NTB Rintis Industri Tenun Berorientasi Ekspor - Jadi Daya Tarik Kultural Regional dan Global

NERACA

Jakarta – Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah merintis industriliasasi dari produk unggulan budayanya, salah satunya tenun. Karena itu, pengenalan akan produk-produk kain tenun tradisional NTB dalam pameran tingkat nasional dan internasional menjadi langkah awal membangun industri kain tenun lokal NTB menjadi sebuah industri yang berskala ekspor yang besar. Sebab warisan budaya ini merupakan salah satu pesona budaya yang bisa menjadi daya tarik kultural NTB di mata masyarakat regional dan global.

Demikian dikemukakan ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, ketika memberikan sambutan pada pada acara malam apresiasi Pameran Eksotika Warisan Nusantara (Wastra) NTB – warisan dunia dari Indonesia di Museum Tekstil Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Erica, kain tenun merupakan bagian dari budaya dan tradisi masyarakat di NTB, baik suku Sasak, Samawa ataupun Mbojo. hampir di semua desa di NTB memiliki kain tenun tersendiri. ntb bahkan memiliki batik khas yang dinamakan ”Batik Sasambo”, kepanjangan dari Sasak, Samawa dan Mbojo. beberapa penelitian menilai, tenun tradisional NTB mempunyai nilai tinggi karena kaya motif dan coraknya.

“Selain merupakan sebuah produk budaya, kain tenun NTB saat ini juga dikembangkan sebagai sebuah produk bisnis. diharapkan ke depan, kain tenun NTB menjadi sebuah industri kreatif yang bisa menciptakan lapangan kerja serta menjadi sumber pendapatan pribadi, daerah, bahkan devisa negara,”papar Erica.

Dihadapan pencinta kain tenun, komunitas museum, media, dan masyarakat umum yang menyaksikan pameran tenun bernilai tinggi tersebut, Erica mengatakan, pendayagunaan kain tenun atau Wastra NTB sebagai sebuah produk budaya dan produk industri kreatif unggulan daerah NTB, bukan tanpa alasan. NTB adalah salah satu destinasi wisata yang cukup dikenal di dunia selain Bali.

“Selama ini, kita hanya menjual ”wisata alam” saja padahal trend pariwisata dunia kini bergerak ke arah cultural tourism atau wisata budaya,” kata istri Gubernur NTB Tuan Guru KH.Zainul Majdi ini.

Di sisi lain, Erica juga punya perhatian pada penemun.Kain tenun sebagai ”kerajinan masyarakat” juga berarti pengembangan tenun NTB harus berdampak juga pada peningkatan kesejahteraan rakyat, khususnya penenun.

Sementara itu Kepala Museum Negeri NTB, Faosal mengatakan, pameran kain tenun NTB di Jakarta ini merupakan strategi untuk lebih mengenalkan warisan dan produk unggulan budaya yang punya nilai sangat tinggi. “Kita lebih aktif memperkenlkan tenun NTB yang memang indah, berkualitas, dan digemari masyarakat,” katanya.

Faosal yang juga anggota Dekranasda NTB ini mengatakan, pihaknya tidak membiarkan Wastranya pasif menunggu pengunjung di museum, tetapi aktif membawa wastranyake luardari gedung museum untuk menceritakan NTB kepada dunia. “Dari kain tenun yang indah ini, rang banyak tahu nilai dan budaya NTB yang tinggi,” kata Faosal.

Pada malam apresiasi tersebut juga diperagakan aneka busana terbuat dari tenun NTB karya perancang terkemuka NTB, Linda Hamidi, dan penampilsan seni tradisi NTB.

Related posts