Keyakinan Investor Bikin IHSG Makin Perkasa

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 25,856 poin (0,52%) ke level 4.971,946. Sementara Indeks LQ45 menanjak 4,086 poin (0,49%) ke level 842,081. Maraknya aksi beli di menit-menit terakhir perdagangan menjadi penyelamat tergadap pergerakan indeks BEI yang berhasil menguat. Padahal seharian indeks bergerak datar dalam rentang yang tipis.

Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya, aksi beli investor mampu membawa indeks BEI berada di zona hijau, “Pelaku pasar setelah sempat keluar dari pasar saham domestik, investor asing kembali masuk sehingga indeks BEI berada di area positif,”ungkapnya di Jakarta, Rabu (11/6).

Tercatat dalam data BEI, investor asing membukukan beli bersih (foreign net by) sebesar Rp270,721 miliar. Menurut William Surya Wijaya, kembali semaraknya dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia itu menggambarkan bahwa saham-saham emiten di BEI masih menarik.

Kendati demikian, dibutuhkan sentimen lebih lanjut seperti data ekonomi nasional yang positif agar bisa menunjukkan bahwa IHSG telah lepas dari area konsolidasi. Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pelaku pasar kembali melakukan aksi beli didukung oleh penguatan mayoritas bursa saham regional.

Di sisi lain, lanjut dia, kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) sudah mulai mereda. Berikutnya, pada perdagangan Kamis, indeks BEI masih berada dalam tren penguatan seiring berlanjutnya aksi beli investor asing.

Pada perdagangan kemarin, asi borong saham jelang penutupan perdagangan membuat indeks melesat cukup tinggi di zona hijau. Akhirnya hanya satu sektor yang melemah yaitu infrastruktur, sedangkan lainnya masih menghijau. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 194.277 kali pada volume 3,665 miliar lembar saham senilai Rp 4,664 triliun. Sebanyak 159 saham naik, 108 turun, dan 93 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan mixed. Sentimen rekor Wall Street tidak diserap dengan baik oleh pelaku pasar di Asia. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 10.000 ke Rp 360.000, Link Net (LINK) naik Rp 500 ke Rp 5.000, J Resources (PSAB) naik Rp 300 ke Rp 4.300, dan Unilever (UNVR) naik Rp 275 ke Rp 30.475. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 27.900, Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 235 ke Rp 4.200, Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 175 ke Rp 7.225, dan Bali Towerindo (BALI) turun Rp 135 ke Rp 2.510.

Pada perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 5,527 poin (0,11%) ke level 4.940,563. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 2,212 poin (0,26%) ke level 835,783.Aksi beli sempat ramai di awal perdagangan, membawa Indeks menanjak ke titik tertingginya di 4.959,003. Saham-saham lapis dua sempat menguat cukup tinggi.

Aksi jual di saham-saham bank kelas berat langsung membuat Indeks jatuh ke zona merah. Saham-saham ini dilepas oleh investor domestik. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 107.729 kali pada volume 1,95 miliar lembar saham senilai Rp 2,208 triliun. Sebanyak 127 saham naik, 112 turun, dan 79 saham stagnan.

Pergerakan bursa regional berbalik 180 derajat dibandingkan diawal, mayoritas kini bergerak di teritori positif. Hanya bursa Jepang yang mampu bertahan positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Link Net (LINK) naik Rp 470 ke Rp 4.970, Mayora (MYOR) naik Rp 375 ke Rp 29.350, J Resources (PSAB) naik Rp 225 ke Rp 4.225, dan SMART (SMAR) naik Rp 175 ke Rp 6.475. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 525 ke Rp 27.975, Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 13.575, BCA (BBCA) turun Rp 175 ke Rp 11.075, dan Waran Bali Towerindo (BALI-W) turun Rp 105 ke Rp 1.695.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 3,36 poin atau 0,07% menjadi 4.942,73, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,87 poin (0,10%) ke level 837,12,”Bursa Asia dibuka bervariasi dengan Nikkei menguat tipis dan Hang Seng melemah tipis. Sementara pergerakan indeks BEI cenderung mendatar setelah mengalami penguatan cukup signifikan," kata analis Samuel Sekuritas Tiesha Narandha Putri.

Dia menambahkan, di tengah kondisi bursa saham domestik yang cenderung mendatar, saham-saham sektor energi khususnya batubara dapat mengalami penguatan. Hal itu berdasarkan historis sejak bulan Mei hingga bulan Juni saat ini, dimana IHSG cenderung bergerak konsolidasi dan saham batubara berhasil 'outperform' di saat IHSG mendatar.

Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan, dibutuhkan sentimen positif di dalam negeri lebih lanjut untuk menjaga indeks BEI berada di area positif. Saat ini, lanjut dia, investor sedang mengantisipasi pertemuan kebijakan moneter Bank Indonesia pada 12 Juni besok untuk melihat outlook kondisi perekonomian Indonesia.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 63,15 poin (0,27%) ke level 23.252,59, indeks Nikkei naik 33,08 poin (0,22%) ke level 15.027,88 dan Straits Times melemah 8,37 poin (0,23%) ke posisi 3.286,24. (bani)

Related posts