Membangun Kemandirian Dengan Energi Bersih - Inovasi PGN Untuk Pemanfaatan Gas

NERACA

Jakarta - Berkembang pesatnya industri dalam negeri menjadi kabar positif akan laju pertumbuhan ekonomi terus tumbuh, namun disatu sisi menjadi tantangan besar bagaimana memenuhi kebutuhan energi terhadap industri dalam negeri. Pasalnya, pasokan energi menjadi peran penting terhadap daya saing industri nasional yang ujungnya akan membawa dampak besar terhadap roda perekonomian Indonesia. Maka tidak heran, jika saat ini wacana ketahanan energi nasional menjadi isu utama bagaimana pemerintah menyediakan dan memenuhi pasokan energi bagi industri. Terlebih, pelaku industri dihadapkan tantangan persaingan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 mendatang.

Menurut studi Indonesia Energi Outloook periode 2010-2030, permintaan energi secara keseluruhan diperkirakan tumbuh rata-rata 5,6% per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, pada tahun 2030 pangsa permintaan energi akan didominasi oleh sektor industri (49%), diikuti oleh transportasi (29%), rumah tangga (15%), komersial (4%) dan pertanian, konstruksi dan pertambangan (3%). Sementara versi Kementerian ESDM memprediksi energi yang dibutuhkan tahun 2025 sebesar 406,15 MTOE. Terus meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri tiap tahunnya menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk memenuhi pasokan energi dan menemukan energi terbarukan, khususnya energi bersih dan ramah lingkungan. Tantangan lainnya adalah, bagaimana menciptakan sebuah keseimbangan yang baik antara kepentingan nasional dengan kepentingan investor

Wakil Presiden Boediono mengatakan, energi baru terbarukan merupakan energi yang mempunyai peran besar pada masa yang akan datang. Pasalnya energi ini bakal menjadi penopang pemenuhan defisit energi nasional yang terus membelenggu negeri ini. Oleh karena itu pengembangan energi terbarukan harus optimal guna pencapaian yang lebih maksimal.

Menurutnya, energi terbarukan baru terbarukan merupakan satu-satunya jaminan yang akan dimiliki Indonesia dimasa yang akan datang,”Minyak bumi kita mengalami penurunan kapasitas, gas dan batu bara juga akan mencapai limitnya, karena suplai terbatas di perut bumi, maka dari itu kita harus terus mengmbangkan energi baru terbarukan,”katanya.

Tuntutan mengembangkan energi baru terbarukan, menjadi sesuatu yang mendesak dilakukan lantaran penggunaan bahan bakar minyak (BBM) selama ini menjadi beban anggaran pemerintah karena membengkaknya subsidi seiring meningkatnya penggunaan kendaraan dan industri. Hal ini tidak sebanding, dengan produksi lifting pemerintah yang justru terus menurun.

Menjawab kelangkaan energi, maka transformasi penggunaan energi dari BBM ke gas menjadi sebuah solusi dan mutlak dilakukan. Apalagi Indonesia memiliki cadangan gas bumi cukup besar sehingga bisa menjadi alternatif sumber energi pengganti BBM. Tahukah bahwa cadangan gas bumi di Indonesia diperkirakan sekitar 178 TSCF (trillion standard cubic feet/triliun standar kaki kubik) dengan reserve to production ratio sekitar 50 tahun. Oleh karena itu pemanfaatan gas bumi harus dimaksimalkan demi mempercepat kemakmuran rakyat karena merupakan energi murah dan ramah lingkungan.

Optimalisasi Infrastrukur

Keseriusan pemerintah mengkampanyekan energi gas, direspon positif PT Perusaan Gas Negara Tbk (PGAS). Bak gayung bersambut, hal ini menjadi potensi pasar yang menjanjikan lantaran permintaan gas yang terus meningkat. Karena itu, perseroan terus mengoptimalkan infrastruktur dalam melayani permintaan gas kepada konsumen baik industri, transportasi atau rumah tangga.

Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Hendi Prio Santoso mengatakan, pihaknya mendukung program pemerintah dalam konversi BBG untuk transportasi,”Tentunya kami kedepannya tidak bisa berjalan sendiri, perlu dukungan pemerintah dan kerja sama seluruh stakeholder untuk penggunaan BBG yang lebih ekonomis, aman dan ramah lingkungan,”ujarnya.

Memiliki pengalaman dan kemampuan dalam pemanfaatan gas bumi, menjadi alasan pemerintah mengandalkan PGN untuk mensukseskan transformasi energi dari BBM ke gas. Oleh karena itu, perseroan terus bersinergi dengan seluruh kepentingan dan pemain bisnis hilir gas bumi. Langkah ini sangat strategis dalam kerangka memperluas jaringan infrastruktur gas untuk memaksimalkan pemanfaatan gas bumi.

Maka tidak heran, saat ini PGN agresif mengembangkan ekspansi bisnis dan termasuk pemasangan infrastruktur. Belum lama ini, perseroan meluncurkan program PGN Sayang Ibu yang merupakan program pemasangan satu juta sambungan gas rumah tangga di seluruh Indonesia. Kata Hendi, program PGN Sayang Ibu diluncurkan untuk mempercepat penyaluran gas bumi ke rumah tangga. “Untuk memperkuat ketahanan energi nasional, pemanfaatan gas bumi merupakan solusi yang paling tepat. Sebagai energi baik, gas bumi sangat aman, murah dan ramah lingkungan, sangat cocok untuk energi keluarga Indonesia,”paparnya.

Asal tahu saja, hingga saat ini PGN telah membangun 6000 km pipa gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia dan memiliki lebih dari 91.000 pelanggan. PGN juga telah membangun infrastruktur gas bumi lainnya seperti Floating Storage Regatification Unit (FSRU) dan Mobile Refueling Unit (MRU) untuk mendukung konversi BBM ke gas bumi bagi industri dan sektor transportasi. Tiga MRU ditargetkan dapat beroperasi di DKI Jakarta.

Selain itu, PGN juga tengah menyelesaikan pembangunan FSRU di Lampung untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, komersial dan rumah tangga di wilayah tersebut. Pembangunan FSRU ini ditargetkan selesai tahun 2014 dan mulai beroperasi di awal tahun 2015. FSRU Lampung tersebut akan mendapatkan alokasi gas sebanyak 18 kargo yang dimulai tahun 2016.

Sementara pembangunan pipa gas Cikande-Bitung sepanjang 30 km proses konstruksinya lebih dari 90%. Pipa gas ini merupakan bagian dari proyek South Sumatera West Java (SSWJ) tahap I. Melalui pembangunan pipa ini diharapkan akses industri di wilayah Banten untuk mendapatkan gas bumi akan lebih mudah.

Disamping itu, tahun ini perseroan menggelontorkan investasi Rp 260 miliar untuk ekspansi penyebaran gas melalui pembangunan 16 SPBG. Dari total 16 SPBG yang direncanakan, 12 di antaranya akan dibangun di Jawa Barat, 3 di Jawa Timur, serta 1 SPBG di Riau. Bahkan ntuk memperkuat jaminan pasokan gas bumi nasional, PGN melalui anak perusahaannya yaitu Saka Energi Indonesia (SEI) juga melakukan serangkaian aksi korporasi dengan membeli blok-blok migas dari perusahaan asing untuk meningkatkan ketersediaan pasokan gas bumi nasional.

Misalnya, mengakuisisi 30% hak partisipasi di PSC Bangkanai (Kalimantan) senilai US$ 27 juta. PGN juga membeli 20% hak partisipasi di PSC Ketapang (Madura) senilai US$ 71 juta. Saka Energi kembali mengakuisisi 25% hak pastisipasi di PSC Pangkah (Madura) sebesar US$ 265 juta. Secara total, PGN menghabiskan dana senilai US$ 363 juta untuk hak partisipasi dari 3 blok migas yang diakuisi tersebut. Diharapkan dengan optimalisasi pemanfaatkan gas, Indonesia makin mandiri dan tidak lagi bergantung pada asing. (bani)

Related posts