Pasokan Telur dan Daging Ayam Dianggap Cukup - Hadapi Lebaran 2014

NERACA

Jakarta – Meskipun harga telur dan daging ayam menjelang datangnya Ramadan mengalami kenaikan, namun hal tersebut bukanlah karena pasokan dari kedua komoditas tersebut yang kurang. Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia Don P Utoyo mengatakan bahwa kedua komoditas tersebut telah mengalami swasembada.

“Telur dan daging ayam sangat disukai oleh seluruh laposan masyarakat dan tersedia dimana-mana dan saya kira jumlahnya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Bahkan di seluruh bagian dunia, telur dan daging ayam selalu menjadi bahan makanan favorit,” ucap Don, Senin (9/6).

Menurut dia, hingga akhir tahun 2014 peternak ayam di Indonesia mampu memproduksi 2,4 juta hingga 2,5 juta ton ayam broiler. Sedangkan untuk telur ayam mampu diproduksi 1,5 juta hingga 1,6 juta ton. “Telur ayam dan daging ayam broiler ini dapat diproduksi dengan jumlah yang cukup besar. Jajaran produsen perunggasan harus berupaya keras menjaga keseimbangan supply dan demand telur dan daging ayam,” imbuhnya.

Ia menyebut salah satu penyebab tingginya harga daging dan telur ayam adalah karena aturan pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan yang membatasi produksi anak ayam umur 1 hari atau Days Old Chicken (DOC) sebesar 15%. Tetapi kebijakan ini dinilai efektif karena harga di tingkat peternak jauh lebih tinggi daripada biasanya yang cenderung anjlok karena kelebihan produksi DOC. “Kini supply DOC sudah tidak berlebihan,” cetusnya.

Menurut dia, saat ini jumlah unggas yang dapat dikonsumsi cukup banyak macamnya seperti unggas-ungas brioler dan layer. Tak hanya itu, ayam-ayam dan itik itik lokal juga kerap menjadi pilihan bagi konsumen di Indonesia. “Saat ini telur ayam ras dan daging ayam broiler dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan harga yang jauh lebih terjangkau,” katanya.

Ia mengatakan untuk daging karkas ayam lokal atau ayam kampung, produksinya memang tidak terlalu besar dan harganya relatif tinggi. Namun, menurut dia, ayam kampung tetap menjadi tuang di negeri sendiri karena pasokan dari lokal. “Ibarat ayam asal kaki lima, harga bintang lima,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, kontribusi daging ayam bisa mencapai lebih dari 65% dari total daging yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dengan ketersediaan telur dan daging ayam yang cukup, sehat dan harganya terjangkau, akan semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi telur dan daging unggas. “Jajaran Produsen Perunggasan harus berupaya keras menjaga keseimbangan suplai agar seimbang dengan pasokan telur dan daging ayam. Keamanan dan kesehatan produknya dari farm sampai meja makan terus dijaga demi terciptanya Indonesia Sehat dan Cerdas,” papar Don.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional (Pinsar) Hartono memastikan, pasokan daging ayam dan telur untuk Ramadhan dan Lebaran aman. Namun, harga daging ayam dan telur naik pada bulan ini atau sebulan menuju Ramadhan 1435 Hijriah, untuk menyusaikan harga pokok produksi (HPP) petani. “Pasokan terkendali, masyarakat butuh berapa pun ada cuma harga harus di atas HPP (harga pokok produksi) petani. Ini konsep keadilan sosial,” ujar Hartono.

Hartono mengatakan, dalam kondisi normal konsumsi daging ayam per bulannya sekitar 200 ribu ton sedangkan telur 210 ribu ton. Adapun peningkatan permintaan telur justrua sebelum Ramadhan. "Setiap tahun ayam naiknya rata-rata 20%," tuturnya. Lebih lanjut, dia mengatakan, kenaikan harga yang dicatat Kementerian Perdagangan bukan lantaran pasokan berkurang. Namun, sedang ada penyesuaian harga ayam hidup dan telur di tingkat peternak terhadap harga pokok produksi. "Harga pasti naik karena peternak enggak bisa subsidi lagi," tuturnya.

Sekedar informasi, berdasarkan catatan Kemendag, saat ini harga daging ayam di kisaran Rp28.800 per kilogram sementara telur sekitar Rp19.100/kg. Namun, Pinsar menilai harga normal daging ayam ditingkat konsumen ialah Rp40 ribu sedangkan telur berkisar Rp23 ribu-Rp24 ribu. Pasalnya, saat ini harga penjualan ayam hidup di tingkat peternak sedang bergerak ke tingkat wajar yakni Rp20 ribu-Rp22 ribu. Sedangkan telur Rp20 ribu. Sebelumnya, peternak unggas merugi karena harga ayam hidup dan telur di bawah rata-rata HPP. Masing-masing HPP Rp18 ribu-Rp18.600 dan Rp17.500.

Berdasarkan pengakuan dari Pedagang di Pasar Koja, Didit. Harga daging ayam pada pekan ini terus mengalami kenaikan, bahkan hampir mendekati Rp45 ribu per kilogram. “Kalau sekilo biasanya kan bisa dijual itu Rp28 ribu tapi sekarang saja bisa capai Rp35 ribu atau bisa Rp40 ribu. Tapi, untuk daging ayam potongnya capai Rp45 ribu,” ucap Didit.

Menurut dia, harga daging ayam memang bulan -bulan ini terus mengalami kenaikan dan kenaikan tersebut tidak merata. “Ya gini aja kalau kita jual ayam di sini harga sampai Rp45 ribu lah, tapi kalau di pasar lain naiknya lebih tinggi, mau kita naikin biar sama tapi takutnya jadi jarang yang beli," katanya.

Ia juga menyarankan agar membeli ayam hidup saja yang langsung dipotong di tempat itu. Sebab, harganya masih tidak terlalu mahal ketimbang ayam potong. "Ya mungkin kalau mau murah beli saja ayam hidup langsung dipotong sama pedagang biasanya itu lebih murah sih dibandingkan daging ayam yang udah dipotong," jelas dia.

Related posts