Bisnis Tambang Harum Energy Melesu - Targetkan Produksi 8 Juta Ton

NERACA

Jakarta – Makin melesunya bisnis pertambangan, rupanya membuat dampak yang berarti bagi PT Harum Energy Tbk (HRUM). Alhasil, tahun ini perseoan tidak memasang target agresif untuk produski batubara dan hanya sebanyak 8-9,5 juta ton dan hingga kini baru terealisasi 1,5 juta ton.

Kata Direktur Utama PT Harum Energy Tbk, Ray Gunara, target produksi tahun ini mengecil dari tahun lalu,”Tahun lalu produksi batubara kita mancapai 9,7 ton dan tahun ini hanya 8-9,5 juta ton,”ujarnya di Jakarta, Kamis (12/6).

Dia menuturkan, hasil produksi batubara perseroan akan di ekspor ke negara tujuan, seperti Korea, dan China. Teracatat 100% produksi batubara perseroan di ekspor ke China, 70% ke Korea dan sisanya ke Malaysia dan Taiwan.

Sementara itu, Ray menuturkan, perseroan bisa saja memenuhi kebutuhan permintaan domestik. Namun dengan syarat mengajukan kuota batu bara. Ray menjelaskan, pengajuan tersebut sebagai cerminan komitmen membeli batu bara produksi pihaknya. "Kewajiban supply pasar domestik, tetapi bisa dilakukan dengan pembelian kuota," pungkasnya.

Untuk pendapatan kuartal kedua tahun ini, lanjutnya tidak akan berbeda jauh dibandingkan dengan kuartal pertama. Hal ini, kata Ray, disebabkan belum membaiknya industri batubara saat ini. Oleh karena itu, perseroan akan menekan jumlah produksi, “Harga dan produksi juga akan sama karena pasar juga belum membaik. Pertumbuhan volume produksi sedikit lebih rendah dibanding kuartal pertama," terangnya.

Sebagai informasi, PT Harum Energy Tbk mencatatkan pendapatan pada kuartal pertama tahun ini sebesar US$ 128,06 juta. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 42,75%. Sementara itu, beban pokok penjualan melemah menjadi US$99,53 juta dari sebelumnya US$184,66 juta. Laba bersih HRUM di kuartal pertama tahun 2014 melonjak 54,77% menjadi US$10,8 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai US$6,97 juta.

Kemudian untuk belanja modal tahun ini, perseroan mengalokasikan dana sebesar US$10 juta. Dimana sumber pendaaan berasal dari kas internal. Hal ini dilakukan karena perseroan memiliki arus kas yang masih kuat sebesar US$ 200 juta. Nantinya, belanja modal tersebut akan digunakan untuk ekspansi perseroan dan maintenance port, jalan yang dekat pada pertambangan batu bara.

Selanjutnya, hasil keputusan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) menyetujui untuk membagikan dividen sebesar Rp297 miliar. Pembagian dividen berasal dari 60% laba bersih tahun 2013 yang mencapai US$42 juta. Dividen tunai tersebut setara dengan Rp110 per lembar saham.

Ray Gunara menuturkan, dividen yang dibagikan tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2013. Sebagai perbandingan, emiten batubara tersebut membagikan dividen tahun lalu sebesar Rp681 miliar atau setara dengan Rp252 per saham dari hasil laba bersih tahun 2012,”Kebutuhan ekspansi kita pada tahun ini tidak terlalu besar sementara kas juga masih banyak sehingga rasio dividen bisa lebih besar," jelasnya. (bani)

Related posts