Menikmati Subsidi BBM

Menikmati Subsidi BBM

Oleh Bani Saksono (wartawan harian Ekonomi Neraca)

Hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) memasang spanduk bertulisan “Premium adalah BBM bersubsidi, Hanya untuk golongan tidak mampu”. “Terima kasih telah menggunakan BBM non subsidi”. Tujuan pesan itu adalah imbauan bagi para orang kaya untuk tidak membeli bahan bakar minyak bersubsidi, yaitu premium.

Bahkan, pemerintah melalui Pertamina mencoba memasyarakatkan piranti elektronis untuk mendeteksi mana yang berhak dan tidak berhak mengonsumsi premium. Alat itu adalah Radio Frequency Identification (RFId). Piranti itu dipasang di kendaraan yang memang dibolehkan membeli premium di SPBU.

Dengan pola itu diharapkan bisa mengurangi besaran subsidi BBM dari tahun ke tahun. Pada 2012, subsidi BBM mencapai Rp 168 triliun. Pada 2013 subsidi itu bertambah lagi menjadi Rp 199,9 triliun. Dan, tahun ini, sedikit turun, tapi tak signifikan, yaitu hanya Rp 5 triliun menjadi Rp 194,9 triliun.

Namun upaya mengurangi subsidi itu tak berjalan efektif. Program RFId berhenti d tengah jalan, padahal pemerintah sudah mengeluarkan rupiah yang tak sedikit. SPBU tak kuasa menolak mobil orang kaya yang ingin membeli premium.

Setidaknya ada tiga alternatif upaya mengurangi besarnya subsidi BBM. Pertama, menaikkan harga premium. Saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), telah terjadi empat kali perubahan harga BBM.

Di era SBY, perubahan harga premium dan solar terjadi empat kali. Tiga kali naik dan sekali turun. Pada Maret 2005, premium naik dari Rp 1.810 menjadi Rp 2.400. Tujuh bulan kemudian naik lagi menjadi Rp 4.500/liter. Tiga tahun kemudian, pada 2008, terjadi kenaikan harga premium menjadi Rp 6.000. Selama tiga tahun, yaitu pada 2009-2012, harga premium turun kembali menjadi Rp 4.500. Terakhir pada 2013 naik menjadi Rp 6.500 sampai sekarang.

Khusus solar, perubahan harganya dari semula Rp 1.890 menjadi Rp 2.100, naik lagi ke posisi Rp 4.300 dan berubah lagi menjadi Rp 5.500.ada 2009-2012, harga premium dan solar sama yaitu Rp 4.500/liter. Kini, solar berada di posisi Rp 5.500.

Bagaimana dengan harga BBM untuk industri? Pemerintah mematok harga yang lebih tinggi dari harga untuk eceran. Harga premium sebesar Rp 10.250/liter dan solar tercatat sebesar Rp 11.150. Penbedaan harga eceran dan industri ini memicu spekulasi pembelian harga bersubsidi untuk kemudian dijual ke industri.

Kedua, konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG). Ongkos BBG jauh lebih murah dari BBM. Dari semula Rp 3.600 per liter setara premium (LSP) menjadi Rp 3.100 untuk sektor transportasi. Harga BBM premium saat ini di Rp 6.500/liter.

Ketiga, alihkan subsidi BBM tersebut untuk menyiapkan sarana angkutan umum massal yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau. Jika sarana angkutan umum memadai, diyakini akan banyak pemakai mobil pribadi yang beralih naik angkutan umum. ()

Related posts