Ekspor Indonesia ke Inggris Makin Positif - Kemendag Gencarkan Diplomasi Dagang

NERACA

Jakarta – Indonesia kerap kali mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan terhadap produk-produk Indonesia yang di ekspor ke Inggris. Salah satunya ada kopi luwak dari Indonesia yang dilarang dijual di pertokoan bergengsi di London bernama Harrods. Para aktivis kesejahteraan hewan menilai bahwa kopi luwak diproduksi dengan cara kurang baik sehingga kopi luwak dilarang diperjualbelikan di Harrods.

Maka dari itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi melakukan diplomasi dagang. Pihaknya memfasilitasi untuk berkunjung ke Indonesia untuk melihat secara langsung proses produksi kopi luwak. Hasilnya adalah, Harrods memilih berkunjung ke Tekongan, Aceh. “Kini pertokoan di Harrods telah menjual kopi luwak Indonesia. Penjualan kopi luwak Indonesia di Harrods memang belum terlalu banyak, hanya beberapa kuintal per bulan, namun hal ini telah memberi posisi yang positif bagi produk Indonesia,” ucap Bayu dalam keterangan resmi yang diterima, kemarin.

Tidak hanya kopi luwak, diplomasi dagang di London tersebut juga telah memberikan hasil yang positif terutama mengenai Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Pasalnya semenjak diterapkan SVLK membuat ekspor kayu dari Indonesia semakin meningkat. “Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sudah mulai menunjukkan dampak positif terhadap ekspor produk kayu Indonesia. Salah satunya adalah peningkatan ekspor pintu kayu dari Semarang dan Kudus,” jelas Wamendag.

Bayu juga menyampaikan bahwa sampai akhir tahun 2013, ekspor pintu kayu mencapai 10.000-13.000 pintu per minggu. Setelah SVLK, ekspor pintu kayu hingga Mei 2014 meningkat menjadi 13.000-15.000 per minggu. Ekspor pintu kayu ini diproyeksikan mencapai 20.000 pintu per minggu di awal 2015. “Menurut importir kayu yang kami temui di sana, satu dari tiga pintu yang dijual di London itu buatan Indonesia,” imbuhnya.

Produk-produk furnitur Indonesia yang dimanufaktur di Jepara dan Semarang dijual di toko-toko furnitur terkemuka Inggris. “Importir produk-produk furnitur tersebut mengatakan bahwa telah terjadi pertumbuhan permintaan sebesar 15%-20% terhadap produk furnitur Indonesia dan diproyeksikan akan naik 50% dalam 1-2 tahun ke depan, antara lain dikarenakan reputasi Indonesia yang membaik dengan adanya SVLK,” ungkap Wamendag.

Dilanjutkan Bayu, diplomasi dagang ini juga berhasil memperoleh buyer untuk produk-produk kelapa Indonesia, khususnya air kelapa, santan, dan produk kelapa lain. Rencana pembelian oleh importir Inggris tersebut tidak hanya untuk memenuhi pasar di Inggris, tetapi juga untuk pasar Eropa secara keseluruhan. Diplomasi dagang lainnya akan dilakukan pada 4 Juni 2014 pada sidang tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diselenggarakan di London.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris pada Maret 2014 naik menjadi US$131,4 juta. Dibandingkan bulan sebelumnya yang US$129,5 juta, naik tipis sebesar US$1,9 juta atau 1,46%. Data terkini BPS juga menunjukkan pada periode Januari-Maret ekspor nonmigas Maret mencapai US$398,7 juta. Angka ini lebih baik ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar US$383,1 juta. Dengan demikian ada kenaikan US$15,6 juta atau 4,07%.

Di sisi lain, BPS mencatat impor nonmigas dari Inggris justru turun. Pada Maret hanya impor nonmigas dari Inggris hanya US$72,3 juta. Padahal pada April tercatat US$76,2. Dengan demikian telah terjadi penurunan US$3.90 atau 5,11%. Impor nonmigas periode Januari-Maret secara total mencapai angka US$225,3. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$253,2 juta, impor nonmigas dari Inggris turun US$27,9 juta atau 11,01%.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Putra Ratu Elizabeth Pengeran Andrew menginginkan bahwa antara Indonesia dengan Inggris berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan barang dan jasa kedua negara pada tahun 2015 ke angka US$7 miliar atau setara dengan Rp80,4 triliun. “Hubungan ini merupakan kontribusi besar bagi hubungan Inggris dan Indonesia di berbagai bidang terutama sektor perdagangan di mana kedua negara telah menyepakati target untuk menggandakan nilai perdagangan hingga 4,4 miliar Pound Sterling di 2015,” ujar Duta Besar Inggris untuk RI, Mark Canning.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menyatakan bahwa pentingnya untuk meningkatkan potensi pada sektor infrastruktur di Indonesia di antaranya pada sistem saluran air dan pembuangan, pelabuhan, rel, bandar udara, energi dan komunikasi. Minat sektor swasta di Inggris kepada Indonesia dengan melihat tingkat kekuatan ekonomi di Asia yang sedang berkembang, dengan tingkat konsumsi yang meningkat dan termasuk populasi generasi muda yang besar. “Investasi Inggris di Indonesia pada sektor barang konsumer, paramedik, kesehatan dan jasa keuangan,” jelas dia.

Related posts