Isu Tentang Pancasila Di Tahun Politik - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Mantan Rektor UIN Malang

Dulu banyak pemimpin yang menggelorakan bahwa Pancasila adalah cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara. Disebut sebagai cita-cita oleh karena, tatanan kehidupan yang diwarnai oleh niai-nilai Pancasila adalah amat ideal. Mungkin nilai-nilai itu, oleh karena sedemikian indahnya, tidak akan pernah secara sempurna bisa berhasil diwujudkan oleh bangsa Indonesia sendiri.

Sebagai cotoh, bahwa sila ke lima dari Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Betapa indahnya tatanan kehidupan bangsa dan negara ini manakala terwujud cita-cita yang dimaksudkan di dalam Pancasila, ialah mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Padahal sekarang ini, walaupun sudah merdeka sekian lama, keadaannya justru sebaliknya, yakni masih terdapat jarak atau kesenjangan sosial yang semakin lebar.

Bukti tentang kesenjangan itu tidak perlu dicari ke desa, yakni di wilayah yang sulit dijangkau, sebab di kota-kota dan bahkan di ibu kota sendiri saja tampak amat jelas. Di kanan kiri sepanjang jalan raya di Jakarta, siapapun bisa melihat, terdapat rumah-rumah mewah, dan bahkan bangunan menjulang ke langit, namun di sampingnya terdapat rumah-rumah kumuh yang tidak layak dihuni manusia. Masih di kota, terdapat mobil-bobil mewah berseliweran, tetapi terdapat pula ratusan orang berdiri di pinggir jalan, mereka mencari nafkah dengan menjadi joki bagi mobil yang harus berpenumpang sedikitnya tiga orang.

Kenyataan seperti tersebut itu juga sama dengan implementasi sila pertama dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Semestinya sebagai seorang yang mengaku ber-Tuhan, maka sehari-hari harus menjalankan agamanya sebaik-baiknya. Masyarakat yang beragama dengan baik selalu mengenal kitab sucinya, tempat ibadahnya, dan tokoh atau pemuka agamanya masing-masing. Selain itu, sebagai seorang yang beragama, seharusnya mampu menjaga dirinya untuk tidak berbuat aniaya, dan sebaliknya, selalu melakukan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya.

Selain itu, masyarakat yang diwarnai oleh nilai-nilai agama, tentu akan menunjukkan sifat-sifat mulia, seperti kasih sayang dengan sesamanya, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, saling memahami, menghormati, dan selanjutnya terjadi saling tolong menolong untuk kebaikan bersama.Demikian pula, sebagai seorang yang memiliki kualitas keberagamaan, maka seharusnya di antara sesama saling mengingatkan atas kebaikan dan selalu membangun sifat-sifat mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula sila-sila lainnya, tampak sedemikian indah dan apalagi umpama berhasil diimplementasikan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, di tahun politik 2014 ini, para calon pemimpin bangsa di berbagai level, ------baik yang berada di legislatif maupun eksekutif, tidak banyak yang peduli dan menjadikannya sebagai sesuatu yang akan diperjuangkan. Seolah-olah Pancasila dianggap tidak laku atau tidak memiliki daya tarik untuk digunakan sebagai bahan kampanye. Padahal Pancasila telah lama dijadikan sebagai dasar negara dan cita-cita bangsa ini.

Aneh, Pancasila di tahun politik, 2014 ini tidak terlalu menggema. Memang ada di antara mereka yang menyebut-nyebut falsafah bangsa Indonesia itu, tetapi terasa kurang menggelora. Banyak caleg atau mungkin nanti juga capres dan cawapres di dalam berkampanye sekedar mengisukan hal-hal yang bersifat teknis, misalnya tentang perbaikan kehidupan ekonomi, demokrasi, keterbukaan, pemberantasan korupsi, perluasan lapangan pekerjaan, dan sejenisnya. Padahal sesuatu yang bersifat teknis akan berkembang dan dicapai dengan sendirinya manakala aspek-aspek yang mendasarinya telah jelas dan kokoh.

Telah diyakini bersama, bahwa segala kemajuan yang berhasil diraih, tanpa didasari oleh nilai-nilai luhur, maka hasil itu tidak akan memberi makna besar bagi kehidupan. Nilai-nilai luhur itu bagi bangsa Indonesia, adalah berada pada Pancasila. Maka semestinya, oleh karena posisinya sedemikian mendasar itu, maka nilai-nilai luhur itu seharusnya tidak boleh dianggap sederhana, dan juga tidak boleh dilupakan oleh siapapun, lebih-lebih oleh para pemimpinnya. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts