Asing Incar Pasar Perbankan Nasional - Terdapat Kawasan Belum Terjamah Bank

NERACA

Sentul - Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto mengatakan, perbankan asing tengah mengincar pasar perbankan Indonesia yang belum tergarap, terlebih menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sektor keuangan pada 2020 mendatang. "Banyak dana masyarakat belum masuk ke bank dan banyak kawasan di Indonesia masih belum terjamah bank," tegas dia, saat diskusi dengan wartawan di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (13/6) sore.

Dia menyebutkan rasio dana pihak ketiga (DPK) terhadap produk domestik bruto (PDB) baru mencapai 37,5% atau sebesar sekitar Rp3.500 triliun dari PDB. Sementara di Singapura mencapai 147,9%, Malaysia 62,4%, Thailand 110,41%, Filipina 46,6% dan Vietnam 34,7%.

Sementara dari sisi kredit, Ryan menjelaskan volume penyaluran kredit perbankan di Indonesia juga baru mencapai 20,6% dari PDB. Adapun porsi penyaluran kredit oleh perbankan di Singapura mencapai 120,6% dari PDB, Malaysia 117% dan Thailand 85%.

Menurut Ryan, pasar perbankan di Singapura, Thailand dan Malaysia sudah jenuh sehingga mereka berusaha masuk ke Indonesia. "Sebaiknya bank-bank di Indonesia lebih fokus ke pasar domestik dan ekspansi keluar merupakan pilihan kedua," katanya.

Menurut dia, bank-bank nasional sebaiknya mengamankan pasar sendiri yang belum tergarap secara maksimal. "Jangan sampai berupaya menembus pasar negara lain yang sudah jenuh sementara halaman sendiri digarap oleh bank asing," tandas Ryan.

Selain itu, dirinya memperkirakan produk tabungan perbankan sebagai alat investasi di masa mendatang akan makin ditinggalkan masyarakat. "Produk tabungan nantinya hanya akan jadi alat transaksi, hanya untuk bayar-bayar seperti bayar listrik, telepon, air dan lainnya," papar dia.

Ryan menyebutkan masyarakat akan mencari produk perbankan yang menggabungkan investasi dan tabungan atau saving. "Perbankan harus menyiapkan produk-produk yang cocok dengan keinginan masyarakat," katanya. Dia menyebutkan, adanya perkiraan bahwa hingga 2030, jumlah penduduk Indonesia yang masuk kelas menengah akan mengalami peningkatan sekitar 125 juta.

Persaingan makin ketat

Sementara itu mengenai adanya kesulitan bank menghimpun dana masyarakat yang bisa berakibat bank mengalami kesulitan likuiditas, Ryan mengatakan saat ini memang persaingan menghimpun dana masyarakat makin ketat.

"Persaingan ketat terjadi tidak hanya antar-perbankan saja tetapi juga dengan lembaga keuangan lain dan dengan pemerintah," katanya. Pemerintah, lanjut Ryan, ikut berperan dalam meningkatkan persaingan ketat dalam penghimpunan dana melalui penerbitan obligasi atau surat utang.

Menurut dia, dana yang diserap melalui penerbitan obligasi selama ini disimpan di rekening pemerintah di Bank Indonesia dan tidak segera dibelanjakan. "Ini mengakibatkan persaingan bank menghimpun dana masyarakat makin ketat, dan bank menempuh cara konvensional dalam menghimpun dana yaitu dengan menaikkan bunga dan masyarakat," ungkapnya.

Menurut dia, bank juga makin sulit menghimpun dana masyarakat karena adanya kebijakan moneter ketat dari Bank Indonesia. Kebijakan moneter ketat ditunjukkan dengan tingkat BI Rate yang mencapai 7,5% serta kenaikan giro wajib minimum menjadi 8%. "Kebijakan moneter ketat ini akan berlangsung hingga akhir 2014 karena BI harus menjaga ekspektasi inflasi tetap terjaga terkait dengan rencana kenaikan tarif listrik awal bulan Juli 2014," tukas Ryan. [ardi]

Related posts