Indeks Anjlok, Saatnya Borong Saham Unggulan

SEKTOR PERBANKAN DAN KOMODITAS MASIH MEMIKAT

Kamis, 11/08/2011

Jakarta – Fluktuasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa hari ini hingga merosot 200 poin pada pekan lalu, sebagai dampak kepanikan pelaku pasar yang secara masif melakukan aksi jual bersih merespon ketidakpastian krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa. Ini seharusnya pelaku pasar dapat memanfaatkan situasi tersebut, bukan bersikap panik dan latah menjual bersih portofolio saham. Karena ini momen tepat untuk mengoleksi saham-saham unggulan yang berprospek jelas.

NERACA

Analis Mega Kapital Sekuritas Felix Sindhunata mengatakan, di saat kondisi pasar modal sedang buruk. Maka yang diperlukan bagi pelaku pasar adalah kejelian dalam membeli saham sektor apa saja. “Kejelian dan pertimbangan matang adalah diperlukan dalam investasi pasar modal dan bukan sekedar aksi ambil untung semata,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (10/8).

Menurut dia, beberapa sektor saham yang dinilai masih aman dari pengaruh krisis jangka waktu panjang adalah sektor yang berorientasi pasar domestik seperti sektor consumer, “Risiko market sebetulnya masih tinggi, namun sektor yang masih bisa bertahan lama itu sektor consumer, bank, dan grup Astra semua masih baik. Karena sektor-sektor tersebut risikonya minim karena orientasi ke domestik," jelas Felix.

Kemudian dia mengingatkan, sektor-sektor yang cukup rawan untuk diperdagangkan adalah sektor komoditas. Kendatipun saham berbasis komoditas lebih rawan terhadap risiko global. Namun besarnya risiko di sektor komoditas disebabkan karena sektor tersebut sangat terpengaruh oleh pasar global. “Mereka benchmark jual, pakai harga benchmark di pasar global, kalau harga drop otomatis pengaruh ke penjualan. Belum lagi kalau harga jual turun, deman juga turun. Lain halnya dengan kinerja saham yang berorientasi domestik, penjualan mereka relatif baik karena pengaruh kekacauan di pasar global terhadap daya beli hampir tidak signifikan," ujarnya.

Untuk saat ini, melihat kondisi pasar sedang negatif, seharusnya investor tak terpengaruh. Pasalnya, para pelaku pasar saat ini memang dituntut secerdik mungkin dalam mengamati pergerakan pasar. "Langkah investor tidak terlalu terpengaruh. Investor bisa beli, tidak terlalu pusing dengan market timing," tutur Felix

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal Yanuar Rizki, terpuruknya pergerakan saham dalam negeri menjadi momok menakutkan bagi investor asing yang hanya mencari untung jangka pendek. Maka untuk mengimbangi pelemahan indeks BEI, investor lokal bisa mengkoleksi saham-saham yang mahal. “Para investor jangan terlalu takut dengan keadaan seperti itu, karena bila mereka semua takut dan segera menjual saham-sahamnya bakal menyebabkan lebih anjloknya indeks dalam negeri,”paparnya

Baik Yanuar dan Felix, keduanya sepakat pelaku pasar bisa memanfaatkan kondisi harga saham yang murah ini untuk di beli. Salah satunya, sektor perbankan yang dinilai memiliki prospek bagus, disamping sektor pertambangan dan energi. Selain itu, saham di sektor transportasi juga bisa masuk hitungan untuk dibeli.

Lima Sektor

Sebelumnya, tim analis Trimegah Sekuritas merekomendasikan pelaku pasar dan investor untuk memiliki lima sektor saham yang diyakini berprospek dan tanggung ditengah terpuruknya indeks dalam negeri. Alasannya, kelima sektor saham tersebut menjadi pendorong roda perekonomian nasional. Ke lima sektor tersebut adalah perbankan, batubara, crude palm oil, metal dan ritel.

Menurut Direktur Utama PT Trimegah Securities Omar S. Anwar, sejatinya, pelaku pasar bisa memiliki alternatif investasi saham di lain sektor dan saham yang masih gurih adalah di lima sektor tersebut. Bahkan, membaikya sejumlah indikator makro ekonomi di Indonesia akan menjadi penopang pertumbuhan ke lima sektor bisnis tersebut. “Kelima sektor tersebut punya potensi untuk terus tumbuh dan hal ini menjadi panduan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi,”ujarnya.

Menurut analis Trimegah Hanel Tania, alasan pelaku pasar layak membeli saham sektor perbankan karena pertumbuhan ekonomi serta peningkatan penghasilan akan memicu potensi investasi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Terlebih,perbankan sebagai pendukung jalannya roda perekonomian akan diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi yang disebabkan perbaikan struktur demografi ke depan. “Valuasi yang relatif tinggi akan membuat saham sektor perbankan akan memberikan return yang sejalan dengan peningkatan keuntungan tahunan,”ujarnya.

Dia merekomendasikan, saham yang layak di beli pada sektor ini adalah BBNI, BMRI dan BBCA dengan pertimbangan ketiga bank tersebut merupakan bank yang miliki kapasitas untuk dukung pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi ataupun investasi.

Selanjutntya, sektor batubara yang akan memberikan keuntungan investasi saham setelah sektor perbankan. Alasannya, permintaan batubara dari Cina dan India akan terus memakan habis batubara dunia dan Indonesia dinilai negara penghasil batubara terbaik untuk memanfaatkan momen pertumbuhan industri batubara global ke depan. “Harga batubara dunia akan terus merangkak naik, karena tidak seimbangnya permintaan dan penawaran akan membuat harga batubara berada di atas US$ 100 per ton hingga 2014,”ungkap analis Trimegah Sekuritas Andrian Tanuwidjaja.

Dia juga merekomendasikan saham sektor metal. Salah satunya, saham PT Timah Tbk (TINS). Pasalnya, perseroan memiliki katalis bottom up yang paling signifikan untuk mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan di masa depan.

Kemudian terakhir adalah sektor retail dengan penjelasan, pertumbuhan kelas menengah Indonesia akan menjadi katalis utama pertumbuhan jangka panjang perusahaan ritel. “Kami mengekspektasikan sektor retail akan terus diperdagangkan pada valuasi premium,”papar Paul Raymond Widjaja analis Trimegah Sekuritas. iwan/salim/bani