IHSG Masih Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 52,093 poin (1,06%) ke level 4.885,083. Sementara Indeks LQ45 jatuh 10,071 poin (1,21%) ke level 823,576. Pelemahan indeks BEI yang terjadi sejak awal perdagangan hingga akhir perdagangan menjadi satu-satunya indeks pasar saham yang melemah di antara bursa-bursa regional.

Perburuan aksi jual investor asing menjadi pemicu anjloknya indeks BEI Senin awal pekan. Sebaliknya, dipicu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di posisi Rp 11.770 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 11.825 per dolar AS.

Analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG BEI bergerak melemah merespon sentimen negatif dari rencana kenaikan kembali tarif dasar listrik (TDL) pada Juli nanti dan pernyataan BI bahwa Indonesia masih rentan dengan gejolak ekonomi global, “Sentimen kenaikan TDL membuat pergerakan indeks BEI melawan arah bursa saham di kawasan Asia yang merespon positif laju bursa saham Amerika Serikat dan juga merespon kenaikan produk domestik bruto (PDB) Jepang,”ujarnya di Jakarta, Senin (9/6)

Dia menuturkan, meski nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Namun masih belum mampu menopang indeks BEI beratahan di area positif. Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pelaku pasar dikhawatirkan oleh potensi kenaikan suku bunga (BI rate), “Dalam kondisi saat ini, pelaku pasar dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk akumulasi posisi di beberapa saham selektif," katanya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan akan bergerak menguat terbatas. Pada perdagangan jemarin, meski jatuh cukup dalam, tapi tidak semua indeks sektoral melemah. Ada satu sektor yang masih menguat, yaitu sektor aneka industri. Sembilan sektor lainnya melemah di teritori negatif, dipimpin oleh sektor tambang yang jatuh paling dalam. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 775,11 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 189.860 kali pada volume 5,276 miliar lembar saham senilai Rp 4,811 triliun. Sebanyak 61 saham naik, 234 turun, dan 81 saham stagnan. Bursa di Asia berhasil menutup perdagangan awal pekan dengan kompak menguat di zona hijau. Hanya Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berakhir negative.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Taisho (SQBI) naik Rp 19.500 ke Rp 323.500, Link Net (LINK) naik Rp 485 ke Rp 4.090, Supreme Cable (SCCO) naik Rp 250 ke Rp 4.400, dan Sarana Menara (TOWR) naik Rp 150 ke Rp 4.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 23.950 ke Rp 1,05 juta, Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 10.000 ke Rp 350.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.100 ke Rp 28.500, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 700 ke Rp 67.200.

Pada perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah 28,086 poin (0,57%) ke level 4.909,090. Sementara Indeks LQ45 turun 5,467 poin (0,66%) ke level 828,180. Hanya satu sektor yang masih bisa menguat, yaitu sektor aneka industri. Saham-saham tambang jadi sasaran aksi jual, memimpin pelemahan pada sesi pertama.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 98.977 kali pada volume 1,943 miliar lembar saham senilai Rp 1,992 triliun. Sebanyak 71 saham naik, 189 turun, dan 80 saham stagnan. Bursa regional masih kompak bertahan di teritori positif sejak pembukaan perdagangan pagi tadi. Pelaku pasar berani beli saham setelah melihat Wall Street cetak rekor.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Taisho (SQBI) naik Rp 2.000 ke Rp 30.600, Link Net (LINK) naik Rp 320 ke Rp 3.925, Mayora (MYOR) naik Rp 300 ke Rp 28.975, dan Supreme Cable (SCCO) naik Rp 250 ke Rp 4.400. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 23.950 ke Rp 1,05 juta, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 675 ke Rp 28.925, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 350 ke Rp 67.550, dan Unilever (UNVR) turun Rp 350 ke Rp 30.125.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat 8,66 poin atau 0,18% menjadi 4.945,84, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,26 poin (0,27%) ke level 835,90 mengikuti arah pergerakan bursa saham di kawasan Asia,”Bursa Asia, termasuk indeks BEI dibuka menguat didukung oleh sentimen data 'nonfarm payrolls' Amerika Serikat sebanyak 217.000 di bulan Mei 2014 atau sedikit lebih baik dari estimasi 215.000," kata analis Samuel Sekuritas Aiza.

Selain itu, lanjut dia, penguatan bursa-bursa saham di kawasan Asia juga diakibatkan oleh data produk domestik bruto (PDB) Jepang serta ekspor Tiongkok yang lebih baik dari estimasi,”Kondisi itu memberikan spekulasi positif kepada investor untuk masuk ke pasar berisiko menyusul ekonomi negara-negara maju sedangkan berjalan dalam tren pemulihan," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, mata uang rupiah pada awal perdagangan juga menguat terhadap dolar AS sekitar 0,5%, melanjutkan penguatan pada pekan sebelumnya. Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, sebagian pelaku pasar masih bersikap menahan dengan mengurangi posisi beli sehingga IHSG berpotensi sulit untuk naik secara signifikan.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 182,97 poin (0,80%) ke level 23.133,97, indeks Nikkei naik 87,92 poin (0,58%) ke level 15.164,16 dan Straits Times menguat 8,37 poin (0,25%) ke posisi 3.307,80. (bani)

Related posts