Meneropong Prospek Perkebunan Karet Alam NKRI - Oleh: BPH Tambunan, Ketua DPP Anindo

Meneropong Prospek Perkebunan Karet Alam NKRI Oleh Ketua DPP Aliansi Nasionalis Indonesia (Anindo) B.P.H Tambunan Komoditas karet alam, baik produksi perkebunan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang lebih dikenal luas sebagai Perseroan Terbatas Perusahaan Perkebunan Negara atau PT PPN, mau pun yang dihasilkan petani-petani pegiat perkebunan karet alam, sudah sejak puluhan tahun silam menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bersama-sama dengan bahan bakar minyak (BBM), komoditas-komoditas minyak kelapa sawit (CPO), tembakau, teh, coklat, dan tebu atau gula, komoditas karet alam berperan penting dalam memperbesar perolehan devisa. Meski pun tak urung cukup sering diterpa efek jatuhnya harga karet alam di pasar internasional, sebagai juga PT PPN maka sepanjang kurun waktu puluhan tahun itu petani-petani karet alam di NKRI amat menikmati nilai atau daya beli yang relatif memadai tinggi. Bermacam kebutuhan, setidaknya untuk bisa hidup secara sederhana, termasuk biaya sekolah dan atau mengirimkan anak-anaknya berkuliah ke berbagai universitas negeri dan swasta di ibukota provinsi, dapat dialokasi dari nilai beli yang yang relatif memadai tinggi itu. Tidak sedikit pula dari petani pegiat perkebunan karet alam, yang bermukim di pedesaan-pedesaan kecamatan, mampu mengirimkan anak-anaknya berkuliah ke universitas-universitas negeri favorit di Jakarta, di Bandung, di Jogyakarta, dan di Semarang atau di Surabaya. Betapa tidak? Suatu catatan empiris mengungkap jika memiliki perkebunan karet seluas 1 (satu) hektar saja, petani pegiatnya sudah pasti akan beroleh pendapatan netto tidak kurang dari sebesar Rp 3.600.000.—per bulan, atau Rp 43.200.000.—per tahun. Bisa dihitung sendiri berapa besar penghasilan petani pegiat perkebunan karet alam yang mempunyai seluas 2 (dua) atau 3 (tiga) hektar kebun. Misalkan saja, setiap petani pegiat perkebunan karet alam rata-rata hanya memiliki dan atau mengelola seluas 1.5 (satu setengah) hektar kebun. Dengan perkebunan karet alam seluas 1.5 (satu setengah) hektar itu, bukan lagi mustahil pendapatan sebesar Rp 64.800.000.— per tahun akan masuk kantong setiap petani pegiat perkebunan karet alam. Pendapatan sebesar Rp 64.800.000.—setahun itu tidaki bisa terbilang kecil. Tapi, bahkan telah masuk kategori relatif memadai. Setidaknya, sudah bisa untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup dan kehidupan lebih dari sekadar sederhana. Apalagi bila harga berbagai kebutuhan pokok hidup selalu stabil alias tidak terus menerus berlomba meningkat, untuk merampas penghasilan berbagai lapisan rakyat, khususnya petani-petani pegiat perkebunan karet alam. Barangkali itu sebabnya kenapa petani-petani pegiatnya cenderung lebih bersemangat menekuni pengembangan perkebunan karet alam, ketimbang mengusahakan atau mengelola perkebunan bermacam produk pangan. Padahal, jika disadari mengusahakan pengembangan perkebunan berbagai produk pangan merupakan salah satu ikhtiar strategis dalam membendung arus impor kebutuhan produk-produk pangan. Kegiatan impor berbagai produk pangan, sesungguhnya merupakan impian besar korporasi-korporasi nasional dan asing yang tak pernah berhenti memburu provit tanpa harus bersusah payah. Bermacam produk pangan impor, sudah terbukti bukan saja menguras penghasilan seluruh elemen petani, termasuk pegiat perkebunan karet alam. Melainkan pula menyebabkan deficit neraca perdagangan atau berkurangnya cadangan devisa. Meski petani-petani pegiatnya di NKRI sangat bersemangat menekuni subsektor perkebunan karet alam, namun bukan berarti tanpa masalah. Masalah yang justru memprihatinkan karena amat berdampak negatif tinggi, adalah terkait produktivitas perkebunan karet alam masih terbilang rendah. Fakta dan data lapangan menunjukkan, produktivitas perkebunan karet alam bangsa dan NKRI hanya berkisar sebanyak 600 atau 700 Kg