Tambah Manajemen, BNI Life Tunggu Sinyal OJK - Perkuat Bancassurance dan Risk Management

NERACA

Bandung - Anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT BNI Life Insurance, akan menambah dua direksi dan tiga komisaris. Hal ini menyusul dengan aksi korporasi perseroan yang melakukan merger dengan perusahaan asuransi terbesar keempat asal Jepang, Sumitomo Life Insurance Company, pada Mei 2014 lalu.

Direktur Utama BNI Life, Ahmad Junaedy Ganie menyebutkan, dua direksi yang dimaksud yakni Kazuhiko Arai yang akan menjabat sebagai Direktur Bancassurance dan Hirokazu Todaka sebagai Direktur Risk Management. Sedangkan untuk posisi komisaris, Junaedy mengatakan pihak Sumitomo akan diwakili dua orang dan satu orang dari internal BNI.

“Dua orang komisaris ini bernama Honjo dan Henry Cratein Suryanaga. Lalu dari internal BNI diwakili Yap Tjay Soen. Mereka semua masih menunggu hasil keputusan uji kelayakan dan kepatutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mudah-mudahan akhir bulan ini (Juni) sudah resmi keluar dan mereka lolos. Karena akan menentukan arah kebijakan dan target pertumbuhan perusahaan yang akan dicapai pada tahun ini dan mendatang,” ujar Junaedy di Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/6) pekan lalu.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan alasan khusus mengapa terdapat jabatan bancassurance dan risk management. “bancassurance (channel distribusi perbankan dan asuransi) adalah ‘backbone’ (tulang punggung) perusahaan karena lini bisnisnya belum tereksploitasi dengan maksimal. Untuk risk management, kita ingin mengeksplor lebih banyak mengenai risiko, baik saat ini maupun akan datang. Apalagi Jepang terkenal dengan kemampuan mengelola risk management yang tinggi,” jelas mantan Komisaris Independen BNI Life.

Informasi saja, risk management sebelumnya tergabung dalam divisi syariah. Setelah pergantian manajemen di bawah Junaedy Ganie, maka risk management menjadi divisi khusus langsung di bawah direktur utama. Apabila OJK meluluskan dua orang direksi asal Jepang, maka divisi tersebut berpindah menjadi di bawah direktur.

Berdasarkan riset BNI Life, masih terdapat potensi pertumbuhan yang sangat besar di lini bisnis bancassurance. Ke depan BNI Life akan terus memfokuskan diri pada lini tersebut. Bahkan, lanjut Junaedy, BNI Life akan memanfaatkan optimalisasi kerja sama dengan BNI, mengingat jumlah nasabahnya sudah sangat besar.

Nama baik BNI juga memberi dampak positif terhadap brand BNI Life. Akhirnya, masyarakat juga akan percaya dengan BNI Life. Memang, hingga saat ini porsi terbesar dari jalur distribusi yang dimiliki BNI Life masih didominasi oleh bancassurance sebanyak 60%, urutan kedua adalah employee benefit, urutan ketiga agency, dan urutan keempat adalah syariah.

Meski demikian, bukan berarti lini bisnis agency, employee benefit dan syariah dilupakan. Perseroan akan terus meningkatkan pertumbuhan ketiga lini tersebut. Junaedy menuturkan, justru jajarannya dituntut terus menjaga pertumbuhan ketiganya secara optimal. Dia juga menjelaskan, kualitas layanan BNI Life secara berkelanjutan akan terus ditingkatkan, antara lain melalui speedy claim 27 minutes untuk klaim kesehatan di bawah Rp10 juta serta penambahan jam pelayanan kerja di akhir pekan dan libur nasional.

Pendapatan premi bisnis bancassurance BNI Life pada 2013 naik dari Rp698,19 miliar menjadi Rp981,30 miliar. Pertumbuhan ini didukung oleh sinergi yang dilakukan dengan BNI yang merupakan mitra utama BNI Life. Saat ini BNI Life memiliki empat saluran distribusi, yaitu Agency, bancassurance, employee benefits dan juga syariah.

Hingga 2013, jumlah outlet kantor cabang bancassurance tumbuh menjadi 675 outlet yang tersebar di 15 Regional Bancasurance Manager (RBM) di 15 wilayah BNI di Indonesia. Jumlah tenaga pemasar meningkat menjadi 53 Area Sales Manager (ASM) dan 688 Bancassurance Specialist (BAS). Untuk mendukung kompetensi tenaga pemasarnya, BNI melakukan pengembangan kualitas melalui Sales Activity Management System (SAMS) di samping juga melakukan penyempuranaan sistem telemarketing. [ardi]

Related posts