Konsumsi BBM Diprediksi Naik, Listrik Turun - Saat Ramadan dan Lebaran

NERACA

Jakarta – Saat menjelang datangnya bulan Ramadan dan Lebaran, diprediksi beberapa penggunaan energi ada yang mengalami kenaikan dan ada juga yang mengalami penurunan. Untuk penggunaan energi yang mengalami penurunan pada Ramadan dan Lebaran adalah listrik. Hal tersebut seperti dikemukakan oleh Direktur Utama PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, memasuki bulan Ramadan dan Lebaran penggunaan listrik selama bulan Ramadan dan Lebaran hanya mencapai 60% dari total penggunaan listrik setiap bulannya. Nur mengatakan angka tersebut menurun dikarenakan kegiatan di industri akan berkurang selama pelaksanaan bulan suci Ramadhan. “Biasanyakan 100% penggunaannya, ini justru turun, pabrik-pabrik kan pada tutup, jadi lebih hemat 40%,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penurunan konsumsi listrik oleh kegiatan industri terbesar biasanya terjadi pada masa cuti bersama menjelang dan sesudah perayaan Hari Raya Idul Fitri. “Selama cuti bersama Ítu praktis penggunaan listrik itu sangat rendah sekali,” tukasnya.

Selain itu, menurutnya sepanjang bulan Ramadhan, masyarakat yang menjalankan puasa juga cenderung berkurang dalam kegiatannya. “Ini mendorong penghematan pada waktu-waktu tertentu, misalnya saja pagi itu waktu orang sahur nyalain lampunya hanya sebentar,” tutup Nur Pamudji.

Sementara itu, penggunaan Bahan Bakar Minyak khususnya premium bersubsidi diprediksi akan mengalami peningkatan volume. Vice Presiden Corporate PT Pertamina Ali Mudakir mengatakan kenaikan jumlah per harinya sebanyak 80 ribu kilo liter atau naik sebesar 11% ketika masuk pada bulan puasa. Peningkatan penyaluran BBM tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan. “Rata-rata premium 80 ribu kilo liter. Kalau puasa dan Lebaran naik sebanyak 11%,” kata Ali.

Sedangkan untuk bahan bakar gas atau elpiji pasca bulan puasa, Ali mengatakan turut terjadi kenaikan sebesar 7-11% dari rata - rata per harinya yang mencapai 17-18 ton pada hari biasa. "Ketika puasa jumlah tersebut naik sebanyak 7%," ujar Ali.

Sementara untuk penyaluran solar di kisaran 42-43 ribu kilo liter pada hari biasa. Jumlah tersebut diperkirakan turun sekitar 5% karena banyaknya pabrik-pabrik yang akan berhenti beroperasi. “Sekarang di kisaran 42-43 ribu kilo liter. Periode Lebaran akan turun sekitar lima persen karena angkutan-angkutan besar dan pabrik-pabrik banyak yang tutup,” tutur Ali.

Selain itu, Ali juga memastikan untuk Lebaran 2014 akan ada penambahan tangki 38 unit pada Lebaran 2013. Karena konsumsi solar turun pada arus mudik, lanjut dia, pihaknya akan mengisi tangki solar dengan premium untuk menjaga ketersediaan selama arus mudik dan balik.

“Belum dipastikan angkanya berapa, tetapi pasti ada penambahan karena biasanya konsumsi solar akan turun pada H-7 hingga H+7. Biasanya angkutan berat, angkutan barang berhenti beroperasi (pada H-7 hingga H+7). Makanya kita biasanya convert (ganti) yang biasanya diisi solar menjadi tangki premium,” kata Ali.

Sementara, guna mengantisipasi lonjakan konsumsi BBM menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran, Pertamina akan membentuk satuan tugas (satgas) guna memantau pasokan BBM di setiap daerah. "Kita akan bentuk satgas yang akan memantau perkembangan komsumsi BBM pada H-7 Lebaran. Lalu, kita juga menyiagakan pada jalur mudik SPBU agar bisa buka 24 jam. Ditambah mobil tangki Pertamina pada titik mudik tersebut," kata Ali.

Terkait antisipasi penyelundupan dan penimbunan, Ali mengatakan akan diserahkan kepada satgas untuk dilaporkan kepada penegak hukum. "Kalau penyelundupan premium itu jarang, tidak ada bahkan. Buat apa premium ditimbun," kata Ali.

Untuk Elpiji, kata Ali, konsumsi mencapai 17-18 ribu ton per hari saat kondisi normal. “Selama puasa-Lebaran biasa naik sekitar 7% dan kami jaga stok untuk tahan hingga 17 hari setelah Lebaran. Pertamina juga akan menjaga pasokan elpiji 3 kg ini adalah amanah UU di APBN. Pertamina semaksimal mungkin menjaga kuotanya,” jelas Ali.

Sebelumnya total realisasi penyaluran BBM bersubsidi hingga 30 April 2014 mencapai 14,99 juta kilo liter (kl). Angka itu merupakan 31,7% dari kuota BBM bersubsidi APBN 2014 yang dialokasikan kepada pihaknya sebesar 47,35 juta kl.

Related posts