Hanggar Pesawat di Indonesia Masih Minim

NERACA

Jakarta - Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia, atau Indonesia National Air Carrier Association (INACA) mengaku bahwa maskapaipenerbanganmengeluhkan jumlah hanggar pesawat di Indonesia.

Anggota INACA, Edward Sirait, mengungkapkan bahwa di Indonesia hanya punya tiga bengkel perawatan pesawat. Masing-masing yaitu Garuda Maintenance Facility (bengkel yang dimiliki Garuda Indonesia), Merpati Maintenance Facility (yang dimiliki Merpati Nusantara Airlines), dan hanggar yang dimiliki Pelita Air. "Pertumbuhan MRO (maintenance, repair, and overhaul) lamban," ungkapnya di Jakarta, Rabu (11/6).

Jumlah bengkel tersebut dirasa tak memadai, padahal jumlah pesawat yang dimiliki maskapai Indonesia ada 700 unit.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, jumlah bengkel perawatan pesawat di Indonesia kalah banyak. "Di Malaysia ada lima hanggar yang besar, yang kecil juga banyak. Di Singapura juga banyak," kata dia.

Padahal, Edward menambahkan, keberadaan hanggar tersebut sangat dibutuhkan. Sebab, diperkirakan pada 2020, jumlah pesawat mencapai 1.000-2.000 unit. Dia mengaku bahwa pembangunan hanggar terkendala masalah lahan dan perputaran suku cadang.

Bukan hanya minimnya hangar Indonesia saat ini juga masih minim tenaga ahli perawatan pesawat yang sebenarnya berpotensi untuk berkembang.

"Teknisi dan tenaga ahli perawatan masih menjadi profesi langka di Indonesia," kata Presiden Indonesia Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA), Richard Budihadianto.

Menurut Budihadianto, kekurangan teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat juga dapat disebut sebagai isu utama industri perawatan pesawat.

Ia mengingatkan saat ini jumlah teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat di Indonesia diperkirakan di bawah 3.000 orang. Ada beberapa "pemain besar" perawatan dan pemeliharaan pesawat terbang sipil di Indonesia, di antaranya Garuda Maintenance Facility dan Merpati Maintenance Facility.

Dengan besaran pertumbuhan industri penerbangan sipil sekitar 15% setahun (salah satu terbesar di dunia), dunia penerbangan Tanah Air menjadi pasar sangat menjanjikan untuk diseriusi sebagai salah satu kekuatan nasional.

Hingga penghujung 2020 nanti, diperkirakan Indonesia ketambahan sekitar 500 pesawat terbang komersial baru, alias sekitar 14 persen dari seluruh produksi Boeing B-737 series hingga saat ini (gabungan dari klasik, -800ER/NG, -900ER/NG).

Padahal, ujar dia, kebutuhan industri perawatan pesawat untuk lima tahun ke depan mencapai 6.000 orang dengan asumsi kapasitas MRO (maintenance, report, overhaul) nasional meningkat menjadi 50-60 persen.

Apalagi, lanjutnya, potensi peningkatan pasar pesawat di Indonesia sangat besar karena pertumbuhan bisnis penerbangan rata-rata mencapai 20%.

Untuk itu, IAMSA menilai perlunya terobosan pemerintah dan pelaku industri MRO guna memenuhi kebutuhan teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat.

"Institusi pendidikan yang ada sekarang hanya mampu menghasilkan maksimal 600 orang teknisi," kata Richard.

Banyak bandara di berbagai daerah di Indonesia kelebihan kapasitas terutama karena melonjaknya pertumbuhan penumpang pesawat hingga mencapai 20% per tahun. [agus]

Related posts