RI Terjebak Liberalisasi

Kita tentu merasa miris ketika menyadari sejumlah kebijakan strategis seperti pangan, migas, perbankan dan tambang di negeri ini sudah terjebak ke dalam pengaruh paham liberalisasi. Ini sesuai fakta neraca perdagangan Indonesia dan neraca transaksi berjalan (current account) yang terus mengalami defisit belakangan ini, sehingga otomatis menjadi faktor pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lihat saka hasil keputusan WTO maupun pakta perdagangan lainnya sesungguhnya ibarat perang akal-akalan negara maju terhadap negara lain untuk mendapatkan keuntungan yang tak terbatas atas kekurangan, dan keterbelakangan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia.

WTO ternyata mendesain sistem perdagangan yang tidak adil, negara berkembang ditekan untuk membuka pintu perdagangan seluas-luasnya bagi negara maju denganmenghapuskan seluruh hambatan perdagangan, hambatan impor, baik dalam bentuk tarrif barriermaupun non-tarrif barrier. Sementara negara maju hanya memberikan peluang dan akses yang kecil terhadap produk barang dan jasa dari negara berkembang, bahkan cenderung tertutup dengan regulasi yang sangat ketat dan WTO menutup mata atas ketimpangan tersebut.

Di bagian lain, negara berkembang akan sangat sulit untuk berkompetisi dengan negara maju, karena kalah dari segi sumber daya, manajerial dan teknologi. Dalam konsep yang didesain WTO ala globalisasi ekonomi mensyaratkan akan kebutuhan produk yang memiliki standard produk yang tinggi dengan basis pengembangan berdasarkan riset dan teknologi, dengan manajemen yang modern.

Persyaratan ini masih belum merata dimiliki negara berkembang seperti Indonesia, dan hanya perusahaan multinasional yang mampu bersaing dan mendominasi perdagangan internasional. Jelas, hal ini akan merugikan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang pada akhirnya sistem ekonomi nasional akan dikuasai oleh asing.

Globalisasi perdagangan merupakan senjata dan batu loncatan bagi korporasi internasional untuk menguasai perdagangan global dan sangat timpang dari cita-cita awal berdirinya WTO yang mendukung kemajuan dan perlindungan bagi kepentingan negara-negara miskin. Akibat laju liberalisasi ekonomi semakin cepat, setengah dari penduduk di dunia saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, kondisi negara berkembang selalu dalam kendali negara maju, karena hampir 90 % investasi dikuasai oleh investor kapitalis pemilik perusahaan raksasa Eropa dan Amerika Serikat.

Hal ini terungkap dalam laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), Juli 2012, bahwa data dan fakta perputaran liberalisasi perdagangan dan globalisasi tidak hanya menghasilkan ketimpangan dalam distribusi manfaat dan memperlebar kesenjangan antara negara maju dan berkembang, tapi bahkan juga meningkatkan ketimpangan pendapatan di dalam negeri itu sendiri.

Jadi, mengikuti dan patuh pada keputusan WTO pada akhirnya merugikan dan menghilangkan kedaulatan ekonomi nasional. Pengalaman Indonesia mengikuti anjuran IMF dan WTO dalam upaya menghilangkan subsidi pertanian, ternyata membuat sektor pertanian kita rapuh dan hancur, akibatnya hingga saat ini sektor pangan lokal merugi dan produk pangan impor menguasai sektor pangan nasional yang memiskinkan petani.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Terjebak Situasi

  Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Perubahan situasi global membuat hampir semua negara…

PENYEBAB INDONESIA TERJEBAK PERTUMBUHAN EKONOMI 5% - Sektor Industri Manufaktur Belum Optimal

Jakarta-Lembaga penelitian CORE menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun masih terjebak di kisaran 5%. Ini terjadi karena sebagian…

Tidak Terjebak “junk food”, KKP Inginkan Genereasi Muda Gemar Makan Ikan

NERACA Bogor - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP-KKP), Rifky Effendi Hardijanto…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Bermanfaatkah Aturan Ganjil Genap?

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan DKI kembali menyuarakan perluasan kebijakan ganjil genap dari semula 9 rute menjadi 25 rute.…

Konsensus Kejar Pajak

Pentingnya pajak sebagai penerimaan Negara, terungkap saat sejumlah menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G20 pada awal Juni 2019…

Mencari Figur Menteri

Menjelang pelantikan Presiden Jokowi periode kedua (2019-2024), sejumlah elite partai mulai gencar melakukan lobi-lobi politik, yang tentu bertujuan untuk memperoleh…