Menkeu Yakin Indonesia Takkan Krisis

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri menilai perekonomian Indonesia saat ini dinilai stabil, meskipun ada fluktuasi seperti yang dialami nilai tukar rupiah, Ia menegaskan perekonomian Indonesia tidak akan kembali seperti masa krisis 1997-1998 silam.

"Investor harus melihat Indonesia bukan hanya jangka pendek, tapi jangka panjang. Prediksi beberapa kalangan soal Indonesia akan kembali mengalami krisis seperti 1998, itu prediksi yang salah. Perekonomian Indonesia masih stabil," tegas Chatib saat Acara Bahana tentang Proyeksi Ekonomi dan Bisnis Indonesia ke Depan Jelang Pilpres di Jakarta, Rabu (11/6).

Menurut Chatib, masyarakat maupun investor harus percaya bahwa ekonomi Indonesia akan terus berkembang. "Orang-orang harus mulai percaya terhadap pemerintah Indonesia. Performance rupiah masih stabil," katanya.

Chatib menjelaskan, ekonomi Indonesia perlu sedikit diperlambat agar pertumbuhan ke depan bisa lebih stabil. "Jujur, bukan hanya soal tapering off. Tapi isu utama Indonesia adalah soal current account deficit. Kita memilih kalau mau ekonomi stabil ya ekonomi harus slowdown dulu," ucapnya.

Setelah ekonomi stabil, lanjut Chatib, investor global akan kembali masuk ke INdonesia. "Rupiah akan stabil, dana akan balik ke Indonesia dan Indonesia will stand up after the tapering off," sebutnya optimistis.

Chatib menambahkan, perlambatan ekonomi bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga negara lain. "Jangan berharap pertumbuhan di atas 6%, karena memang kondisi global juga mengalami perlambatan. Filipina, Singapura, yang lain juga melambat. Jika tidak melakukan stabilisasi ekonomi sekarang, nantinya tidak akan tumbuh ke depan," katanya.

Pada kesempatan yang berbeda pengamat rkonomi Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty menuturkan berdasarkan laporan IMF beberapa waktu lalu sekarang kita lampu hijau untuk overheating jadi malah positif. Jadi jangan pesimis kita sampai terjerembab dan masuk kejurang krisis. "Melihat secara pertumbuhan makro ekonomi memang ada perlambatan tapi belum masuk sampai krisis. Tapi tetap perlu diantisipasi," katanya.

Oleh karenanya, harapan besar kita terhadap pemimpin yang akan menjabat nanti. Dimana pemimpin akan datang diharapkan bisa memberikn pencerahan dan siap menghadapi semua tantangan ekonomi sekarang dan dimasa-masa mendatangi. "Meski melihat kondisi yang optimisme tetep diperlukan, selain itu juga tentu ada upaya perbaikan konsisten secara struktural dengan tujuan perbaikan ekonomi secara berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakt dalam arti luas," paparnya.

Tapi memang intinya, melihat kondisi ekonomi yang kian melambat meski tidak masuk dalam krisis, tapi harus tetap waspada. “Melihat kenyataan yang ada ekonomi Indonesia dalam status waspada,” tegasnya. (agus)

BERITA TERKAIT

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market

20 Persen Ponsel di Indonesia Dibeli dari Black Market NERACA Jakarta - Sekitar 20 persen dari ponsel pintar yang beredar…

Perusahaan Indonesia Suka Arbitrase Selesaikan Sengketa Bisnis

Perusahaan Indonesia Suka Arbitrase Selesaikan Sengketa Bisnis   NERACA Jakarta - Ahli hukum Wincen Santoso melihat dalam beberapa tahun terakhir ini…

Menteri Luar Negeri - Pasifik Prioritas Politik Luar Negeri Indonesia

Retno Marsudi Menteri Luar Negeri Pasifik Prioritas Politik Luar Negeri Indonesia  Auckland - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan negara-negara…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Serap Rp22 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp22,05 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN)…

IMF Desak Negara-negara Hindari Kebijakan Perdagangan Terdistorsi

    NERACA   Jakarta - Ketegangan perdagangan sejauh ini tidak secara signifikan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca berjalan global, tetapi membebani…

BI Yakin Arus Modal Asing Tetap Deras - Suku Bunga Acuan Turun

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk…