Jalan Terjal Kejar Ketertinggalan dari Singapura - KONDISI BURSA EFEK INDONESIA

NERACA

Jakarta - Kemerdekaan Indonesia boleh lebih awal dari kemerdekaan Singapura. Tapi bicara pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih tertinggal jauh dengan Singapura. Bahkan seiring dengan berjalannya waktu, negara yang hanya memiliki jumlah penduduk sekitar 5,8 juta jiwa itu sudah memiliki kemapanan dalam bidang ekonomi baik itu industri perbankan, asuransi, properti hingga industri pasar modal. Sehingga tidak heran, menghadapi pasar bebas masyarakat ekonomi ASEAN, mungkin Singapura yang boleh dikatakan negara paling siap ketimbang negara ASEAN lainnya.

Tahukah, bahwa literasi keuangan rakyat Singapura jauh lebih maju dibandingkan Indonesia. Lihat saja, hampir sebagian besar rakyat Singapura memiliki investasi baik di properti, pasar modal ataupun deposito bank. Melihat kinerja negeri Singa itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengakui, da beberapa hal yang masih mengganjal pasar modal Indonesia untuk menjalankannya secara utuh menghadapi MEA nanti. Diantaranya regulasi yang mengatur tentang auditor yang diakui di Indonesia perlu mendapatkan pengakuan dulu dari Otoritas Jasa Keuangan, “Setidaknya ada dual hal yang masih mengganjal integrasi pasar modal ASEAN. Salah satunya terkait dengan prospektus reksa dana atau IPO yang harus disampaikan kepada publik,”ujarnya.

Meski daya saing industri pasar modal dalam negeri masih tertinggal, OJK terus menerus melakukan terobosan dengan melakukan banyak revisi beberapa peraturan dan merilis peraturan baru di pasar modal.

Nurhaida pernah bilang, pihaknya berencana merevisi beberapa peraturan dan menambah peraturan baru bagi perusahaan terbuka atau emiten dalam waktu dekat. Hal ini dilakukan sebagai salah satu persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015,”Di tahun ini, ada enam peraturan yang akan direvisi dan tiga peraturan baru untuk emiten,”ungkapnya.

Menurut dia, enam peraturan yang akan direvisi diantaranya, yang pertama tentang penyelenggaran Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang kedua peraturan sekretaris perusahaan publik, serta ketiga tentang direksi dan komisaris."Lalu peraturan keempat tentang pengambil alihan perusahaan terbuka, kelima mengenai peraturan gagasan penawaran umum berkelanjutan untuk saham, kan sekarang baru surat utang dan yang keenam adalah peraturan penambahan modal tanpa memesan efek terlebih dahulu," paparnya.

Sementara itu mengenai tiga peraturan baru yang sedang dipersiapkan adalah rasio kepemilikan saham emiten bagi karyawan sendiri, kemudian peraturam komite remunerasi dan nominasi untuk komisaris dan direksi serta yang ketiga yakni informasi yang tersedia di website emiten untuk publik."Ini sedang kita susun, dan rule ini pastinya kita meminta masukan kepada pelaku industri dan asosiasi, kita mintakan pendapat,”ujarnya.

Sebaliknya, analis pasar modal Reza Priyambada menyakini, pasar modal Indonesia masih bisa bersaing dengan Singapura. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia yang positif mendorong pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) BEI paling tinggi dibandingkan bursa saham lainnya di kawasan ASEAN,”Kondisi pasar saham domestik cukup stabil seiring dengan ekspektasi ekonomi Indonesia yang positif, serta kuatnya permintaan investor membuat jumlah IPO di BEI paling banyak dibandingkan bursa saham ASEAN,”tuturnya.

Menurut dia, fundamental ekonomi domestik yang cukup positif itu mendorong perusahaan melakukan ekspansi dalam rangka menumbuhkan kinerjanya."Untuk melakukan ekspansi, perusahaan membutuhkan dana, salah satunya didapat melalui IPO," ucapnya.

Dari data yang dihimpun per Mei 2014, aktivitas IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 11 perusahaan, jumlah itu sama dengan bursa saham Thailand (The Stock Exchange of Thailand) sebanyak 11 perusahaan. Selain itu, bursa saham Singapura (Singapore Exchange) sebanyak delapan perusahaan, bursa Malaysia (KLSE) lima perusahaan, dan bursa Filipina atau The Philippine Stock Exchange (PSE) sebanyak tiga perusahaan,”Didukung adanya pemilu presiden, apalagi hasil pemilu sesuai dengan ekspektasi pasar, maka IPO di dalam negeri akan semarak," kata Reza Priyambada.

Asal tahu saja, berdasarkan kapitalisasi pasar, Indonesia menempati urutan kedua terendah di ASEAN yang hanya mencapai US$ 415 miliar secara year to date dari US$ 347 pada Desember 2013. Urutan terendah pertama diduduki Filipina yang kapitalisasi pasarnya hanya sekitar US$ 250 miliar.Urutan ketiga tercatat bursa Thailand yang mencapai US$ 400 miliar, disusul Malaysia US$ 500 miliar, dan Singapura US$ 750 miliar.

Tak hanya kapitalisasi pasarnya saja yang masih rendah, berdasarkan daftar perusahaan terbuka, Indonesia juga tercatat masih rendah hanya 489 perusahaan, terendah kedua dari Filipina yang hanya 258 perusahaan. Sementara Thailand tercatat ada 587 perusahaan terbuka, Singapura 767 perusahaan, dan Malaysia 906 perusahaan. bani

Related posts