Total Emisi Obligasi Capai Rp 16,43 Triliun

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan mencapai Rp16,43 triliun. Dimana nilai tersebut disumbang 18 emisi dari 18 emiten. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah, dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan I Agung Podomoro Land Tahap II Tahun 2014 oleh PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Obligasi senilai 750 miliar dengan tingkat bunga tetap tersebut memiliki tenor lima tahun. Adapun peringkat obligasi tersebut adalah idA, yang diberikan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Sebelumnya juga telah diterbitkan Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap I tahun 2014 oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia senilai Rp4 triliun. Obligasi itu terdiri atas empat seri, yakni seri A senilai Rp803 miliar dengan tenor 370 hari, seri B sebesar Rp134 miliar dengan tenor 2 tahun, seri C mencapai Rp1,594 triliun dengan tenor 3 tahun dan seri D senilai Rp1,469 triliun dengan tenor 5 tahun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 387 emisi dari 106 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp216,87 triliun dan US$ 100 juta. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 92 seri sebesar Rp1.111,01 triliun dan US$ 540 juta serta lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp2,14 triliun.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai pasca pemilu presiden nanti, pasar obligasi kembali lebih marah,” Penerbitan obligasi akan marak dengan asumsi arah kebijakan presiden baru ke depannya dinilai bisa mendorong ekonomi tumbuh, “kata Senior Vice President Financial Institution Ratings Pefindo, Hendro Utomo.

Menurutnya, untuk saat ini faktor pemilu presiden masih mempengaruhi psikologis investor untuk melakukan investasi,”Investor sedang menanti hasil pemilu presiden, jika sesuai dengan harapan pasar, serta diiringi dengan pertumbuhan ekonomi maka instrumen investasi seperti obligasi akan mengalami permintaan yang kuat,”ujarnya.

Dalam catatan Pefindo, dia menyebutkan bahwa baru sebanyak 10 perusahaan yang akan menerbitkan obligasi senilai total Rp12 triliun dengan rincian sektor perbankan sebesar Rp7 triliun, pembiayaan Rp2 triliun, dan korporasi Rp3 triliun.,”Penerbitan obligasi di semester I tahun lalu masih cukup marak dibandingkan tahun ini," katanya.

Sementara Head of Fixed Income Research at PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menilai bahwa penerbitan obligasi korporasi pada tahun 2014 ini masih akan tinggi menyusul kebutuhan perusahaan untuk melakukan pendanaan kembali (refinancing),”Obligasi jatuh tempo pada tahun 2014 ini sekitar Rp38 triliun, kondisi itu yang akan mendorong perusahaan akan menerbitkan obligasi,”ungkapnya.

Maraknya penerbitan obligasi, menurut dia, dikarenakan juga industri perbankan di Indonesia yang mengalami sumber pendanaan terbatas. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) perbankan domestik saat ini mencapai 92%. (bani)

Related posts