Kenaikan TDL Gerus Keuntungan Marjin Emiten

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sektor industri menengah go public (I-3) dan industri besar (I-4) serta tarif listrik untuk rumah tangga pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA bakal menjadi beban bagi pelaku usaha dan termasuk daya beli masyarakat. Akibatnya, kebijakan ini mendapatak resistensi dari masyarakat luas, khususnya pelaku usaha yang bakal menjadi beban cost terhadap produksi serta sentiment negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut pengamat Pasar Modal Reza Priyambada, dengan naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL) pada awal Juli 2014 akan memberikan sentimen negatif terhadap emiten-emiten yang masih memanfaatkan listrik untuk kegiatan produksinya. “Beban operasional perusahaan akan bertambah, meskipun tambahannya cukup kecil. Karena beban operasional perusahaan lebih besar di biaya gaji dan tunjangan yang cukup besar,” kata Reza saat dihubungi Neraca, Kamis (12/6).

Menurut dia, setiap ada pemberitaan kenaikan apakah itu Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik atau inflasi maka respon dari pasar akan negatif dan itu akan berakibat kepada emiten-emiten. Namun demikian, Reza mengatakan biasanya setiap emiten punya antisipasi masing-masing dalam menghadapi gejolak kenaikan. “Tentunya emiten mempunyai jalan keluarnya,” katanya.

Makanya dengan adanya kenaikan biaya ini, perusahaan akan memperkecil margin keuntungan atau menaikkan harga produk secara bertahap. Jika opsi yang diambil adalah kenaikan harga pun, akan dilakukan secara bertahap. Karena kenaikan harga akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. “Kenaikan (harga) secara signifikan berimbas terhadap daya beli masyarakat. Kalau (daya beli masyarakat) turun, ujung-ujungnya turun juga pendapatan,” ujar Reza.

Reza juga menyarankan, kepada para investor untuk mengkonfirmasi kepada menajemen emiten untuk lebih memperjelas apakah kenaikan TDL akan berdampak pada perusahaannya atau tidak. “Perhatikan yang disampaikan oleh manajemen sehingga pelaku pasar bisa melihat dampaknya. Namun begitu, mungkin bisa juga investor beralih ke sektor tambang ataupun perkebunan. Akan tetapi perlu diperhatikan juga harga dari komoditasnya,” katanya.

Namun, untuk lebih amannya, Reza menghimbau agar investor untuk wait and see atas dampak kenaikannya. “Itu adalah cara yang aman, mengingat harga beberapa komoditas saat ini sedang kurang bergairah. Biasanya dampak kenaikan akan lama-kelamaan tidak terasa setelah kenaikan itu terjadi,” cetusnya.

Rupanya dampak kenaikan TDL, dirasakan membebani kinerja emiten sektor semen. Pasalnya, dampak kebijakan tersebut, banyak produsen semen menaikkan harga jual agar tidak terbebani kinerja keuangan. Hal inilah yang dilakukan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) yang menaikan harga jual semen sekitar 5%. Langkah yang sama juga dilakukan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang menaikkan harga jual sebesar 4%.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto pernah bilang, pihanya berencana menaikkan harga produknya hingga kisaran 3-4%. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang membebani kinerja perusahaan,”Target kenaikan harga yang kami harapkan dengan asumsi kenaikan cost yang muncul. Realisasi harga sangat tergantung industri di lapangan. Kenaikan targetnya 3-4% karena tekanan cost," ujarnya.

Sementara Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) meminta pemerintah dan Komisi VII DPR-RI meninjau kembali penaikantarif dasar listrik itu. Ketua AEI Airlangga Hartarto mengatakan penaikantarif listrik industri golongan I3 dan I4 tidak memperhatikan kepentingan daya saing.

Airlangga mengatakan kebijakan menaikkan tarif I3 khusus perusahaan publik merupakan disinsentif dan hambatan besar bagi perusahaan untukgo public. Menurutnya, hal ini terpaksa dilakukan agar kinerja perusahaan tidak tergerus. Lanjutnya, kenaikan ini harus diikuti upaya efisiensi, karena bila tidak akan menggerus kinerja perseroan. Asal tahu saja, selain kenaikan tarif listrik, tekanan terhadap kenaikan upah minimum untuk buruh serta harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga menjadi faktor tergerusnya kinerja perusahaan,”Ada dampak juga dari upah buruh, TDL, dan BBM. Upah buruh ini terjadi pada mitra-mitra yang sebabkan cost of service perusahaan," tandas dia. bari/bani

Related posts