Penjualan Produk TMS Menurun

Jakarta – Hasil penjualan produk PT Tembaga Mulia Semanan (TMS) Tbk. tahun 2013 hanya mencapai US$ 634 juta, atau menurun 8,5% dibandingkan penjualan tahun 2012.

Menurut Dirut TMS Masao Terauchi, total penjualan batangan kawat tembaga di tahun lalu sedikit mengalami menurun atau hampir 6,5% kurang dari target yang telah ditetapkan sebelumnya. “Penurunan ini terjadi disebabkan permintaan akan produk kabel tembaga dan produk lain yang berkaitan, melemah di pasar domestik terutama dalam 3 bulan terakhir di semester kedua,” ujarnya dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) perseroan tersebut di Jakarta, Rabu (4/6).

Terauchi mengakui, secara kuantitas produk utama berupa copper rod dan wire, hampir sama dengan kinerja penjualan 2012. Namun akibat pengaruh penurunan harga LME (London Metal Exchange), akhirnya berdampak pada penurunan penjualan, disamping pengaruh fluktuasi selisih kurs mata uang pada 2013 hingga US$ 4,48 juta.

Dengan demikan, menurut dia, hasil penjualan domestik untuk batangan dan kawat tembaga menurun sebesar 3.3% dibandingkan 2012 dan sekitar 9,2% lebih rendah dibandingkan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dia menjelaskam, pada awal paruh kedua tahun berjalan, perseroan sebenarnya telah mengantisipasi melemahnya permintaan dalam negeri dimana perseroan telah mengantisipasinya dengan membuka ekspor ke negara tujuan baru seperti Australia, Selandia Baru, India, dan Thailand. “Hasilnya cukup baik, dimana pada akhirnya penjualan ekspor memberikan kontribusi terhadap total penjualan tembaga. Selain itu, penjualan kawat tembaga juga meningkat 5% dibandingkan 2012,” ujarnya.

Karena itu, total penjualan batang dan kawat alumunium di tahun 2013 turun sekitar 20% dari total penjualan di tahun 2012. Hal ini juga disebabkan karena PLN sebagai pengguna kabel alumunium, berencana untuk menginvestasikan pada elektric power plant di jalur transmisi dan jalur distribusi sehingga mengalami peningkatan 28% dari realisasi tahun 2012.

Terauchi memprediksi pesta demokrasi Pilpres 2014 setidaknya akan membayangi bakal terjadinya menurunan konsumsi swasta di tengah tingkat suku bunga yang tinggi akan menekan kegiatan ekonomi di dalam negeri.

Tahun ini, menurut dia, perseroan akan mencoba berinvestasi di bidang pembuatan kawat pilin secara agresif untuk mengembangkan cakupan pelanggan yang lebih luas, yaitu tambahan investasi sekitar US$ 2,5 juta atau Rp 29 miliar. fba

BERITA TERKAIT

Pabrikan Volkswagen Cetak Rekor Penjualan di 2018

Volkswagen mencetak rekor pada 2018 dengan menjual 6,24 juta kendaraan bermerek VW, terlepas dari masalah pengiriman yang disebabkan oleh aturan…

PTBA Targetkan Penjualan Ekspor 12 Juta Ton

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2019, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menggenjot pertumbuhan pendapatan dari penjualan ekspor batu bara.…

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal NERACA Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Transaksi Sepekan Tumbuh 1,47%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin ditutup dengan peningkatan sebesar…

Luncurkan Transaksi GOFX - BKDI Incar Transaksi US$ 200 Juta Perhari

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan transaksi industri bursa berjangka, Indonesia Commodity & Derevatives Exchange (ICDX) atau PT Bursa Komiditi Derivatif…

BEI Optimis Target 100 Emiten Baru Tercapai

NERACA Jakarta – Penuhi tantangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menargetkan jumlah perusahaan yang melaksanakan penawaran umum saham perdana atau…