Biaya Eksplorasi Timah Rp 84,86 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Timah Tbk (TINS) mengeluarkan biaya eksplorasi timah bulan Mei 2014 sebesar Rp26.476.848.611 untuk operasional dan Rp58.388.272.796 untuk investasi. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Agung Nugroho, eksplorasi laut dilakukan di perairan Kundur dan Bangka serta di darat berlokasi di Bangka dan Belitung. Hasil yang didapat dari eksplorasi Mei 2014 adalah pada eksplorasi laut mendapatkan penemuan sumber daya 2.318 ton untuk inferred, 2.108 ton indicated dan 5.279 ton measured.

Sedangkan hasil kegiatan eksplorasi di darat mendapatkan penemuan sumber daya 3.607 ton untuk inferred premier, 73 ton untuk inferred alluvial, 10 ton untuk indicated alluvial dan 52 ton measured alluvial. Sedangkan perseroan melalui PT Timah Eksplomin tidak melaksanakan eksplorasi nikel.

Sebelumnya, perseroan juga tengah fokus menyelesaikan pembangunan pabrik Logam Tanah Jarang (LTJ). Rencananya, pabrik Logam Tanah Jarang ini dapat mulai beroperasi pada tahun 2015. "Pabrik LTJ akan dibangun tahun ini dan direncanakan mulai berproduksi tahun 2015," kata Direktur Utama TINS, Sukrisno.

Untuk pembangunan pabrik ini, menurut dia, perseroan menganggarkan dana investasi sekitar Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar. Nantinya, pabrik Logam Tanah Jarang ini akan menghasilkan produk dalam bentuk Hidrooksida, dan dapat memproduksi sebanyak 50 kilo gram per hari atau sekitar 15 ton per tahun. "Produksi untuk Tanah Jarang ini dihitung per kilo gram bukan ton, kami prediksi kapasitasnya sekitar 50 kg/hari," ucapnya.

Menurut dia, tingginya permintaan dunia atas beberapa mineral ikutan dati Timah (Sn) yang sering disebut LTJ atau rate earth membuat perseroan memfokuskan diri untuk memproduksinya. Harga dari produk yang dihasilkan (hidrooksida) ini pun ditaksir dapat mencapai 10 kali lipat dari harga logam timah. "Sampai saat ini kami belum melakukan penambangan kami masih menggunakan hasil limbah tambang timah. Tapi kami melihat prospek ke depan untuk produk hasil LTJ ini sangat baik, karena harganya saja mencapai 10 kali lipat harga timah," jelasnya.

Saat ini, kata dia, prosesnya sendiri sudah berjalan dan dalam tahap land clearing (pembersihan lahan) di kawasan industri Tanjung Ular. Pihaknya berharap, pengembangan ini juga dapat menjadi pioner terhadap percepatan kawasan industri tersebut.

Asal tahu saja, perseroan menglokasikan 55% dari perolehan laba tahun 2013 untuk dividen tunai. Tercatat sepanjang tahun 2013, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 515,1 miliar atau Rp 102 per saham, naik 19% jika dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp 413,6 miliar atau Rp 86 per saham.

Dividen tunai yang akan dibagikan perseroan kepada para pemegang saham yaitu sebesar Rp 56,29 per saham. “Tadinya kita mengusulkan untuk sebagian atau sebesar 40% dari perolehan laba bersih TINS di 2013 untuk dividen. Tapi, pemegang saham justru setuju untuk mengalokasikan 55% dari laba 2013 Perseroan untuk dividen.” katanya. (bani)

Related posts