Bea Masuk Impor Sapi Jadi Hambatan Pengusaha

NERACA

Jakarta – Menjelang datangnya bulan Ramadan dan Lebaran, permintaan terhadap komoditas daging khususnya daging sapi mengalami peningkatan. Semenjak dibukanya keran impor sapi, para importir pun dengan mudah mendatangkan karena tidak lagi menggunakan sistem kuota. Namun demikian, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi menyatakan bahwa ada beberapa keluhan dan permintaan pengusaha.

“Ada permintaan dari pengusaha untuk pengurangan biaya sertifikat kesehatan yang cukup mahal. Selain itu, bea masuk sebesar 5% masih memberatkan mereka jadi minta untuk diturunkan. Hal ini sudah disampaikan ke Kementerian Pertanian dan mereka sudah beri suratnya,” ungkap Bachrul di Jakarta, Selasa (10-6).

Menurut Bachrul, kemudahan bagi pengusaha mutlak diberikan untuk mendorong sapi indukan sebanyak 1 juta ekor ke Indonesia. “Permintaan sampai sekarang belum banyak, baru 5.000 ekor. Sementara di kaurtal I jumlahnya baru 2.500 ekor. Karena masih nunggu perkembangan dari permintaan pengusaha. Kami akan membuka keran impor seluas-luasnya bagi sapi indukan asal Australia,” ucapnya.

Untuk daging sapi, dirinya mengaku telah mengeluarkan persetujuan untuk impor daging sapi pada kuartal II sebesar 45 ribu ton. Akan tetapi, hingga saat ini realisasinya baru mencapai 8.136 ton. Namun demikian, ia meyakini bahwa jumlah ini dirasa cukup untuk mengantisipasi lebaran. “Antisipasi sampai lebaran masih cukup, dan dua minggu setelahnya, impor akan naik,” ucap dia.

Lebih jauh lagi, Bachrul mengatakan bahwa pemerintah memastikan pasokan daging sapi cukup untuk memenui kebutuhan saat puasa dan lebaran. Daging ini berasal dari sapi bakalan serta sapi potong yang diperkirakan mencapai ribuan ekor baik dari lokal maupun impor. “Jadi sebelum lebaran, per hari ini sudah ada 145 ribu ekor sapi bakalan dan sapi siap potong 18.900 ekor, sapi lokalnya 3.037 ekor. Itu yang sudah ada dan siap," ujarnya.

Harga Melonjak

Pedagang pasar tradisional memperkirakan akan terjadi kenaikan harga daging sapi seminggu sebelum puasa. Perkiraan tersebut muncul berdasarkan pengalaman pada puasa tahun-tahun sebelumnya. “Biasanya naik. Masalahnya dari pemotongan naik. Belanjaan naik secara tidak langsung," kata Hadi (48) pedagang Pasar Kebayoran Lama, Jakarta.

Hadi melanjutkan, saat ini harga daging sapi tercatat Rp 95 ribu per kilogram (kg). Harga tersebut, akan naik secara bertahap seminggu sebelum puasa di kisaran Rp 10 ribu. Lalu naik lagi seminggu menjelang lebaran dalam kisaran yang sama. “Ya kurang lebih dijual di harga Rp 105 ribu per kg biasanya, pertengahan puasa Rp 110 ribu. Jadi dua kali naiknya,” imbuhnya.

Meski demikian kenaikan harga sapi yang relatif tinggi ini tidak membuatnya khawatir. Justru, naiknya harga sapi ketika memasuki masa puasa diharapkan mampu mendongkrak penjualannya. Pasalnya sebagian besar pelanggan, pasti akan menghidangkan menu yang istimewa untuk berbuka puasa. “Ya puasa penjualan kenceng. Kan biasanya pelanggan pengen masak istimewa. Bahkan penjualan bisa naik 300% dari biasanya bahkan bisa lebih,” ungkapnya.

Teguh (32) juga menuturkan hal yang sama. Saat ini, kata dia harga daging sapi belum menunjukan adanya kenaikan. Pedagang yang mengaku menjual daging sapi impor ini mengaku menjual dengan Rp 72 ribu per kg. Menginjak masa puasa, ia bisa menjual daging sapi sebanyak 3 kali lipat. "Biasa seekor sehari, jadi 4 ekor sampai 5 ekor,” pungkas dia.

Rugikan Petani

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boedyana menyatakan kebijakan yang membuka lebar impor sapo telah menekan para pelaku usaha peternakan sapi dalam negeri, akibat membanjirnya daging sapi impor di berbagai pasar tradisional.

Pihaknya mengeluhkan gairah usaha peternakan sapi potong rakyat di pedesaan yang kian lesu akibat kebijakan impor yang ditujukan untuk menekan harga daging sapi di dalam negeri. “Berdasarkan pantauan DPP PPSKI di Jakarta, Bogor, dan Bandung sebagai wilayah konsumen, daging impor kelas variety meat dan juga jeroan marak dijual di pasar tradisional kepada masyarakat umum,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pantauan itu, pelaku usaha peternakan sapi lokal mendeak Kementerian Perdagangan untuk segera menghentikan peredaran daging sapi impor berjenis variety meat dan jeroan di pasar-pasar tradisional. “Sebab, komoditas itu telah mendistorsi pasar jeroan yang berasal dari sapi-sapi lokal. Jeroan merupakan sumber pendapatan para pedagang daging dan jagal di dalam negeri,” imbuh Teguh.

Menurutnya, kondisi itu dapat menurunkan harga jual daging sapi dan sapi hidup di dalam negeri. Padahal, lanjutnya, variety meat dan jeroan telah mampu diproduksi secara mencukupi di dalam negeri.

Related posts