baru,” katanya.

Related posts