Indocement Lepas 51% Saham Anak Usaha

NERACA

Jakarta –Dengan alasan kebutuhan modal, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berencana melepas mayoritas kepemilikannya atau sebesar 51% sahamnya di PT Gunung Tua Mandiri, dengan nilai transaksi mencapai Rp51 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan bahwa perseroan telah menandatangani pengikatan jual beli saham PT Gunung Tua Mandiri, kemarin (12/6). Sebelum dilakukan transaksi, saham PT Gunung Tua Mandiri sebanyak 3.060 lembar saham senilai Rp3,06 miliar dimiliki INTP dan 2.940 lembar saham senilai Rp2,94 miliar dimiliki PT Meganta Indah Sentosa.

PT Gunung Tua Mandiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang usaha pertambangan batu, yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Adapun tujuan transaksi ini untuk reorganisasi bisnis aggregate perseroan. PT Meganta Indah Sentosa bukan merupakan pihak terafiliasi dengan perseroan, sehingga transaksi ini tidak termasuk transaksi dengan pihak terafiliasi. Selain itu, transaksi ini tidak termasuk transaksi material mengacu nilai ekuitas perseroan sebesar Rp23 triliun.

Tahun ini perseroan mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 4,5 triliun untuk mendukung ekspansi bisnisnya. Disebutkan, belanja modal pada tahun ini tercatat lebih besar dibandingkan realisasi belanja modal tahun lalu sebesar Rp2,19 triliun.

Rencananya, perseroan akan mendanai belanja modal tersebut dari kas internal. Menurut Executive Director PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Kartawijaya, persreoan sepanjang tahun 2014 ini merencanakan sejumlah ekspansi, salah satunya pengembangan vertical raw mill yang baru berkapasitas 1,9 juta ton di Citeureup. Pembangunan ini diharapkan selesai pada akhir kuartal I/2014.

Selain itu, perseroan juga dalam tahap persiapan untuk proses perizinan pembangunan dua unit pabrik semen baru. Dia berharap, dua pabrik baru tersebut dapat berkontribusi pada penambahan kapasitas produksi masing-masing 2,5 juta ton semen per tahun,”Satu pabrik di Jawa Tengah dan yang lainnya di luar pulau Jawa,”ujarnya.

Soal kenaikan tarif dasar listrik yang diberlakukan sebulan lalu, kata Christian, pihaknya mengaku kurang setuju meski belum sepenuhnya menggunakan listrik dalam pengoperasian pabrik, Indocement tetap merasa beban operasional akan bertambah dan mencapai angka yang tinggi,”Memang benar, kenaikan TDL memberikan efek besar bagi perusahaan, namun selama ini kami hanya menggunakan listrik 60-65% sisanya menggunakan batu bara dan gas,"ungkapnya.

Christian mengatakan, kenaikan TDL berdampak pada pembiayaan perusahaan yang naik 8%. "Cost kami naik 5-8 persen, tapi kalau kami ingin menaikkan harga, kami juga harus memikirkan suplai dan demand," jelasnya.

Selain itu, perseroan memutuskan menaikkan harga semen secara bertahap sebesar 1-2 persen dalam dua bulan ke depan. "Kami mesti berhati-hati pada pasokan suplai dan demand. Kalau harga naik terlalu cepat, takut market share down," ujarnya. (bani)

Related posts