Indonesia Kejar Singapura Sebagai Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia - Infrastruktur Masih Jadi Kendala

NERACA

Yogyakarta – Potensi produk ikan hias memang sungguh luar biasa untuk dikembangkan. Saat ini, dari sisi produksi boleh dibilang ikan hias Indonesia adalah yang nomer wahid. Alam tetapi, dari sisi ekspor, Indonesia masih harus bersaing ketat dengan Malaysia dan terutama Singapura yang kini menduduki puncak klasemen sebagai pengekspor ikan hias kelas dunia.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengungkapkan Indonesia belum bisa menjadi negara terbesar eksportir ikan hias karena masih mengalami masalahnya sangat kompleks, terutama terkait sarana dan prasaran atau infrastruktur pendukung yang belum memadai, mulai dari distribusi, transportasi, dan logistik. Belum lagi, menurut Slamet, infrastruktur penguatan lain yang belum optimal sehingga meski produksi ikan hias nasioanal besar tapi belum bisa mengalahkan Singapura yang saat ini menjadi negara terbesar eksportir ikan hias.

“Sebenarnya kita bisa saja bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura yang saat ini menjadi negara terbesar pengekspor ikan hias, tapi memang seluruh kekuatan dari stakeholder dan seluruh mata rantai yang terkait diperkuat, sehingga perjalanan dari hulu hingga hilirnya berjalan optimal. Dengan begitu diyakini Indonesia siap bersaing dengan Singapura,” kata Slamet kepada Neraca sesat setelah menutup acara Forum Konsolidasi Budidaya Ikan Hias yang mengangkat tema "Peningkatan Produksi dan Mutu Budidaya Ikan Hias yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan Menghadapi MEA 2015" di Yogyakarta, akhir pekan kemarin.

Jika ditelaah, sambung Slamet, ada beberapa hal yang harus dilakukan guna menjadikan Indonesia sebagai pengekspor ikan hias terbesar di dunia. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu saja pada pengutan produksi. Untuk dapat meningkatkan produksi tentu saja harus ada penyediaan induk-induk unggul. Di sinilah pentingnya Balai-Balai yang ada saat ini untuk dapat menciptakan induk unggul. Salah satu menciptakan bibit unggul adalah dengan mengaplikasikan teknologi, agar mampu terkontrol terutama dari serangan penyakit untuk menekan kematian dan tentu saja menjadikan ikan menjadi menarik. “Keunggulan dari ikan hias adalah keindahan jadi, kami menghimbau agar seluruh balai bisa menciptakan ikan hias unggulan untuk dapat dibudidayakan oleh masyarakat,” imbuhnya.

Langkah kedua, menurut Slamet, adalah dari sisi permodalan. Untuk mamajukan aquakultur tentu saja butuh pendukung permodalan. D titik ini, dibutuhkan peran perbankan untuk memberikan suntikan permodalan pada para pembudidaya sehingga produksi bisa terus ditingkatkan. “Jika memang ada upaya peningkatan produksi tentu saja ada penambahan modal, makanya kami mengajak perbankan agar memberikan kemudahan kepada pembudiaya ikan hias untuk dapat meningkatkan produksinya,” ujarnya.

Adapun yang ketiga tentu saja pada hillirisasi industri ikan hias. Menurut Slamet, mustahil produksi tinggi tapi pemasarannya tidak berjalan. Jika sektor hulu hingga hillirinya bisa dikuasasi otomatis untuk mencapai target menjadi pengekspor ikan hias terbesar dunia bukan suatu hal yang mustahi. “Kunci utama ikan hias pada sektor hillir untuk pemasarannya,” tegasnya.

Banyak Kecolongan

Selain masalah-masalah di atas yang perlu dibenahi, dalam pandangan Slamet, perkara lain yang menghambat Indonesia masih belum menjadi eksportir terbesar ikan hias adalah karena Indonesia banyak kecolongan ikan, termasuk banyak ikan yang diklaim oleh negara lain. Maka dari itu, perlu mematenkan hasil perikanan Indonesia. “Selama ini banyak produk ikan nasional yang dklaim oleh negara lain,” ungkapnya.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Produksi, DJPB, Coco Kokarkin Soetrisno. Menurut dia, Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga sangat mudah sekali banyak kekayaan alam nasional diselundupkan ke negara lain, salah satu contohnya adalah ikan Arowana Jardini. Karena biasanya ada pembatasan kuota dari ekpor ikan, maka kalau ada kelebihan diklaim oleh negara lain. Oleh karena itu pentingnya ada kerjasama dengan seluruh elemen terkait agar hal demikian tidak lagi terjadi. “Gerbang distribusi ekspor Indonesia melalui Singapura. Jika produk ikan Indonesia singgah di Singapura lebih dari 6 jam diklaim itu produksi Singapura. Inilah yang terjadi kenapa kita masih diurutan ke-5 dunia pengekspor ikan hias,” ucap Coco.

Kecuali itu, masalah yang masih mengganjal, menurut Coco, belum adanya sinergi antar kementerian terkait baik dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Bea Cukai dan instansi terkait yang belum satu misi sehingga masih ada kesimpang siuran. “Pada prinsipnya kami dari budidaya akan terus berproduksi secara massal, membuktikan kepada mereka bahwa kita mampu dan layak menjadi yang terbesar, harapannya dengan begitu akan dibangun platform yang sama sehingga kita benar-benar memuncaki ekspor ikan hias dunia,” tukasnya.

Related posts