Berburu Batu Mulia di Berbagai Belahan Indonesia

Berburu Batu Mulia di Berbagai Belahan Indonesia

Batuan mulia dari Indonesia ternyata sudah terkenal di berbagai belahan dunia. Kualitasnya tak kalah dengan batuan dari luar negeri seperti giok, safir, dan diamond. Malah, ada batu giok yang berasal dari tanah Aceh.

Bahkan, Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris memakai cincin batu edog atau panca warna dari Garut. Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga memakai cincin batu bacan dari Halmahera. Di Jepang, batu Kalimaya Black Oval dari Banten telah dijadikan mahar perkawinan.

Hal itu diungkapkan Suwandi Gazali, penggagas even berskala internasional yaitu Indonesian Gemstone Competition and Exibition Serie II dan Biggest Gemstone Fair in South East Asia yang akan digelar pada 17-21 September 2014 di Mangga Dua Town Square, Jakarta. “Kualitas batu mulia asal Indonesia tak kalah bagus dari batu dari luar negeri, dan batu mulia kita sudah menembus pasar internasional,” kata Suwandi.

Suwendi mengungkapkan, pihaknya akan mengundang para pencinta batu mulia dari berbagai negara seperti Hong Kong, Thailand, Korea Selatan, Tiongkok, juga Philipina dan Malaysia. Acara serupa seri 1 sudah diadakan di GOR Ciracas, Jakarta Timur pada 12-15 Maret lalu.

Selain pameran, IGS juga akan menerbitkan buku ensiklopedi tentang batu mulia asal Indonesia. Buku diberi judul ‘The World of Indonesia Gemstone’ dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Itu sebabnya, dia berharap batu mulia di Indonesia bakal menjadi industri kreatif yang bernilai tinggi. Yang diperlukan adalah bagaimana menjaga agar batuan mulia asal Indonesia tidak diklaim sebagai hasil kekayaan negara lain. “Konsumen batu mulia dari Indonesia terbanyak di dunia setelah Tiongkok, yaitu sekitar 12 juta orang,” kata Suwandi yang juga perintis Majalah Indonesian Gemstone (IGS).

Untuk mencari tahu lebih dalam tentang batu mulia asal Baturaja, IGS pun mengadakan Ekspedisi The Blues From Baturaja’. Sebelumnya, ekspedisi dilakukan untuk berburu Kristal Lumut Aceh (idocrase), dan giok Aceh (nefrit jade).

Kalangan pencinta batu mulia (gemslover), mulai dari kolektor, perajin, dan pedagang berharap pemerintah mengeluarkan regulasi untuk melindungi kekayaan batu mulia Indonesia. “Sebab, tanpa tata niaga atau regulasi tentang industri batu mulia, akan banyak batu mulia asal Indonesia yang diakui milik asing,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Jaya Jakarta Gems Center (APPJ-JGC) Zulfikar.

Menurut Zulfikar, dengan adanya tata niaga atau regulasi tentang industri batu mulai, batu mulia asal Indonesia akan diperhitungkan di luar negeri. Pemerintah, kata dia, juga akan memperoleh pendapatan dari pajak. “Dengan adanya tata niaga batu mulia, nantinya tidak ada lagi istilah illegal stone,” kata dia.

Sedangkan bagi para gemslover, IGS akan menyiapkan wadah organisasi Perhimpunan, Pengusaha dan Pecnta Batuan Mulia Asli Indonesia (P3BMAI). Di berbagi daerah, sudah banyak berdiri kelompok komunitas penggemar batu mulia. Contohnya, Komuntas Akik Selatan (Bengkulu Selatan), Komunitas Kalimaya Tangerang,

Pusat-pusat perdagangan batu mulia juga banyak terdapat di Jakarta, di Jakarta Gems Center, di Rawa Bening, Jatinegara, maupun Grand Cakung Gems. Nyaris di semua kota ada.

Mau tahu berapa harga batu mulia asal Indonesia? Dragon Agate misalnya dijual US$ 250 ribu. Btu Gartut Ohen seberat 1 kg dihargai Rp 800 juta. Batu Sun Go Kong dikisaran Rp 1 miliar, sama seperti harga batu quartz Fosil Kapal.

Indonesia juga memiliki laboratorium batu mulia bersertifikat internasional (International Colour Gems Laboratory (ICGL) di Jakarta yang didirikan Shaheen Nazir FGG dan Vivian Andrasari GG. Keduanya berlatar pendidikan di German Gemological Institute dan Gemological Institute of America. Di Bandung, Sujatmiko, pemilik Gem-afia Lab, merintis berdirinya Pusat Promosi Batumulia Indonesia (PPBI). (saksono)

Related posts