Produk UKM Diminta Tingkatkan Daya Saing - Jualan di Mall

NERACA

Jakarta – Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana untuk mewajibkan mal untuk mengakomodasi produk Usaha Kecil Menengah (UKM). Hal itu membuat angin segar bagi UKM, namun demikian, Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD Hipmi) Jakarta Jaya meminta agar produk UKM lebih dulu untuk meningkatkan daya saing.

Ketua Umum BPD Hipmi Jaya Iskandarsyah Rama Datau menilai saat ini daya saing produk UKM masih sangat variatif. “Sektor UKM harus didorong untuk mampu bersaing. Jangan sampai kalau sudah difasilitasi, barang yang masuk kualitasnya tidak beda dengan kualitas pasar tradisional,” ujarnya di Jakarta, Rabu (11/6).

Karena itu, perlu ada pendampingan dari Dinas Koperasi dan UKM tentang standarisasi kualitas produk UKM. “Akses pasar merupakan salah satu bentuk affirmative action. Ditambah dengan pendampingan kualitas produk, maka akan menjaga kelangsungan UKM untuk bersaing dalam AEC 2015,” kata dia.

Hipmi Jaya mengusulkan sebelum produk UKM dipaksakan masuk di mal, para pelaku UKM harus diberikan pelatihan atau pembinaan agar produk mereka bisa di beli para pengunjung mal dan dapat bersaing dengan prduk yang ada di mal itu.

Salah satu pembinaan yang bisa di berikan misalnya packaging. "Di kita itu banyak produk dari makanan jajanan yang sangat enak dan diminati pasar. Seperti dodol, semprong dan lain-lain. Tetapi karena kemasannya kurang menarik akhirnya pelanggan lebih memilih produk luar negeri/impor yang kemasannya lebih menarik," ujarnya.

Rama mencontohkan kalau di Jepang banyak kue yang sebenernya menyerupai kue-kue jajanan pasar di Indonesai. Bahkan dari segi rasa justru jajanan pasar di Indonesia lebih menarik. Namun, karena kita tidak dikemas menarik akhirnya menurunkan minat pasar untuk membelinya.

“Karena itu, Hipmi Jaya siap membantu pemerintah DKI dalam hal memberikan pelatihan dan pembinaan UKM. Contoh kecil dengan memberikan pemahaman tidak lagi menggunakan plastik kresek sebagai pembungkus, namun dengan kemasan yang lebih menarik,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Bidang UMKM dan Koperasi BPD Hipmi Jaya Zack Sumendap mengatakan, salah satu kesulitan sektor UKM masuk pasar modern bukan hanya disebabkan kualitas produk, namun juga dikarenakan sewa tenant yang terlalu tinggi.

"Untuk masuk ke mal bukan perkara mudah bagi UKM. Modal menjadi perkara tersendiri bagi UKM. Pasalnya mal juga tidak bisa mengorbankan keuntungannya, hanya semata-mata untuk mewadahi UKM. Mal memiliki standar operasi mal tersendiri," ungkap Zack.

Karenanya, BPD Hipmi Jaya mengharapkan adanya alternatif solusi pembiayaan bagi sektor UKM untuk melakukan ekspansi ke pasar modern. "UKM bisa dijadikan sebagai anak asuh pasar modern. Atau memfasilitasi UKM masuk ke mal bisa dijadikan program CSR bagi para pemilik pusat perbelanjaan modern," ujarnya.

Namun, untuk mendesak terwujudnya hal tersebut, harus ada payung hukum jelas yang bisa mewadahi kepentingan pusat perbelanjaan modern dan pengusaha UKM.

“Jangan sampai pemprov ada program bagus, namun tidak bisa diimplementasikan. Jangan sampai kerja sama UKM dengan Mal memberatkan salah satu pihak. Jika itu terjadi maka kerja sama yang ada bukanlah solusi jangka panjang, namun hanya kebijakan sebentar yang akan menimbulkan permasalahan baru di masa datang,” pungkas dia.

Plt. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menegaskan pihaknya akan mencabut izin mal jika tidak mengakomodasi produk usaha kecil dan menengah (UKM) dan pedagang kaki lima (PKL). Dia menekankan hal itu akan mungkin terjadi karena kini dia sendiri yang mengawal pemerintahan di Ibu Kota. “Kalau di mal cuma ada barang mewah enggak ada UKM, PKL-nya saya cabut izinnya. 2-3 bulan ini bahaya enggak ada yang ngerem,” ujarnya.

Dia mengatakan seharusnya cara pandang mengenai mal yang hanya menjajakan barang mewah itu salah. Menurutnya keberadaan PKL masih dibutuhkan tapi akan lebih baik jika lebih tertata. Dia mencontohkan pegawai mal saja harus jajan di pinggir jalan karena tidak mampu membeli panganan di dalam mal. Karena itu, dia menyarankan agar pemilik mal bekerja sama dengan PKL sebagai cara agar pegawai mereka memperoleh makanan dengan harga terjangkau. “PKL yang bikin macet sudah masuk ke dalam. Supaya produk kecil bisa masuk. Biar pegawai mallmakan lebih enak,” tuturnya.

Berpikir Kreatif

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Nus Nuzulia Ishak mengatakan, UKM Indonesia harus selalu bergerak dan berpikir kreatif. Hal ini untuk mengantisipasi perubahan selera pasar lokal maupun dunia. “Hal itu sebagai persiapan menghadapi perdagangan bebas, di antaranya ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015, yang akan membuka peluang sekaligus tantangan pasar yang cukup tinggi," kata dia.

Dirjen PEN juga mengimbau para perajin dan UKM wastra nusantara untuk terus meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya agar dapat memenangkan persaingan tersebut. “Persaingan yang semakin ketat tidak boleh melemahkan semangat berinovasi. Justru harus lebih mendorong semangat dalam menghasilkan produk-produk yang diminati pasar global maupun lokal,” ujarnya.

Related posts