Saham Murah, Gozco Gelar Rights Issue

NERACA

Jakarta – Perusahaan perkebunan sawit, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) berencana melakukan pembelian saham kembali (buy back) saham untuk meningkatkan nilai harga saham di public. Rencana perseroan untuk buyback saham telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).

Wakil Presiden Direktur PT Gozco Plantations Tbk, Kreisna Dewantara Gozali mengatakan, aksi korporasi dengan buy back saham akan dilakukan pada bulan ini sebesar 10% dari total saham perseroan, “Hasil RUPS tadi, intinya tahun lalu perusahaan rugi Rp92 miliar dan tahun ini rencananya mau lakukan buyback saham karena sekarang nilai saham kita sudah murah," ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan berencana membeli saham dengan harga Rp100 per lembarnya, pihaknya akan menyiapkan dana sekitar Rp60 miliar. Saat ini total saham milik PT Gozco Plantations Tbk di pasar, Initial Public Offering (IPO) sejumlah 30%" Maksimal kita bisa beli 10% dari saham total, dipasar kita IPO 30% berarti dari 30%, rencana 10% dibeli balik," paparnya.

Kreisna mengaku pada kuartal I, terjadi peningkatan produksi sebesar 10% dibanding kuartal tahun lalu. Tercatat bila dibanding tahun lalu jauh lebih baik, kenaikan harga sekitar 10% dan tahun ini perseroan menargetkan pendapatan naik 40% dari tahun lalu sekitar Rp600 miliar. Disebutkan, target pendatapan tahun ini naik naik 40,31% dari pencapaian Rp427,62 miliar pada tahun sebelumnya.

Tahun lalu, katanya, perusahan memproduksi 142.361 ton tandan buah segar (TBS). Sementara itu, untuk produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ditargetkan menguat hingga 62.000 ton dari produksi tahun lalu sebanyak 49.214 ton CPO.

Investor Relation Gozco Edbert Effendy mengatakan, hingga bulan Mei 2014 volume produksi TBS perseroan mencapai 50.000 ton, meningkat 6,4% dari kuartal I/2014 yang hanya berkisar 47.000 ton. Adapun produksi CPO meningkat sekitar 21% menjadi 17.000 ton dari 14.000 ton.

Proyeksinya pada kuartal II produksi biasanya akan meningkat 10%-15%. Edbert mengatakan 30% target produksi total dicapai pada semester pertama. Perseroan, kata Kreisna Dewantara, mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp265 miliar,”Kita siapkan Rp265 miliar, di mana Rp100 miliar untuk tanaman baru, Rp150 miliar untuk tanaman belum menghasilkan atau sekitar 15.000 hektar dan sisanya untuk pembangunan pabrik kelapa sawit," paparnya.

Pembangunan pabrik sendiri dilakukan di wilayah Sumatera Selatan, Kabupaten Muara Ening. "Sekarang progresnya gak bagus, tadinya target pertengahan tahun ini selesai, tapi mundur jadi pertengahan tahun depan, masalahnya masih sering hujan, pabriknya itu bangun dilahan gambut, jadi sedikit hujan aja barang-barang dari luar gak bisa masuk semua," jelasnya.

Pembangunan pabrik kelapa sawit itu masih dalam tahap 70 %, sisanya 30% selesai di tahun depan. "Yang pasti dengan adanya pabrik ini kita bisa menekan biaya cost, karena buahnya tidak lagi harus dikirim ke pabrik kita yang sekarang, yang jaraknya 50 km, hemat transport dan proses produksi, hematnya bisa 200 rupiah perkilo," jelasnya. (bani)

Related posts