per hektar. Paling banter juga cuma sebanyak 1 ton per hektar. Itu juga kualitasnya kurang bersaing. Dibandingkan dengan produktivitas perkebunan karet alam negara-negara lain di kawasan Asia, seperti India, Thailand, dan Malaysia, misalnya, angka itu berada di posisi yang paling mengecilkan hati. Bahkan, masih tertinggal ketimbang produktivitas perkebunan karet alam Myanmar, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Padahal, keempat negara tersebut baru selama beberapa tahun terakhir mulai turut bermain di ajang perkebunan karet alam. Myanmar, Vietnam, Kamboja dan Laos agaknya sudah menyadari atau mengetahui betul betapa kondisi iklim dan geografis kawasan Asia, terlebih mulai dari Asia Selatan, Asia Tenggara hingga ke Asia Timur, amat potensial bagi pembukaan dan pengembangan usaha perkebunan karet alam. Secara berurutan produktivitas perkebunan karet alam negara-negara penghasil karet alam di kawasan Asia dapat dikedepankan. India mencatat sebanyak 1.80 ton per hektar, di susul Thailand dan Malaysia masing-masing sebanyak 1,79 ton per hektar, Myanmar, Vietnam, Kamboja dan Laos kurang lebih sama sebanyak 1.72 ton per hektar, Srilangka sebanyak 1.55 ton per hektar. Sedankan RR-Tiongkok sebanyak 1.16 ton per hektar. Ulah Monopoli Rendahnya produktivitas , bukan satu-satunya masalah yang membelit usaha perkebunan karet alam bangsa dan NKRI. Masalah lebih serius lain yang sangat kerap mencemaskan petani-petani pegiatnya adalah munculnya setiap saat ancaman anjloknya harga karet alam. Ulah monopoli perusahaan industri pengolahan karet basah menjadi karet kering merupakan salah satu faktor penyebabnya. Harga karet alam di tingkat petani-petani pegiat perkebunan karet alam dewasa ini sudah menyentuh sebesar US $ 1.600 per ton. Padahal, sekitar 5 (lima) tahun silam harga itu sangat menarik, sebesar US $ 5.700 per ton. Kendati pun secara bertahap, anjloknya harga yang nyaris tanpa jeda selama kurun 5 (lima) terakhir ini sudah jelas merupakan pukulan berat bagi petani-petani penggiat perkebunan karet alam. Petani-petani pengiat perkebunan karet alam terus mengeluh, sebab tingkat harga yang diterima kian menyusut dari bulan ke bulan. Eksesnya, belakangan ini malahan kian banyak saja petani pegiat perkebunan karet alam menjerit. Begitu pun, jauh sebelum tingkat harga karet alam itu bertengger pada titik nadir sekarang, pihak-pihak pemangku kekuasaan bukannya secepat mungkin mengambil langkah seribu guna memperbaiki posisi harga yang dianggap tidak lagi wajar itu. Sebaliknya, pihak-pihak pemangku kekuasaan justru sering berdalih, betapa merosotnya harga karet alam NKRI akibat buruknya kualiatas produksi di tingkat petani-petani pegiat perkebunan karet alam. Kecuali itu, juga akibat masuknya produksi karena alam yang cukup besardari berbagai negara produsen karet alam ke RR-Tiongkok. RR-Tiongkok merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor karet alam kering. Terutama, bagi Thailand, Malaysia dan NKRI, yang selama ini sebetulnya justru telah menguasai pasarnya. Merosotnya harga karet alam di pasar internasional, berimbas terhadap harga di pasar local. Anjloknya harga secara berlarut-larut, menyebabkan nilai beli petani-petani pegiat perkebunan karet alam tergerus, menurun. Daya hela penghasilan petani-petani pegiat perkebunan karet alam terhadap perputaran perekonomian pedesaan tak urung turut terseret melemah pula. Beratnya tekanan harga karet alam yang terus menggerus daya beli, pada gilirannya mendorong semakin banyak petani pegiat perkebunan karet alam dari sentra-sentra perkebunan karet alam di Provinsi-provinsi Nangro Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan di beberapa Kabupaten di Provinsi-provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, berduyun-duyun hengkang meninggalkan “sumber hidup dan kehidupannya”, yakni kebun karetnya. Seperti halnya petani-petani tanaman dan peternakan pangan, serta nelayan-nelayan yang menjadi korban proses