Bisnis Alat Berat United Tractor Lebih Konservatif - Imbas Penurunan Pasar Tambang

NERACA

Jakarta – Industri pertambangan menjadi tumpuan utama bagi kinerja emiten alat berat, maka tat kala pasar pertambangan mengalami penurunan harga baik itu karena cuaca ataupun pasar batubara yang turun memberikan efek langsung bagi pelaku usaha industri alat berat. Hal ini pulalah yang dirasakan anak usaha PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT United Tractor Tbk (UNTR).

Tahun ini menjadi tantangan bagi PT United Tractor Tbk, lantaran proyeksi permintaan dari sektor pertambangan dan harga komoditas yang terus bergejolak. Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan akibat dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.

Bahkan menurut Himpunan Alat Berat Indonesia, hingga akhir tahun ini produksi alat berat nasional diperkirakan mencapai 8.000 unit atau 75%. Dimana angka ini menurun dari target awal tahun sebesar 10.000 unit. Merespon kondisi tersebut, United Tractor lebih memilih angka konservatif dan termasuk penurunan angka belanja modal atau capital expenditure tahun ini dibandingkan tahun lalu. Sebagai informasi, tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$250 juta. Angka tersebut lebih rendah dari target sebelumnya yang dipatok di kisaran US$300 juta. "Kita efisiensi capex, kita alokasikan capex itu US$250. Ini lebih rendah dibanding target sebelumnya," kata Wakil Presiden Direktur sekaligus Direktur Keuangan UNTR Gideon Hasan.

Hal tersebut menyusul proyeksi akan adanya penurunan dari penjualan alat berat dari komposisi penjualan tambang yang selama ini mendominasi sebagian besar pendapatan perseroan. "Hingga kuartal pertama 2014 porsi dari pendapatan pertambangan terhadap volume penjualan kami memang kian berkurang,” katanya.

Adapun sumber pendanaannya, sambung dia, seluruhnya berasal dari kas internal perseroan. Pihaknya mencatat, hingga Maret 2014 anggaran belanja modal yang dikeluarkan perseroan masih minim. Diperkirakan, dana belanja modal akan terserap lebih banyak di kuartal ketiga 2014, yang sebagian besar digunakan untuk heavy equipment replacement.

Sementara itu, Presiden Direktur UNTR Djoko Pranoto mengatakan, perusahaan memang telah memperkirakan permintaan alat berat nasional di tahun ini akan stagnan sebanyak 10.500 unit. Pada periode Januari-Maret 2014, pihaknya mencatat penjualan alat berat merek "Komatsu" sebanyak 1.211 unit, turun 4,8% dibandingkan periode sama tahun lalu yang 1.272 unit.

Untuk itu, fokus perseroan di tahun ini akan lebih kepada peningkatan pangsa pasar (market share) bukan memacu volume penjualan. Hingga Maret 2014, perseroan mencatat menguasai pangsa pasar 42,3% dari total penjualan alat berat nasional. “Ditagetkan market share bisa mencapai 43% di 2014, lebih tinggi dari tahun lalu yang 41%," ucapnya.

Laba Masih Tumbuh

Sementara untuk kinerja kuartal pertama, perseroan membukukan laba bersih Rp 1,58 triliun, naik 40% dibandingkan periode sama 2013 yang Rp 1,13 triliun.Hal ini didorong kenaikan pendapatan UNTR sebesar 12% year-on-year (yoy) menjadi Rp 13,9 triliun di tiga bulan awal 2014. Bisnis kontraktor penambangan menjadi penopang utama dengan menyokong 58% total pendapatan UNTR.Bisnis mesin konstruksi menjadi kontributor terbesar kedua, yakni 32% dari pendapatan UNTR. Sementara bisnis pertambangan batubara menyumbang 10% dari total pendapatan anak usaha Grup Astra tersebut.

Dengan pencapaian itu, laba bersih per saham UNTR turut terkerek menjadi Rp 423 dari kuartal I tahun lalu yang Rp 303. Tahun 2013, laba bersih UNTR mencapai Rp 4,83 triliun, turun 16% dibandingkan 2012 yang senilai Rp 5,78 triliun. Kinerja negatif laba bersih terjadi seiring turunnya pendapatan perseroan sebesar 9% menjadi Rp 51,01 triliun dari tahun sebelumnya yang Rp 55,95 triliun. Meski demikian, perseroan masih membagikan dividen tunai tahun buku 2013 Rp 515 per saham senilai total Rp 1,92 triliun. Nilai tersebut mencerminkan rasio pembayaran dividen senilai 40% dari laba bersih 2013. (bani)

Related posts