Strategi Perkuat Rupiah

Sekitar 1-2 bulan belakangan ini nilai tukar (kurs) rupiah cenderung terus melemah terhadap dolar AS. Fluktuasi kurs sekarang mencapai kisaran Rp 11.800- Rp 12.000 per US$. Ini mencerminkan kondisi rupiah kembali terdepresiasi akibat banyak kebutuhan dolar AS baik pemerintah maupun swasta. Banyak korporasi besar juga terus memburu US$ guna memenuhi kewajiban utang jatuh tempo pada tahun ini.

Apalagi faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah semakin membengkaknya defisit transaksi berjalan (current account) dan defisit perdagangan Indonesia yang menurunkan kinerja perekonomian Indonesia. Kita tidak bisa terus berdalih bahwa cadangan devisa masih cukup untuk 5 bulan impor dan cukup tangguh untuk membendung ulah spekulan. Pembiaran keberlanjutan depresiasi rupiah berdampak cukup riskan bagi ekonomi keseluruhan.

Masih tingginya ketergantungan industri domestik akan bahan baku impor misalnya, sehingga tiap kenaikan kurs US$ akan selalu diikuti oleh kenaikan ongkos produksi, pasti akan berdampak pada kenaikan harga komoditas yang dihasilkan. Ini berarti harga jual barang produksi domestik pun meroket dan terkerek tinggi sebagai dampak depresiasi rupiah.

Padahal kenaikan harga itu akan berpengaruh langsung terhadap tingkat daya beli masyarakat. Masyarakat awam yang tidak tahu-menahu masalah moneter dan gejolak valas pun, harus ikut terkena getahnya. Selama ini, awam hanya tahu, apabila kurs dollar menguat maka harga barang dan jasa dipastikan ikut naik. Dampaknya, pengeluaran rumah tangga ikut membengkak, sementara pendapatan tidak naik, sehingga jumlah orang miskin makin bertambah. Dengan kondisi ini terlihat fluktuasi kurs rupiah yang abnormal akan berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Di sisi lain, strategi Bank Indonesia menjaga kemerosotan rupiah, BI sudah menandatangani perpanjangan Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan sebesar US$ 12 miliar, berlaku efektif 31 Agustus 2013. Kemudian pinjaman siaga dari pemerintah Jerman senilai Rp 7 triliun. Ini semua bertujuan untuk memperkuat cadangan devisa Indonesia.

BSA merupakan kerja sama antar dua bank sentral untuk memberikan cadangan devisa jika sewaktu-waktu salah satu negara membutuhkan. BSA bisa menjadi lini pertahanan kedua setelah cadangan devisa.

Tidak hanya itu. Indonesia juga harus mengaktifkan pinjaman siaga (standby loan) termasuk dengan lembaga keuangan multilateral dalam skema Chiang Mai Initiative, yaitu kesepakatan negara ASEAN plus 3 (China, Jepang, Korea Selatan) untuk melakukan iuran dana yang bisa digunakan oleh setiap negara anggota. Dalam skema ini, Indonesia memiliki plafon dana yang bisa ditarik sebesar USD 11,9 miliar.

Sementara untuk mengamankan devisa hasil ekspor Indonesia, DPR sudah saatnya mengusulkan amandemen terhadap Undang-Undang (UU) No 24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa Indonesia. Karena UU yang merupakan warisan Konsensus Washington ini berpotensi dapat membuat pasar valas dan pasar modal Indonesia mudah rontok.

Pasalnya, regulasi devisa yang ada sekarang sudah merugikan perekonomian dan sangat mengganggu sektor riil, harus segera direvisi. Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan revisi itu. UU ini juga memberi peluang para eksportir memarkir dana hasil ekspor (DHE) di luar Indonesia, sehingga mampu mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah akibat perbedaan selisih kurs di dalam dan luar negeri.

Jadi, upaya memperkuat nilai rupiah sebenarnya lebih baik memperbaiki jalur tujuan ekspor dan mengurangi beban impor migas terhadap kebutuhan bahan produksi di dalam negeri. Bagaimanapun, strategi memperkuat rupiah yang ampuh adalah meningkatkan volume perdagangan di sektor tradable, dan memanfaatkan diversifikasi ekspor ke manca negara.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

BTN Ajak Siswa Bengkulu Perkuat Nilai Kebangsaan

Menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka…

Perkuat Armada Kapal Baru - Buana Lintas Lautan Bidik Laba Tumbuh 100%

NERACA Jakarta – Rencana penambahan delapan unit armada kapal baru diharapkan bisa mendongkrak performance kinerja PT Buana Lintas Lautan Tbk…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Harian Ekonomi NERACA Genap 34 Tahun

Di bulan Agustus ini, tepatnya pada 18 Agustus 2019, Harian Ekonomi NERACA genap berusia 34 tahun. Meski di tengah maraknya…

Menggenjot Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia saat ini membutuhkan investasi yang besar dari luar sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Apalagi, dengan realitas rendahnya kapasitas tabungan domestik…

Bermanfaatkah Aturan Ganjil Genap?

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan DKI kembali menyuarakan perluasan kebijakan ganjil genap dari semula 9 rute menjadi 25 rute.…