Smartfren Terbitkan Obligasi Rp 9 Triliun

NERACA

Jakarta – Perusahaan seluler, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) bakal menerbitkan obligasi untuk memperkuat likuditas dan pendaan modal kerja. Disebutkan, rencana tersebut sudah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk melakukan private placement untuk penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Direktur Keuangan PT Smartfren, Antonius Susilo mengatakan, perusahaan akan mencari tambahan modal sekira Rp9 triliun dengan menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK) II dengan tenor lima tahun,”Kami butuh modal untuk bayar utang dan pengembangan. Kami tidak akan lakukan pinjaman bank karena ada bunga yang bikin beban perusahaan, jadi kami terbitkan OWK II,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, aksi ini ditargetkan nambah dana sekira Rp9 triliun yang terdiri dari 45 lembar masing-masing lembarnya berdenominasi sebesar Rp200 miliar,”Kami akan keluarkan dalam dua seri, pertama OWK 1 dengan 5 lembar masing-masing Rp200 miliar, dan OWK 2 terdiri dari 40 lembar masing-masing Rp200 miliar," paparnya.

Dia menjelaskan, untuk aksinya ini ditunjuk agennya yakni PT Sinarmas Securities dan tidak ada bunga yang dikarenakan. Dia menambahkan, dari total Rp9 triliun akan dikeluarkan dalam dua tahap yakni tahap satu sekira Rp1 triliun dan tahap dua Rp8 triliun."Rp1 triliun kita pakai untuk pembayaran pinjaman perusahaan dan anak usaha, sisanya Rp8 triliun untuk modal kerja dan jaminan," kata dia.

Lanjut dia mengungkapkan, rencana OWK 1 yang senilai Rp1 triliun akan dieksekusi secepat mungkin setelah adanya persetujuan pemegang saham pada RUPSLB,”Harapannya kita akan rilis satu bulan ini yang untuk OWK Rp1 triliun, kita akan bereskan dalam bulan ini sesuai peraturan OJK dan BEI," pungkasnya.

Seperti yang diketahui, aksi private placement yang bakal digelar PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) berimbas pada penurunan kepemilikan saham (dilusi) pemegang saham sebesar 57,4%. Sebagai informasi, belum lama ini perseroan telah memperbesar pinjamannya pada perusahaan finansial Singapura, First Anglo Financial Pte. Ltd.

Manajemen perseroan menyatakan telah menandatangani perubahan terhadap perjanjian kredit dengan First Anglo Financial Pte. Ltd. dari semula sebesar US$90 juta hingga menjadi sebesar US$ 120 juta.“Tambahan fasilitas pinjaman tersebut sebagai bagian untuk membayar utang perseroan dan/atau utang anak perusahaan perseroan yang akan jatuh tempo serta dalam rangka menambah modal kerja perseroan, seperti untuk membayar biaya-biaya operasional, antara lain adalah biaya iklan, promosi, gaji karyawan, dan biaya-biaya lainnya.” kata Sekretaris Perusahaan PT Smartfren Telecom Tbk, James Wewengkang.

Diketahui, meski perusahaan mengalami pertumbuhan pendapatan 47,27% menjadi Rp 2,43 triliun di 2013, hingga akhir tahun 2013 perseroan grup Sinar Mas ini masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 2,53 triliun, naik 62,17% dibandingkan kerugian tahun sebelumnya Rp 1,56 triliun. Meski demikian, perseroan optimis dapat meraih target pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun ini sebesar 50% dari capaian 2013 sebesar Rp2,4 triliun.

Selain itu, perseroan juga ekspansi jaringan dengan penambahan Base Transmitted Server (BTS) sebanyak 700 BTS dan menjadi 6500 BTS pada 2014. Selain itu, perseroan juga akan mengimport Andromax sebanyak 4 juta unit. Untuk mendukung ekspansi ini, manajemen menyiapkan investasi sebesar US$100 juta untuk tahun 2014. Komposisinya, sebesar 80% didapatkan dari pinjaman bank dan perusahaan investasi dan 20% sisanya berasal dari uang kas perusahaan. Perseroan optimis, sepanjang tahun ini dapat menjaring sebanyak 15 juta pelanggan dari 11,3 juta pada 2013. (bani)

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Catatkan Perolehan Laba Rp 13,5 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan perolehan laba konsolidasi tumbuh 11,1% mencapai Rp13,5 triliun, kualitas kredit…

Menkeu Proyeksi Defisit APBN Capai Rp310,8 Triliun

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 berpotensi…

DEFISIT APBN MELEBAR HINGGA RP 135 TRILIUN LEBIH - Menkeu: Pertumbuhan Semester I Capai 5,1%

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I-2019 mencapai  5,1%.  Angka ini berdasarkan perhitungannya terhadap kontribusi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…

Siapkan Dana Investasi US$ 100 Juta - Saratoga Bangun Rumah Sakit di Bekasi

NERACA Jakarta –Genjot pertumbuhan portofolio investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) terus mengembangkan investasinya. Salah satunya yang tengah dikembangkan…