Pemerintah Pastikan Pasokan Beras Cukup - Pantau Pasar Induk Cipinang

NERACA

Jakarta - Untuk mengantisipasi secara dini kemungkinan terjadinya kenaikan harga akibat permintaan masyarakat yang meningkat menjelang puasa dan lebaran, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung, bersama dengan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Pertanian Suswono, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Dirut Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso, serta perwakilan dari BPS, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Sasmito Hadi Wibowo melakukan pemantauan harga, pasokan, dan ketersediaan beras secara langsung di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).

“PIBC merupakan salah satu barometer harga beras yang menjadi acuan harga di pasar-pasar beras di sekitar Jabodetabek bahkan secara nasional, sehingga perlu untuk terus dipantau perkembangan harga, pasokan, dan ketersediaannya,” ujar Menko Chairul Tanjung, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Berdasarkan hasil pantauan H-17 puasa, harga beberapa jenis beras di PIBC dibanding seminggu sebelumnya (5/6) masih relatif stabil. Harga beras premium seperti beras Cianjur Kepala, Cianjur Slyp, Sentra dan Saigon berkisar Rp 9.600/kg-Rp 12.000/kg. Sedangkan untuk harga beras medium di PIBC terpantau mengalami penurunan harga antara 0,6%-2,4%, yaitu beras jenis IR-64 I harganya turun 1,1% dari Rp 8.800/kg menjadi Rp 8.700/kg, IR-64 II turun 2,4% dari Rp 8.100/kg menjadi Rp 7.900/kg, serta IR-64 III turun 1,3% dari Rp 7.500/kg menjadi Rp 7.400/kg. Selain itu, pasokan beras di PIBC per 12 Juni 2014 masih dalam kondisi normal yaitu sebesar 2.714 ton, dengan pasokan normal per hari mencapai 2.500 ton - 3.000 ton.

Chairul Tanjung atau sering disapa CT menyampaikan, mundurnya masa panen akibat cuaca ekstrim dan banjir pada awal 2014 telah berdampak positif karena panen beras di sentra-sentra produksi baru terjadi pada awal Juni-Juli 2014 menjelang puasa dan Lebaran. “Akibatnya pasokan dan ketersediaan beras di pasar-pasar, termasuk ke PIBC, cukup untuk memenuhi kebutuhan puasa dan Lebaran,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, pada periode menjelang puasa dan lebaran, pemerintah akan terus berupaya menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok. “Kita tidak bisa menghindari jika para pedagang menaikkan harga, akan tetapi diharapkan masih dalam batas normal,” ujarnya.

Sementera itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang ikut dalam kunjungan tersebut mengatakan kunjungan semacam ini merupakan langkah yang akan terus dilakukan pemerintah dalam memantau harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok sebelum puasa dan Lebaran. “Kegiatan ini akan kita lakukan secara berkala. Masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir, karena stok barang kebutuhan pokok baik di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern atau ritel cukup,” tegas Mendag.

Saat ini, lanjut Mendag, Pemerintah sudah berkoordinasi antar lembaga dan dengan pihak produsen serta pedagang dalam rangka persiapan menyambut puasa dan Lebaran 2014. Hasilnya, pengusaha ritel telah menambah stoknya sebsar 30%-50%; Kementerian Perhubungan akan memprioritaskan pendistribusian beras, gula, terigu, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam, cabe, bawang, Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Gas (BBG), susu, air minum dalam kemasan, pupuk dan ternak pada H-4 hingga H+1 Lebaran 2014; dan Polri siap mengamankan Puasa dan Lebaran 2014.

“Selain itu, akan dilakukan agenda tahunan, seperti Pasar Murah di Kementerian Perdagangan (26 Juni-22 Juli 2014), Pasar Murah oleh Dinas Perdagangan seluruh Indonesia (24 Juni-22 Juli 2014), pembentukan POSKO Kemendag (26 Juli-3 Agustus 2014), serta mengintensifkan media briefing terkait dengan ketersediaan dan perkembangan harga barang kebutuhan pokok melalui siaran pers,” ungkap Mendag.

Selain melakukan pemantauan stok beras di PIBC, Menko Perekonomian beserta rombongan juga mengunjungi Gudang Bulog DKI Jakarta. Stok beras di gudang Bulog hingga Minggu II Juni 2014 sebanyak 1.941.352 ton (termasuk cadangan beras Pemerintah sebesar 320.733 ton), cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 7,93 bulan. Sedangkan realisasi penyaluran Operasi Pasar (OP) Beras hingga 11 Juni 2014 sebesar 42.198 ton. “Dengan stok sebesar itu Bulog siap melakukan OP Beras apabila terdapat indikasi kenaikan harga di luar batas kewajaran di wilayah tertentu di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Mendag.

Penyebab Naik

Sebelumnya, Dirut Perum Bulog sempat menyatakan setidaknya ada dua penyebab jika harga beras mengalami kenaikan. Yakni, terhambatnya distribusi dan terganggunya produksi beras. “Saat ini tidak ada masalah pada sistem distribusi beras. Artinya, hasil produksi beras harus dipantau agar cukup memenuhi kebutuhan nasional,” kata Sutarto.

Lebih jauh Sutarto mengatakan, pihaknya selalu memantau persediaan beras di gudang. Evaluasi ketersediaan beras dilakukan pada saat Rapat Koordinasi Terbatas sekitar bulan Juni dan Juli. Saat ini stok beras yang ada di gudang Bulog lebih dari 1,8 juta ton. Jumlah tersebut, sambung Sutarto, cukup untuk memenuhi kebutuhan beras miskin (raskin). Jika nanti harga melonjak, Bulog akan mengeluarkan cadangan beras melalui operasi pasar (OP). “Kalau sudah OP, ternyata harga tidak turun, berarti ada masalah lain,” kata Sutarto.

Related posts