Sektor Perikanan Dinilai Mampu Tekan Inflasi

NERACA

Sukabumi - Ditengah meroketnya harga kebutuhan pangan nasional seperti daging dan telor, ikan merupakan salah satu komoditas pangan yang digadang-gadang menjadi salah satu komoditas ketahanan pangan. Selain itu sektor perikanan disinyalir mampu menekan laju inflasi nasional karena lebih banyak masyarakat kini beralih mengkonsumsi ikan dari pada daging.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto menuturkan komoditas perikanan ini disamping menjadi salah satu komoditas ekspor, perikanan juga menjadi salah satu andalan sektor ketahan pangan. Mengingat saat ini daya beli masyarakat terhadap ikan sangat tinggi karena harga kebutuhan pokok seperti daging dan telor mahal. Maka dari itu, korelasinya sangat kentara jika memang sektor perikanan merupakan salah satu yang mampu menekan inflasi. "Kontribusi terhadap inflasi memang ada, karena kini masyarakat yang biasa mengkonsumsi daging pada beralih ke ikan," katanya saat ditemui setelah mebuka acara Temu Koordinasi dan Sinergitas Program UPT Budidaya Air Tawar Lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang mengangkat tema "Memantapkan Peran UPT Budidaya Air Tawar Lingkup DJPB Dalam Penyediaan Induk Unggul, Benih Bermutu, Pengendalian Penyakit Ikan Untuk Mendukung Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya" di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/6).

Oleh karenanya mengingat permintaan yang sangat tinggi maka tentunya perlu diimbangi dengan peningkatan produksi terutama komoditas ikan seperti ikan bandeng, lele, nila, patin, gurame, ikan mas karena ini merupakan komoditas yang memang lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan harganya relatif terjangkau untuk semua kalangan. "Selain harganya yang murah, kandungan gizi dari ikan baik untuk kesehatan masyarakat. Oleh karenanya produksinya harus terus ditingkatkan," imbuhnya.

Selain itu juga, sambung Slamet lagi bukan hanya untuk konsumsi, sektor perikanan terutama budidaya juga dapat menjadi kegiatan yang bisa meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Oleh karenanya arah kebijakan dari pemerintah bukan hanya mengajak masyarakat Indonesia agar mengkonsumsi ikan, tapi juga merangsang masyarakat agar mau berbudidaya ikan sebagi wujud peningkatan produksi sehingga kebutuhan pasokan makan nasional bisa tercukupi. "Imporsasi kebutuhanan makanan masih tinggi, maka dari itu kami ingin mengajak masyarakat bukan hanya mengkonsumsi tapi juga berbudidaya sebagai langkah strategis guna pencapaian ketahanan pangan nasional," tegasnya.

Dan untuk merangsang masyarakat tentu saja upaya kami dari pemerintah yaitu dengan membuat program seperti demfarm atau percontohan untuk menyakinkan masyarakat agar mampu menjadi magnet sehingga memunculkan keinginan masyarakat untuk berbudidaya ikan. "Program yang terus digulirkan adalah tentu saja membuat tambak percontohan atau mengaktifkan kembali tambak-tambak idol. Caranya tentu dengan mengoptimalkan peran balai-balai perikanan terutama budidaya untuk dapat mensosialisasikan dan memberikan pelatihan kepada masyarakat," paparnya.

Aplikasi teknologi sederhana

Untuk menciptakan produksi yang efektif dan efisien menurut Slamet tentu saja dibutuhkan sarana pendukung yang tidak lain adalah pemanfaatan dan aplikasi tekhnologi. Namun begitu, guna merangsang seluruh masyarakat tentu saja aplikasi tekhnologi yang diterapkan adalah tekhnologi sederhana yang bisa dengam mudah diserap oleh masyarakat. ”Peningkatan produksi budidaya air tawar yang sangat signifikan ini merupakan hasil dari penggunaan induk dan benih unggul, pakan yang sesuai dan efisien, penerapan teknologi yang aplikatif dan inovatif serta intensifikasi budidaya yang ramah lingkungan. Ini yang akan menjadi barometer untuk ditransfer kepada masyarakat agar menjadi daya tarik sehingga tergugah untuk berbudidaya ikan," ujarnya.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa intensifikasi usaha perikanan budidaya perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan budidaya. Hal ini diperlukan agar produksi ikan melalui sistem ini dapat diperoleh secara berkelanjutan. “Sebagai contoh adalah, penerapan teknologi intensif budidaya lele yang hemat lahan dan hemat air yang dapat menghasilkan 10 ton ikan dalam luasan kolam 100 meter persegi dalam waktu 2.5 bulan. Selain itu juga produksi patin dengan menggunakan sistem kolam dalam, dengan tinggi air 4 meter dapat menghasilkan 300 ton per hektar dalam waktu 6 bulan dengan tambahan penggunaan kincir. Disamping intensifikasi, usaha budidaya air tawar juga berpeluang untuk mempercepat pemasukan pendapatan melalui segmentasi usaha, mulai dari usaha pembenihan, pendederan I bahkan sampai III tahap dan juga pembesaran. Sehingga usaha budidaya air tawar ini sangat cocok untuk memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” tandasnya. [agus]

Related posts