Meningkat Pasar Otomotif di Indonesia - Dongkrak Penjualan Ban di 2014

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur jalan raya mendorong pertumbuhan pangsa pasar ban di Indonesia terus meningkat, ditambah pertumbuhan industri otomotif baik roda dua maupun roda empat terus tumbuh setiap tahunnya.

NERACA

Michelin X Coach Energy Z mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya cukup konsisten sekitar 5-6% per tahun. Pertumbuhan ini disumbang oleh berkembangnya masyarakat kelas menengah. Kondisi tersebut membuat pasar ban di kendaraan komersial terus tumbuh, selain pasar ban untuk roda dua dan roda empat.

"Pangsa pasar ban radial di Indonesia sekitar 16%. Michelin mengambil pangsa pasar 7%," kata Country Director Michelin Indonesia, Jean-Charles Simon pada peluncuran Michelin X Coach Energy Z di Jakarta.

Kebutuhan ban radial untuk segmen bis penumpang meningkat tajam sejak 2013 dibanding segmen bis atau truk sebesar 11.16%. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga 28% pada 2019.

Sementara pangsa pasar ban radial melalui Original Equipment (OE) diperkirakan mencapai 14,6% pada 2019, meningkat hampir empat kali lipat dari total 3,5% pada 2013.

“Semakin meningkatnya infrastruktur dan kebutuhan akan transportasi membuat ban radial merupakan pilihan yang tepat untuk kebutuhan tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia, mengatakan, memasuki semester II, situasi global kami harapkan sudah ada perbaikan di Amerika dan Yunani. Meski demikian, asosiasi masih mengkhawatirkan pasar Timur Tengah yang saat ini masih bergejolak, karena pasar di sana berkontribusi cukup besar terhadap permintaan ekspor ban kita. Mesir berkontribusi 30% terhadap pasar ban ekspor.

Menurutnya sepanjang tahun ini, pertumbuhan pasar ban diperkirakan mencapai 2%-3%, atau melambat dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun lalu sebesar 6%. Hal tersebut sejalan dengan kondisi permintaan ban di pasar ekspor yang sedikit mengalami perlambatan di beberapa kawasan.

Selain itu, secara total, dari keseluruhan produksi ban di Indonesia, sekitar 80% diantaranya dialokasikan untuk pasar ekpor, sementara 20% sisanya untuk pasar domestik. Permintaan domestik saat ini hanya 11 juta unit ban kendaraan.

Pasar Ban Motor

Pasar ban motor tahun ini akan mengikuti pertumbuhan penjualan kendaraan roda dua. Diperkirakan sepanjang 2014 penjualan ban motor akan tumbuh 10%–15%. Penambahan jaringan dan produk baru dipilih para produsen untuk mengerek kinerja.

Bayu Surya Pamugar Sugeng, Head of Sales and Marketing Motorcycle Product Line PT Michelin Indonesia memprediksi, pertumbuhan penjualan ban roda dua secara nasional sekitar 10%–15%. Lebih tinggi ketimbang prediksi pertumbuhan penjualan sepeda motor yang sekitar 10%. Alasannya, produksi ban motor juga ditujukan ke pasar replacement.

Bayu menilai motor-motor yang akan menjadi produk favorit 2014 adalah motor sport dan skutik. "Motor jenis sport menggunakan ban tubeless. Motor skutik juga mulai menggunakan ban jenis ini. Michelin dengan ban tubeless-nya akan menunjang permintaan ban motor-motor itu," kata Bayu.

Untuk itu, Michelin akan mendongkrak penjualannya lewat ban jenis pilot street. Kemudian, mencoba masuk ke semua tipe ban untuk kuda besi. Selain itu, produsen ban asal Prancis itu akan menambah jaringan distributor dengan menggandeng peritel ban, Planet Ban. Saat ini Planet Ban memiliki lebih dari 90 gerai di Jawa dan Bali.

PT Multistrada Arah Sarana Tbk juga melihat penjualan ban sepeda motor tahun bakal tumbuh seiring penjualan motor. "Potensi pertumbuhan masih terbuka, khususnya di luar Jabedetabek," kata Uthan Sadikin, direktur pemasaran dan penjualan multistrada.

Multistrada akan menambah varian baru untuk produk unggulan mereka, Corsa pada 2014. Selain itu, Multistrada akan menambah jaringan ritelnya sekitar 200 unit selama tahun 2014.

Terkait pelemahan rupiah, perusahaan ban milik Pieter Tanuri itu sudah melakukan penyesuaian harga jual. "Kenaikan harga mengikuti pasar. Ban motor sudah naik 5-8%," kata Uthan.

Sementara itu, meski ikut terkena dampak pelemahan rupiah, Michelin masih mempertahankan harga jual produknya agar tidak terlalu jauh berbeda dengan produk pesaing. Kendati begitu, bukan berarti strategi tersebut sama sekali tidak dilirik. "Belum ada plan untuk menaikkan harga," kata Bayu.

Related posts