Pemerintah-Korporasi Harus Perdalam Pasar Keuangan - Tumbuhkan Ekonomi Berkelanjutan

NERACA

Jakarta - Komisi XI DPR melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Mirza Adityaswara yang dicalonkan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pemaparannya, Calon DGS-BI, Mirza Adityaswara mengatakan dalam menumbuhkan perekonomian secara berkelanjutan, maka pemerintah dan korporasi harus bisa memperdalam pasar keuangan.

“Saat ini pemerintah dan korporasi sangat membutuhkan pasar keuangan yang dalam dan kuat. Apalagi pada triwulan II hingga IV di tahun 2013 guncangan pada pasar keuangan Indonesia sangat kuat,” kata dia, saat menjalani fit and proper test di Gedung DPR Jakarta, Senin (9/6). Kemudian Mirza menilai, sudah saatnya pemerintah dan korporasi sebagai agen pertumbuhan ekonomi tidak melulu hanya mengandalkan sumber pembiayaan dari industri perbankan dan non-bank nasional. Menurut dia, harus ada pengelolaan ekonomi yang sehat melalui pendalaman pasar keuangan. “Jika penurunan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan tidak dibarengi dengan pendalaman pasar keuangan, tentu akan menyulitkan lembaga perbankan untuk mencari sumber pendanaan. Oleh karenya, sumber pertumbuhan dana harus dari pasar keuangan,” jelas Mirza.

Hampir di sepanjang tahun 2013, lanjut Mirza, pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan yang kuat akibat melemahnya sejumlah indikator makroekonomi, seperti inflasi dan defisit transaksi berjalan yang mencapai 4,4% dari PDB pada kuartal pertama tahun 2014.

“Menjelang akhir tahun 2013, pemerintah dan BI mengambil kebijakan untuk menjaga stabilitas keuangan, supaya mesin pendanaan berjalan kembali,” tandas dia. Dia juga mengungkapkan pendalaman pasar sangat penting untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Upaya pendalaman pasar perlu didukung dengan sejumlah instrumen yang propasar. Perbankan juga diharapkan bisa memanfaatkan lebih banyak instrumen untuk memperoleh pendanaan.

“Tidak dipungkiri, Indonesia masih memerlukan bantuan investor asing untuk pendalaman pasar. Pasalnya, investor asing memiliki ekses dana di luar negeri. Oleh karena itu, perlu insentif dan perlakuan yang sama terhadap pajak," ungkap Mirza. Sebelumnya, Mirza Adityaswara, resmi terpilih menjadi Deputi Gubernur Senior BI yang baru pada September 2013 untuk mengisi posisi jabatan pergantian antarwaktu yang ditinggalkan Darmin Nasution. Mirza berhasil mendapatkan 32 suara, mengalahkan kandidat lainnya, yakni Kepala Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan.

Mirza memulai karirnya sebagai bankir dengan bekerja di Bank Sumitomo di Jakarta pada 1989-1993. Kemudian dia bekerja di BZW Niaga Securities sebagai analis perbankan atau asisten direktur pada periode 1995-1997.

Mirza lalu menjabat sebagai direktur di Deutsche Morgan Grenfell pada rentang 1997-1998, sebelum melanjutkan kariernya di Indosuez WI Carr hingga 2001. Mirza juga sempat menjabat direktur di Credit Suisse Securities pada periode 2002-2005. Dia lalu menjabat sebagai Managing Director Mandiri Sekuritas pada periode 2005-2008 kemudian menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri.

Pada tahun 2012 Mirza diangkat menjadi Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan kini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

Posisi Deputi Gubernur Senior BI sempat kosong hampir empat tahun lamanya sejak Darmin Nasution yang menjabatnya pada 2009 diangkat menjadi Gubernur BI menggantikan Boediono, yang menjadi Wakil Presiden.

Dengan resminya Mirza saat itu menjadi Deputi Gubernur Senior BI, maka formasi dewan gubernur sebagaimana dipersyaratkan Undang-Undang Bank Indonesia (UU BI) terpenuhi dengan formasi gubenur, deputi gubernur senior dan empat deputi lainnya. [mohar]

Related posts