dan dinamika pembangunan berbagai sarana dan prasarana, termasuk infrastruktur bagi kepentingan sektor industri, petani-petani pegiat perkebunan karet alam dari berbagai pedesaan itu ber-urban ke ibukotakota-ibukotakota kabupaten atau provinsi di lingkungan provinsi pedesaannya. Tujuannya guna hendak turut mengisi pasar kerja atau usaha, dengan menggarap berbagai kegiatan lain yang masih asing atau pun belum sepenuhnya dipahaminya. Apalagi generasi muda petani-petani pegiat perkebunan karet alam , justru nekad menggalang hidup dan kehidupan baru ke ibukota-ibukota provinsi lain. Malah, hingga ke Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Soalnya, sebagai Ibukota NKRI yang merupakan suatu kawasan ultramega-metropolitan yang, memang, memiliki magnet sangat kuat menggoda generasi muda dari seluruh pelosok wilayah NKRI untuk datang berebut peluang di tengah dinamika pembangunan nasional yang digerakkan lewat utang luarnegeri yang nyaris menyentuh sebesar Rp 3.400 trilyun. Bertarung habis-habisan atau to be or not to be di Jakarta dianggap lebih menjanjikan keuntungan, yang akan membawa perubahan signifikan terhadap tingkat kesejahteraannya. Berupa berkah kemajuan akses meraih hidup dan kehidupan yang wah-meriah. Bantuang Konkrit Mengakselerasi berbagai perkembangan yang kurang kondusif dan berpotensi plus memperluas dan memperparah urbanisasi dan atau marginalisasi elemen rakyat dalam hal ini petani-petani pegiat perkebunan karet alam, sudah saatnya seluruh pemangku kekuasaan baik di level pusat, mau pun di tingkat daerah, mesti segera mengambil sejumlah langkah konstruktif. Langkah-langkah konstruktif setidaknya mencakup 3 (tiga) faktor. Yaitu : Pertama, meredam atau memutus peranan institusi usaha monopoli pembelian produksi karet alam. Baik yang langsung dari petani-petani pegiat perkebunan karet alam, atau pun lewat pengepul-pengepul yang lebih dikenal sebagai tengkulak. Hukum pasar selalu menegaskan, monopoli lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, khususnya bagi berbagai elemen petani, termasuk petani-petani pegiat perkebunan karet alam. Salah satu etika bisnis khas pelaku monopoli yang sudah sangat dipahami semua kalangan produsen atau pasar adalah mempermainkan tingkat harga yang jelas-jelas hanya memperbesar provit terhadap alokasi investasi modalnya semata. Guna memutus kekuatan monopoli, dan atau tengkulak, bukan saja pemangku-pemangku kekuasaan perlu mengorganisasikan petani-petani pegiat perkebunan karet alam ke dalam institusi koperasi. Namun, petani-petani pegiat perkebunan karet alam sendiri harus mengambil prakarsa-prakarsa untuk membangun institusi koperasi yang berpotensi menjaga tingkat mutu dan harga produksi karet yang layak, sesuai dengan kondisi persaingan di tengah pasar internasional. Kedua, memberi perhatian , bahkan bantuan pada petani-petani pegiat perkebunan karet alam. Sudah tidak zamannya lagi jika bantuan itu hanya berupa wejangan atau seruan pemangku-pemangku kekuasaan lewat wawancara pers. Melainkan akan menjadi lebih efektif bila bantuan itu bersifat konkrit, berwujud penyuluhan atau bimbingan teknis terkait pola tanam dan perawatan pohon karet. Sehingga dengan demikian produktivitas perkebunan karet alam akan terus meningkat. Sudah dikedepankan di atas, salah satu faktor yang selama ini penghadang keinginan pihak-pihak pemangku kekuasaan guna meningkatkan produktivitas perkebunan karet alam NKRI, justru karena petani-petani pegiat perkebunan karet alam pada umumnya belum cukup, atau malah tak terdidik dalam bidang pengelolaan perkebunan karet alam. Petani-petani pegiat perkebunan karet alam terbiasa bekerja hanya dengan secara sangat tradisional. Pola tanam pepohonan karet dilakukan sembarangan alias tanpa memberikan jarak yang memadai antar pohon. Dan, parahnya lagi perkebunan karet alam senyatanya dibiarkan pemiliknya menghutan dan menua begitu saja. Di pihak petani-petani pegiat perkebunan karet alam di berbagai