Menanti Pilpres Berkualitas - Oleh: Evi Saraswati, Pemerhati Masalah Sosial Politik, Peneliti pada Kajian Kebangsaan Nusantara Berdaulat

Tahapan awal Pilpres (Pemilihan Presiden) telah berjalan, berdasarkan proses pendaftaran yang dilakukan oleh KPU pada tanggal 18-20 Mei 2014 yang lalu, tercatat bahwa Capres dan Cawapres yang mendaftarkan diri hanyalah dua kandidat, yaitu Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo - Jusuf Kalla.

Penyelenggaraan Pilpres yang hanya di ikuti oleh 2 kandidat ini tentu akan membuat aura politik menjadi hangat. Para kandidat akan terus berlomba-lomba mencari dukungan rakyat. Dalam konteks ini tentu diharapkan adanya peningkatan angka partisipasi masyarakat.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua KPU Husni Kamil Manik bahwa pihaknya amat berharap gelaran lima tahunan tersebut benar-benar bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia dengan damai, sesuai harapan semua pihak. “Kami ingin kompetisi bisa lebih diikuti masyarakat kita secara lebih nyaman, membawa ide-ide dan gagasan brilian, juga menawarkan program kerja yang dinanti sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Husni saat ditemui di Hotel Bidakara, Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan.

Selain itu, ia juga berharap agar para capres dan cawapres juga turut serta membantu KPU dalam mewujudkan Pilpres 2014 yang santun, bersih dan damai.”Mari bersama-sama capres dan cawapres menggunakan bahasa yang dilontarkan sejuk dan mengugah. Begitu juga yang disampaikan kepada tim kampanye masing-masing pendukung capres-cawapres,” harapnya.

Pilpres 2014 ini tentu membawa harapan masa depan Indonesia, sehingga besar harapan pesta demokrasi tersebut berjalan bersih dan berkualitas sehingga mampu menghasilkan perubahan sosial yang positif. Perubahan sosial yang positif hanya akan diperoleh jika pemimpin yang terpilih bersih dan berkualitas serta dihasilkan dari proses bersih dan berkualitas, maka Pilpres 2014 yang tidak lama lagi akan di laksanakan di tuntut agar bisa terselenggara secara professional untuk mewujudkan harapan masyarakat.

Terkait hal tersebut, kita tentu tidak mungkin hanya berharap pada KPU selaku penyelenggara Pilpres dan Panwaslu. Hingga saat ini KPU telah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) guna memfilter Capres dan Cawapres agar tidak ada calon yang “cacat”, namun itu saja tidak cukup karena semua pihak harus terlibat dalam mensukseskan Pilpres 2014. Sistem pemilu Indonesia yang menganut prinsip One Man One Vote telah menegaskan bahwa semua rakyat Indonesia wajib berpartisipasi dalam mewujudkan Pilpres yang berkualitas, karena setiap orang memiliki satu suara yang dapat menentukan masa depan Indonesia dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang.

Masyarakat mempunyai kewajiban untuk ikut mengawasi mekanisme pemilu agar berjalan lancar dan sesuai ketentuan, karena dengan mengikuti mekanisme yang benar dan sesuai aturan maka akan dihasilkan pemimpin beradab yang pikiran, ucapannya dan tindakannya selaras yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sebab wajar kalau pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan maju bersaing dalam Pilpres itu mencari dukungan, berkomunikasi dengan sipil atau militer. Dalam konteks ini hal penting yang harus diwaspadai adalah jangan sampai Pemilihan Presiden 2014 ini ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu guna meraup kepentingan pribadi, terutama yang paling ditekankan dalam hal ini adalah pihak asing. Mengingat perpolitikan di Indonesia khususnya Pilpres, memang sangat menarik bagi asing terutama yang punya kepentingan di negara Indonesia.

Menurut Mahfudz Siddiq, Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS dalam perspektif hukum dan UU (Undang- Undang) " tidak ada larangan untuk melakukan lobby- lobby politik. Sebab hal yang wajar dalam politik ada lobby- lobby. Tetapi kalau bicara secara politis, justru akan merugikan orang yang akan maju tersebut jika didukung oleh asing. Karena justru kemudian akan diketahui siapa dibelakangnya".

Imbuhnya “Kalau asing melakukan penjajagan masalah Pilpres, wajar karena mereka melakukan penjajagan dan mencari informasi. Secara politik, kalau sekedar menggali dan menjajagi informasi, tidak masalah. Tetapi kalau sudah melakukan tekanan, itu baru melanggar. Perwakilan asing di Indonesia memang punya aparat intelijen/ spionase. Banyak aktor yang dijadikan spionase oleh asing di Indonesia, ada politisi, peneliti dan juga dari kalangan akademisi. Intelijen kita harus bekerja dengan jeli, bukan sekedar hanya memonitor apalagi menonton. Intelijen kita harus bekerja mengamankan kepentingan nasional dan jangan sampai kepentingan asing masuk dalam Pilpres. Ini yang harus dideteksi secara dini oleh aparat Intelijen kita, Intelijen kita harus bekerja atas nama kepentingan nasional, dan aparat intelijen harus bisa memastikan bahwa dalam Pilpres nanti tidak ada campur tangan kepentingan asing yang justru akan merugikan bangsa dan rakyat Indonesia”.

Memang Pilpres 2014 nanti sangat menarik, karena pertama SBY (presiden aktif) sudah tidak bisa mencalonkan lagi menjadi Presiden. Kedua, belum ada nama- nama yang muncul dan punya figur besar, sehingga ini sangat menarik bagi asing untuk melakukan penjajagan dan menggali informasi demi kepentingannya.

Untuk itu, penyelenggara pemilu, kandidat dan masyarakat sebagai pemilih harus bersikap hati-hati. Jangan sampai cita-cita luhur bangsa ini ternodai oleh hal-hal negatif tersebut. Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki integritas, bangsa yang disegani oleh asing, bukan justru menjadi boneka asing. Bangsa Indonesia harus berdikari dikaki sendiri.

Pemilu yang bersih dan berkualitasdapat dilihat dari minimnya pelanggaran dalam pelaksanaan Pemilu. Partisipasi masyarakat secara sukarela menggunakan hak pilihnya, bukan atas dasar paksaan/ intimidasi baik materil maupun non materil. Semakin tinggi partisipasi semakin legitimid kualitas pelaksanaan Pemilu. Secara kuantitatif keberhasilan Pemilu diukur dari jumlah kedatangan pemilih ke TPS dan keberhasilan Pemilu secara kualitatif dilihat dari rasionalitas pemilihan dan peran aktif dari masyarakat.

Keterlibatan maksimal partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak politiknya menjadi tanggung jawab semua pihak, dengan manfaatkan momentum Pemilu 2014 untuk memilih kandidat capres dan cawapres berdasarkan track record kontribusi terhadap bangsa dan negara. Semoga pilpres 2014 dapat melahirkan pemimpin dan negarawan yang tidak semata mengedepankan kepentingan kelompok dan golongannya, tetapi mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, terutama kesejahteraan dan keutuhan rakyat Indonesia. Selamat melaksanakan Pilpres, semoga Plpres berjalan damai, sukses dan bermartabat.***

Related posts