KKP Mulai Kembangkan Udang Vaname Media Air Laut - Uji Coba Berhasil

NERACA

Lampung - Setelah berhasil mengembangkan udang vaname nusantara dengan memanfaatkan air tawar, kini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) juga telah berhasil melakukan ujicoba rekayasa terhadap udang vaname dengan memanfaatkan air laut. Hal tersebut setelah melihat hasil dari yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lampung yang melakukan panen udang vaname sebanyak 260 kilogram pada Jumat (6/6).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto saat ditemui di BPBL Lampung, mengatakan uji coba rekayasa udang vaname ini telah dilakukan sejak 4 bulan lalu. "Kenapa di laut, karena kita ingin memanfaatkan seluruh potensi sumber daya. Kita ingin menerapkan maricultur yang tidak hanya terbatas dengan rumput laut dan ikan-ikan saja. Tapi juga yang bisa dibudidayakan di laut dan mendatangkan manfaat ekonomi," ujarnya.

Ia menjelaskan udang vaname mempunyai sifat yang suka berenang. Hal ini berbeda dengan udang windu yang lebih banyak diam di dasar air. "Jadi udang vaname itu cocok dibudidayakan dimana saja. Mau di laut bahkan di puncak gunung pun bisa. Terlebih dengan permintaan udang sangat tinggi," katanya.

Menurut dia, saat ini permintaan udang yang belum bisa dipenuhi mencapai 500 ribu ton. Maka dari itu, ia berharap agar budidaya udang vaname di laut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh masyarakat. "Bayangkan saja, dengan luas kolam 3x3 saja sudah dapat menghasilkan udang sebanyak 65 kilogram. Kalau kita maksimalkan potensi air laut sebesar 1 hektar maka hasilnya adalah 65 ton. Ini terbilang cukup tinggi, terlebih budidaya udang vaname di laut tidak memperlukan kincir ataupun blower yang biasa digunakan pada air tawar," cetusnya.

Lebih jauh lagi, Slamet menjelaskan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan potensi-potensi sumber daya tak terkecuali di laut. Namun, untuk melakukan budidaya di laut, ia menyarankan agar memilih laut yang gelombangkan tidak terlalu besar, kualitas air yang cukup bagus. "Kita ingin menerapkan budidaya yang berkelanjutan. Jadi budidaya tidak hanya ikan dan udang saja namun juga rumput laut, kerang dan hewan laut lainnya. Potensi redtide juga ada, tapi itu dapat kita budidayakan dengan maksud menyerap bahan-bahan organik," jelasnya.

Soal tingkat kematian, Slamet menyatakan tingkat kematian budidaya udang vaname di laut cukup tinggi diantara kisaran 20-30%. "Potensi kematian hampir 20-30%. Tapi hal itu tergantikan dengan modal yang diperlukan. Karena budidaya di laut tidak memerlukan oksigen ataupu kincir. Jadi cost yang dikeluarkan jauh lebih rendah dibandingkan budidaya udang vaname di air tawar," tuturnya.

Salah satu pembudidaya udang vaname di Lampung, Johannes mengatakan budidaya udang vaname dapat meningkatkan penghasilan para pembudidaya dan meningkatkan ekonomi. Menurut dia, dengan modal Rp30 juta, dapat membeli perlengkapan untuk Keramba Jaring Apung (KJA), benur dengan jumlah puluhan ribu dan pakan maka sudah bisa memulai usaha budidaya udang vaname di laut. "Modalnya Rp30 juta. Nanti untung bersihnya dalam 4 bulan bisa dua kali lipatnya," ucap Johannes yang turut serta mendampingi Dirjen.

Johannes mengklaim dirinya adalah pembudidaya udang vaname pertama di Lampung yang memanfaatkan air laut. "Saya mungkin yang pertama melakukan itu (budidaya udang di laut). Makanya banyak orang yang mau belajar budidaya udang vaname ke saya, ada juga yang dari luar Lampung datang ke rumah saya hanya untuk belajar," katanya.

Namun demikian, ia berpesan kepada pembudidaya yang tertarik untuk memelihara udang vaname di laut, faktor keamanan udang harus dijadikan prioritas. Pasalnya ia telah merasakan udang peliharaannya dimakan oleh biawak ataupun ikan yang masuk dalam keramba. "Pada saat ingin panen pertama, harusnya saya dapat 1 ton, akan tetapi sebagian udang dimakan oleh biawak menjelang panen. Makanya faktor keamanan perlu dijaga dari hewan pemangsa. Salah satunya dengan menutup keramba dengan jaring yang kuat," jelasnya.

Related posts