Tower Bersama Jual Hasil Buyback Saham

NERACA

Jakarta - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan mengalihkan sebanyak 78,71 juta lembar saham hasil pembelian kembali (buyback) yang telah dilakukan perseroan. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Direktur PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Helmy Yusman Santoso mengatakan, saham-saham tersebut akan dialihkan dengan cara menjualnya melalui perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI),”Pelaksanaan penjualan saham melalui BEI akan kami lakukan sekurang-kurangnya 14 hari sejak keterbukaan informasi ini kami sampaikan," ujarnya.

Helmy menambahkan, pihaknya telah menunjuk PT CLSA Indonesia sebagai perusahaan efek yang akan membantu perseroan dalam melakukan penjualan saham hasil buyback tersebut. Terkait dengan harga penjualan saham, Helmy mengungkapkan bahwa harga saham tersebut tidak boleh dijual lebih rendah dari harga rata-rata pada saat perseroan melalukan pembelian kembali.

Dia menambahkan, nantinya penjualan tidak boleh lebih rendah harganya dari harga penutupan perdagangan harian di BEI sehari sebelum tanggal penjualan saham atau harga rata-rata dari harga penutupan perdagangan harian di BEI selama 90 hari terakhir sebelum tanggal penjualan atau mana yang lebih tinggi.

Sebagai catatan, tahun lalu perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp2,69 triliun atau meningkat 56,4% dibandingkan tahun sebelumnya Rp1,72 triliun. Sementara laba bersih yang dapat diatribuskan kepada pemilik entitas induk meningkat 48% menjadi Rp1,25 triliun dibanding 2012 senilai Rp841,94 miliar. Kata CEO PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Hardi Wijaya Liong, pihaknya juga bertumbuh sebanyak 2.985 penyewaan secara organik. Di mana penambahan ini termasuk penambahan 1.811 menara telekomunikasi.

Menurutnya, hal ini menunjukkan kapabilitas perseroan dalam pemenuhan permintaan dalam jumlah besar dari pelanggan. Perseroan juga berhasil mendiversifikasikan sumber pendanaan melalui penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS dan rupiah, sehingga meningkatkan fleksibilitas sumber pendanaan untuk mendanai belanja modal serta memenuhi kewajiban pinjaman.

Sebagai informasi, EBITDA perseroan mencapai Rp2,205 triliun untuk periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013. EBITDA tersebut meningkat 58% dibandingkan periode sama 2012. Marjin EBITDA perseroan juga meningkat menjadi 82% pada akhir 2013 dibandingkan dengan akhir 2012 sebesar 81,5%.

Tercatat per 31 Desember 2013, total pinjaman (debt) TBIG, jika bagian pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (USD) yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya sebesar Rp11,87 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp7,96 triliun.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp854 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp11,01 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) perseroan menjadi Rp7,11 triliun. Rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA kuartal IV yang disetahunkan adalah 2,94x dan rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA kuartal IV yang disetahunkan adalah 4,55x. Itu berarti TBIG masih mempunyai ruang untuk pendanaan lebih lanjut berdasarkan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman perseroan serta obligasi berdenominasi dolar AS dan rupiah. (bani)

Related posts