negara produsen karet alam pesaing NKRI, seperti Vietnam, Kamboja, Laos, yang baru mengembangkan perkebunan karet alam telah memulai teknis dan pola tanam pepohonan karet alam secara baik dari awal. India, Thailand dan Malaysia, bahkan sudah mempraktekkannya sejak puluhan tahun lalu. Srilangka setali tiga uang dengan Indonesia, Tak heran, produktivitas perkebunan karet alam NKRI dan Srilangka teramat sedikit. Ketiga, menyiapkan segala energi dan sumber daya untuk penguatan dan penajaman daya saing produksi karet alam bangsa dan NKRI di tengah pasar karet alam internasional. Aksi dan upaya itu dimaksudkan untuk merebut kembali kejayaan alam bangsa dan NKRI yang selama kurun beberapa tahun belakangan ini telah terampas perkembangan kemajuan produksi karet alam negara-negara lain. Tidak cuma dari sisi produktivitas perkebunan karet alam semata. Tapi, yang justru lebih perlu juga dari sisi kualitas produksi. Pengalaman pahit bangsa dan NKRI terkait perkebunan tebu yang merupakan bahan baku utama produk gula, harus dicegah agar kelak nanti tidak pula disusul perkebunan karet alam. Sejarah mencatat, hancur-punahnya perkebunan tebu bangsa dan NKRI, lebih karena kalah berkompetisi dengan kontinuitas produksi dan kualitas produksi tebu dari negara-negara penghasil tebu lainnya, yakni Brasil, India dan RR-Tiongkok . Kurangnya inovasi terhadap perkebunan tebu bangsa dan NKRI, merupakan sebabnya yang serius. Bangsa dan NKRI sangat berpeluang besar untuk memperluas, sekaligus meningkatkan produktivitas perkebunan karet alam, Soalnya, bukan saja ketersediaan lahan yang cocok untuk tanaman pepohonan karet masih cukup luas di daerah-daerah kawasan Sulawesi dan Papua. Iklim tropis NKRI turut pula menunjang. Ketimbang Srilangka, Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Malaysia, bangsa dan NKRI sesungguhnya lebih beruntung. Jika negara-negara yang disebutkan itu akan terus berambisi memaksakan diri memperluas perkebunan karet alamnya, bukan mustahil menimbulkan masalah lain, mengingat wilayahnya yang lebih kecil. Di pihak lain, petani-petani pegiatnya dan NKRI tidak perlu beragu-ragu memperluas, meremajakan dan atau untuk meningkatkan produktivitas perkebunan karet alamnya. Juga, menguatkan daya saing kualitas dan harga, demi guna menarik minat pasar internasional terhadap ekspor karet alam kering, yang pada era mendatang pasti kian besar. Prediksi itu bukan tanpa alasan. Salah satu indikasi yang menjelaskan akurasi prediksi tersebut adalah kebutuhan karet alam kering dunia dari waktu ke waktu pasti akan terus meningkat. Itu, karena kian melimpahnya kebutuhan karet alam kering sebagai bahan baku utama dan atau bahan penolong bagi produksi berbagai jenis ban kendaraan bermotor, onderdil-onderdil tertentu segala permesinan, dan peralatan-peralatan atau perkakas-perkakas lain. Penyebabnya, pertumbuhan industri dan produksi mobil atau kenderaan bermotor, termasuk industri permesinan dan bermacam peralatan yang terus semakin menaik. Betul, perkembangan produksi karet sinthetis tak urung turut kian meroket. Namun, jangan lupa peranan karet alam bagi kemajuan dunia industri produk berbagai jenis ban kenderaan bermotor, onderdil-onderdil permesinan dan peralatan-peralatan lain berbahan baku dan berbahan penolong karet alam, masih sulit digantikan dengan karet sinthetis. Dalam konteks hendak mengambil peranan sentral di tengah pasar karet alam internasional yang kian meningkat, bangsa dan NKRI sejatinya tidak bersikap menunggu bola. Seluruh pihak yang berkepentingan, yakni pemangku kekuasaan, dan organisasi-organisasi perkaretan alam nasional seperti Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) dan Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) harus secepatnya menata kembali perkebunan-perkebunan karet alam yang tersebar di berbagai wilayah NKRI. Jika masih berleha-leha juga, nestapa perkebunan karet alam bangsa dan NKRI bukan sesuatu yang mustahil. Siap ? ***

Related posts