BI: Indonesia Masih Jadi Negara Tujuan Investasi

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Mei 2014 aliran dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 130 triliun. Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, tingginya aliran dana yang masuk ini menunjukkan investor masih tertarik untuk menyimpan dananya di Indonesia.

"Adacapital inflowRp 130 triliun dari awal tahun sampai Mei," kata MIrza saat acara Bahana tentang Proyeksi Ekonomi dan Bisnis Indonesia ke Depan di Jakarta, Rabu (11/6).

Mirza menjelaskan, penyebab derasnya aliran dana masuk karena investor telah melihat kebijakan moneter dan fiskal Indonesia cukup berhasil menekan angka defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Pada kuartal II-2013, CAD tercatat masih 4,4% dari produk domestik bruto (PDB). CAD terus menurun hingga mencapai 2,06% PDB pada kuartal I-2014.

"Capital inflowmasuk karena melihat kebijakan moneter dan fiskal sudah berhasil mengurangi CAD," ujarnya.

Hal lain, kata Mirza, adalah harapan soal pemerintahan baru yang diharapkan bisa melanjutkan agenda reformasi. Ini juga ikut mendorong investasi masuk ke Indonesia. "Mereka (investor) berharap pemerintah ke depan melanjutkan reformasi ekonomi, hukum, politik, birokrasi. Jadi penting sekali, siapa pun pemerintahan ke depan harus bisa untuk melanjutkan agenda reformasi," tegas Mirza.

Dengan kondisi masuknya aliran modal asing, Mirza memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menguat. BI memperkirakan rupiah akan berada di level Rp 11.300-Rp 11.800 per dolar AS hingga akhir tahun. Angka tersebut merupakan angka keseimbangan di mana bisa memberikan keuntungan bagi eksportir dan juga bisa mengurangi impor yang tidak perlu.

"Kebijakan kurs mengikuti pasar, adasupplydandemand.Supplydatang dari eksportir,capital inflowinvestor luar negeri.Demanddatang dari impor, termasuk impor yang masih tinggi. Kita sekarang targetnya mengurangi dan impor meningkatkan ekspor. Makanya BI bilang level Rp 11.300-Rp 11.800 itu adalah yang memberikan insentif bagi eksportir tapi juga dapat mengurangi impor yang tidak perlu," paparnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Pengamat ekonomi dari lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, menuturkan Indonesia memang masih membutuhkan investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, namun harus diwaspasai bahwa masuknya investasi asing tidak selalu membawa manfaat bagi negeri ini, terutama untuk jangka panjang.

Namun, sambung dia pemerintah agar lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka sektor usaha strategis untuk investor asing. Masuknya investasi asing di sektor-sektor tertentu, terutama di bidang sumber daya alam, belum tentu membuahkan hasil seperti diharapkan. Bahkan, cenderung negara atau bangsa Indonesia yang dirugikan.

"Saat ini ada sejumlah sektor usaha yang dijalankan atau dikuasasi investor asing yang merugikan kepentingan nasional. Sayangnya, kebijakan yang merugikan itu sulit sekali dibatalkan karena terganjal kontrak," katanya.

Dia juga menilai bahwa masuknya investor asing juga tidak mampu menyerap lapangan kerja baru yang signifikan. "Masuknya modal asing tidak serta-merta memecahkan persoalan pengangguran.

Bahkan, tidak sedikit investor asing yang lebih banyak menggunakan tenaga kerja asing dalam mengoperasikan usahanya, sedangkan para pekerja domestik hanya sebagai pelengkap," tukasnya. (agus)

Related posts